Tag Archives: novel

Dikutuk Judul…

8 Des

101_1323Sabtu (6/12) sekitar pukul 09.30 aku meluncur ke Rumah Dunia . Badan sebetulnya masih capek karena sehari sebelumnya aku lelah liputan pelantikan Walikota/Wakil Serang dan juga nunggu kabar tentang wafatnya manta Gubernur Banten pertama HD Munandar.

Sudah sebulan aku tak bertandang ke komunitas yang diasuh Gola Gong dan Tias Tatanka ini. Terakhir aku datang sekitar sebulan lalu saat memberi testimoni sebelum Gong dinobatkan meraih Indonesia Berprestasi Award dari XL.

Jadi kelelahan itu aku singkirkan. Aku rindu Rumah Dunia. Setelah mengantarkan isteri dan si Kafka, aku meluncur ke Rumah Dunia untuk mengikuti Ode Kampung #3 yang mengsung Temu Komunitas Literasi se-Kampung Nusantara. Sesampainya di lokasi, diskusi sedang  berlangsung. Tapi aku tak langsung mengikutinya, aku memilih keliling stand buku dan souvenir terlebih dahulu.

Di stand FLP Serang, aku duduk sambil menghisap rokok cowboy. Tak  lama berselang dari dalam sebuah ruang kecil muncul Ali Muakhir, mantan editor Dar! Mizan yang kini jadi Managing Editor Penerbit Salamadani.

Selain Gong, Ali Muakhir adalah provokator ulung yang telah berhasil memotivasi diriku untuk melahirkan novel Gerimis Terakhir. “Bisa tidak sebulan selesai…” begitu kalimat yang dilontarkan Ali Muakhir di awal Ramadhan 2003  silam. 

Syukurlah walau lebih dari waktu yang ditentukan novel itu lahir juga. Seperti yang tercatat dalam bukuku, royalti buku itu modal untuk walimahku (lumayan buat beli mas kawin). Jadi aku