Tag Archives: Sosial

Melahirkan Jelang Ikut Tes CPNS

1 Des

9-tan-malaka

 

 

 Niat Dewi Yuliani (24) dan Neli Apriani (26) untuk menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) luar biasa besarnya. Kedua ibu rumah tangga itu mengikuti tes CPNS di lingkungan Pemkab Pandeglang dengan nasib berbeda meski dengan niat yang sama-sama kuat.

Dewi Yuliani mengikuti tes dalam kondisi hamil tua sehingga akhirnya gagal untuk mengisi soal-soal tes karena keburu melahirkan. Padahal kemarin Dewi sudah datang ke lokasi tes di SDN Pandeglang 4 bersama dengan suaminya. Namun sebelum tes dimulai sekira pukul 08.30 WIB, tiba-tiba Dewi merasakan perutnya mules seperti akan melahirkan. Beruntung, suaminya, cepat tanggap dan buru-buru membawa Dewi ke sebuah klinik. Namun tidak diketahui, di klinik mana Dewi melahirkan.

Lain lagi cerita yang dialami Neli Apriani. Ibu rumah tangga muda ini lebih beruntung karena berhasil mengikuti tes lantaran sudah melahirkan pada Sabtu (29/11) lewat operasi caesar. Meski baru satu hari melahirkan, namun semangat Neli untuk menjalani tes CPNS kemarin tidak kendor.

Neli -yang mengambil formasi guru, mengisi soal-soal tes di SDN Saruni 2, Pandeglang. Dengan tangan masih diinfus, warga Kampung Karya Mukti, Desa Bama, Kecamatan Pagelaran, itu mengerjakan soal di sebuah ruangan khusus. Saat mengerjakan soal, Neli sendiri saja tetapi diawasi oleh pengawas. Bahkan ia tidak mempedulikan jepretan kamera wartawan yang terus membidiknya. Sementara di luar ruangan, sang suami bernama Sertu Solihul Huda menunggu dengan setia. (*)

 

Iklan

[Cerita Rakyat] Leher Paling Seksi

26 Mei

Tahukah Anda, siapakah yang punya leher paling seksi? Apakah Julia Robert, Tamara, Krisdayanti, atau artis lainnya…. ? hmmm… 🙂

Kalau aku sih punya penilaian sendiri, yang punya leher seksi adalah RAKYAT… ya R-A-K-Y-A-T… Ah, pasti Anda kira saya sedang becanda… Tidak, saya sedang tidak bercanda…. saya bersungguh-sungguh (walau tak bersumpah) bahwa leher rakyat itu seksi… buktinya leher rakyat selalu dianggap memikat oleh penguasa kita untuk dicekik, atau dihisap darahnya oleh ‘drakula’ penguasa… kapan saja, di mana saja, leher rakyat selalu nikmat untuk disantap sang penguasa….

Siapa sih RAKYAT?

Rakyat itu orang biasa. TITIK! Pekerjaannya aja cuma sederhana yaitu BERKORBAN. Dari jaman baheula hingga jaman ayeuna , rakyat hanya bertugas untuk berkorban. Di jaman penjajahan, rakyat berkorban mati-matian (hingga mati beneran) untuk mendapatkan kemerdekaan. Setelah merdeka, rakyat juga berkorban untuk pembangunan. Harta dan harga diri mereka sampai rela dikorbankan oleh pemerintah untuk pembangunan. saat ini, saat negara bangkrut karena APBN nggak empot-empotan menghadapi serangan tingginya harga minyak mentah, rela juga berkorban. Mereka rela subsidi BBM dikurangi, hingga harga BBM melambung tinggi. Mereka rela buat menyelamatkan kebangkrutan negara dengan pasrah membeli sembako yang semakin mahal.

Koq rakyat sih yang berkorban, kenapa tidak para pejabat yang sudah kaya raya??? Anak yang nggak lulus SD saja tahu kalau pejabat kita emang mau enaknya doang! Rakyat diminta berkorban untuk berhemat, sementara mereka menghambur-hamburkan uang. Mana mau mereka berkorban, misalnya tak lagi beli bahan bakar dengan dibiayai negara, tak lagi menjamu tamu berlebihan di hotel mewah, tak lagi dijamin dana tunjangan komunikasinya, tak lagi dijamin rumah dinasnya…..

mereka sudah sangat kelewatan, jadi jangan berharap pejabat kita itu akan berkorban… mereka itu sudah lupa diri, karena tak tahu bahwa status mereka itu adalah wakil RAKYAT atau abdi masyarakat yang seharusnya melayni masyarakat…. bukannya malah memaksa rakyat untuk terus berkorban….

Maaf, kepada para pejabat… ini hanya igauan saya! Anggap saja ini hanya cerita rakyat atau dongeng sebelum tidur saja… maklum saja leher saya tidak terlalu seksi dan kuat buat menahan pegal-pegal ini… sekarang saya mau tidur dulu peace deh ah! 😀 (qizink)

sumber gambar : http://www.ovationtv.com

 

Detik-Detik Kenaikan Harga BBM

24 Mei

Pemerintah pinter banget bikin penasaran, deg-degan, cemas, tegang, marah, dan kalang kabut. Tapi ada juga koq yang tersenyum (ini hanya dirasakan petinggi negara).

Jumat (23/5) Jam 09.30

Kantor memintaku memantau sejumlah SPBU di Kota Serang. Aku meluncur dengan motor bututku.

sejumlah warga kecewa saat premium di SPBU 34-42113, yang berlokasi di Jalan Sudirman, habis. Akibatnya, sejumlah pemilik kendaraan terpaksa harus membeli BBM jenis pertamax dengan harga hampir dua kali lipat dibandingkan harga premium.

Warga yang biasanya membeli premium dengan harga Rp 4.500/liter harus membeli pertamax dengan harga Rp 8.950/liter. “Terpaksa saya membeli pertamax, karena bensin di motor saya sudah tipis,” terang seorang pengemudi sepeda motor.

Askari, pengawas di SPBU setempat mengakui berkurangnya persediaan premium. Dikatakan, minimnya persediaan premium ini terjadi sejak mulai dikuranginya pengiriman bahan bakar dari Gerem, Cilegon. Dikatakan, bahan bakar premium yang biasanya dikirim sebanyak 32 kilo liter (kl) dikurangi menjadi separuhnya atau 16 kilo liter (kl) per hari. “Ini sudah terjadi sejak tiga hari lalu. Saya tidak tahu penyebabnya. Mungkin terkait rencana kenaikan,” ujarnya.

Tak jauh berbeda dialami warga di SPBU 34.42103 di Jalan  Yusuf Martadilaga, Serang. Selain sulit mendapatkan premium, warga juga kecewa karena harus dibatasi dalam pembelian. Pembatasan pembelian ini berlaku untuk semua jenis BBM berdasarkan jenis kendaraan. Untuk pembelian premium, pengemudi sepeda motor dibatas Rp 15 ribu, kendaraan pribadi Rp 75 ribu, dan angkutan umum Rp 100 ribu. Sedangkan untuk jenis solar, kendaraan pribadi Rp 75 ribu, angkutan umum Rp 100 ribu, sedangkan bus dan truk Rp 250 ribu.

 Hingga siang, belum ada antrean berarti

Jumat (23/5) Jam 16.00

Balik ke kantor buat nulis hasil liputan… badan pegel juga. Untung tadi siang, temen kantor ngajak makan nasi timbel dengan menu sayur asem, lalap, ikan asin, dan sambal yang mantap….

Jumat (23/5) Jam 18.00

Telepon di kantor berdering. Ada telepon dari warga yang mengabarkan SPBU di Kota Serang telah diserbu warga yang hendak antre BBM. Ini sudah tradisi setiap harga BBM akan naik. Fotografer meluncur duluan untuk mengambil gambar. Aku menyelesaikan tugas berita.

Jumat (23/5) Jam 20.30

Pulang ke rumah. Sebetulnya aku sudah sejak sore tadi pengen balik. Pembantu di rumah kecelakaan. Matanya kelilipan serbuk kayu hingga perih. Tapi aku sudah minta tolong office boy buat membelikan obat yang dipesan isteriku.

Saat pulang aku melewati sebuah SPBU. Antrean semakin panjang. Aparat keamanan tampak berjaga-jaga.

Jumat (23/5) Jam 21.45

Bareng isteri liat nonton SCTV Award sambil diselengi Indonesia Idol. Sesekali chanel pindah TVOne buat liat dialog rencana kenaikan harga BBM. Kebetulan di TVOne muncul wajah Wakil Presiden Jusuf Kalla yang sedang konferensi pers terkait rencana kenaikan harga BBM. Wajah wapres kita itu begitu sumringah bahkan sambil tertawa-tawa jelang kenaikan harga BBM. Aku malas melihatnya! chanel kupindah lagi ke RCTI nonton AJI, peserta Indonesian Idol nyanyi ‘Ketahuan’ dengan gaya swing yang gokil banget. 🙂

Tiba-tiba muncul Breaking News di RCTI. Menkeu Sri Mulyani mengumumkan kenaikan harga BBM. Wajah Sri Mulyani tak seperti Wapres, walau pede tetep aja ketegangganya keliatan. Hmmm… BBM akhirnya naik juga!

Jumat (23/5) Jam 23.15

Pengurus DPD PAN Kota Serang Thoyib Fanani tiba-tiba menelpon. Aku pikir ini terkait masalh pilkada Kota Serang, ternyata masih ada kaitannya juga dengan kenaikan harga BBM. “MAhasiswa Untirta demo di depan kampus. Mereka blokir jalan sambil bakar ban. Macet,” kata Thoyib.

Sabtu (24/5) Jam 00.02

Anita Yosihara, wartawan Kompas yang bertugas di Banten kirim pesan singkat.

 “Kawan!!! Genting sekali malam ini. Sirine meraung-raung di jalanan, polisi berlalu lalang, rakyat berbondong2 menyerbu SPBU, serasa mau perang… Rakyat semakin payah, sementara di Jakarta sana, pemimpin kita berteriakmenantang,”hai rakyat, siap2 saja menunggu pengumuman kenaikan harga BBM”. Sungguh menegangkan, saat2 menanti 00.00. Percayalah, esok hari saat kau bangun, dunia benar2 sudah berubah!!! pita hitam untuk bangsa”

Aku tak perdulikan SMS Anita. Terus nonton Idol sampe Dela disingkirkan dari panggung spektakuler. Setelah itu baru aku pulezzzzzzzzzzzzz!

Sabtu (24/5) Jam 08.30

Pesan singkat dari redaktur meluncur ke HP-ku. “Coba pantau, kabarnya sopir angkot ada demo.”

Sabtu (24/5) Jam 09.00

Siap-siap jalankan tugas kantor. Muter-muter keliling Kota Serang, ternyata tak ada demo angkot. Mampir ke SPBU, isi bensin. Sejak semalam bensin motorku sebenarnya sudah tipis, tapi aku malas ikutan antre. Pagi ini akhu harus bayar Rp 12 ribu untuk dua liter bensin. Padahal biasanya aku ngisi Rp 10 ribu untuk dua liter lebih. Tak terasa, sepanjang malam ini, nilai uangku semakin tak berharga.!! :((

 

Indonesia yang Renta dan Menderita

20 Mei

Tak terasa, Indonesia hampir memasuki usia kemerdekaanya yang ke-63 tahun, sejak Soekarno-Hatta secara resmi membacakan teks proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945 lalu. Tentu saja, usia 60 tahun bukanlah usia muda yang penuh gelora. Indonesia sudah cukup renta, dan perlu mendapat perawatan serius karena dalam kondisi kronis, dan kritis.

Kalau boleh saya menganalogikan, saat ini sang ibu pertiwi sedang terseok-seok di tengah pertarungan dunia global yang binal sekaligus brutal. Kondisi ini terjadi, akibat banyaknya penderitaan yang menghantam wajah Negeri bersangsaka Merah-Putih ini. Derita Indonesia tidak hanya terjadi pada masa penjajahan Belanda, atau Jepang. Hingga era bernama reformasi sekarang pun Indonesia masih saja diliputi duka lara.

Pada Desember tahun lalu, dua wilayah Indonesia, yakni Nanggroe Aceh Darussalam, dan Nias diguncang gelombang tsunami. Ratusan ribu jiwa anak-cucu ibu pertiwi meninggal dunia, dan hilang digulung badai akbar itu. Dan entah berapa jumlah harta benda yang hancur lebur dihantam bencana alam itu. Ibu pertiwi pun berduka menyambut pergantian tahun 2005!

Belum juga sembuh dari duka tsunami, ibu pertiwi kembali diderita kekurangan gizi. Penderitaan ini sangat sulit diterima oleh segenap anak cucu ibu pertiwi. Beribu pertanyaan berkeliaran menyikapi kondisi sebagian rakyat Indonesia yang kekurangan gizi. Mana mungkin di negeri yang subur makmur ini masih ada rakyatnya yang kekurangan gizi. Jika tongkat kayu saja bisa menjadi tanaman, mengapa masih ada orang yang kelaparan. Bukankah pemerintah juga memiliki program beras miskin (raskin) untuk membantu rakyat kurang mampu. Kenapa program itu tidak bisa dirasakan olah yang berhak. Kemanakah larinya bantuan kaum fakir miskin itu.

Belum surut penanganan masalah kekurangan gizi, ibu pertiwi kembali merana didera beragam wabah penyakit. Kasus lumpuh layuh yang menyerang sejumlah wilayah Jawa Barat, juga dirasakan sebagian warga Banten. Serangan wabah diare pun turut mengancam pelosok negeri. Bahkan tak tanggung-tanggung, penyakit impor semacam flu burung juga tak mau ketinggalan memperparah derita Indonesia.

Hebatnya lagi, beragam penderitaan yang dialami negeri ini ternyata terjadi di tengah sebagian pejabat yang hidup megah, dengan beragam fasilitas negara super mewah. Anggota legislatif yang sudah berlebihan digaji, masih saja merongrong minta tambahan gaji. Para wakil rakyat ini seakan tutup mata dengan kondisi bos (baca : rakyat) mereka yang menderita.

Sementara itu, desakan masyarakat agar keadilan sosial segera terwujudkan, hanya seperti teriakan di ruang tak bertepi yang tak pernah diperhatikan. Begitupun dengan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang terus berkibar di tengah upaya penegakan hukum yang masih setengah hati. Terlalu panjang jika derita Indonesia ini saya jabarkan. Yang perlu digarisi, saat ini ibu pertiwi sedang menangisi nasibnya yang selalu dirundung derita.

INDONESIA BARU
Seorang kawan penyair dari Yogyakarta, Saut Situmorang pernah berceloteh, tak mudah untuk memecahkan beragam persoalan yang melilit Indonesia. Persoalan itu bagai benang kusut yang sulit diuraikan kembali. Kata Saut, kondisi carut-marut Indonesia hanya bisa diselesaikan dengan meminta Tuhan agar mematikan seluruh penduduk, dan menciptakan generasi baru negeri ini.

Saya yakin, Saut tidak bercanda dengan pernyatannya. Indonesia yang sudah renta ini memang memerlukan pembaharuan. Meminjam istilah yang digunakan salah satu perusahan rokok, saat ini memang perlu dilahirkan kembali Republik Indonesia (reborn republic), agar Indonesia kembali belia, lucu, menggemaskan, dan disayangi semua orang. Tapi saya tidak setuju kalau Tuhan harus membumihanguskan terlebih dahulu negeri ini hanya untuk menciptakan generasi Indonesia Baru. Karena saya sangat mempercayai bahwa Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau mengubahnya.

Aa Gym, kyai ternama asal Bandung punya gaya tersendiri untuk menciptakan generasi baru. Ia menciptakan ‘miniatur negara’ bernama Daarut Tauhid di Geger Kalong, yang dikelola anak-anak muda yang menjadi santrinya. Para santri inilah yang kelak, akan menjadi pengisi Indonesia Baru. Gola Gong, novelis asal Banten juga punya cara tersendiri dalam menciptakan, dan membentuk generasi baru. Ia merekrut anak-anak muda untuk dibina di Komunitas Rumah Dunia yang didirikannya. Baginya, penciptaan generasi lebih penting dibandingkan mengurusi ‘dosa-dosa warisan’ yang dilakukan para pendahulu. Apa yang dilakukan Gola Gong di komunitasnya ini merupakan salah satu upaya memotong (membunuh) masa lalu, sekaligus membentuk (menciptakan) generasi baru. Gola Gong yakin, di masa mendatang anak-anak muda binaanya akan menjadi pewaris negeri dengan penuh harga diri.

Aa Gym, dan Gola Gong merupakan sebagian kecil contoh orang-orang penuh percaya diri melakukan perubahan untuk melahirkan kembali generasi bangsa yang beradab. Perlu langkah kolektif dari semua elemen masyarakat agar penciptaan ini bisa segera terwujudkan. Tidak perlu konsep besar untuk mengubah kondisi bangsa. Aa Gym selalu berpesan, mulai dari yang kecil, dilakukan secara terus menerus, dan mulailah hari ini.

Dan akhirnya, Indonesia akan tersenyum bangga di ulang tahunnya kali ini, apabila semua orang mulai berlomba-lomba melakukan kebajikan. Saya yakin, sekecil apa pun perbuatan baik, akan lebih berharga dibanding omong besar.

Dirgahayu Indonesia!(qizink)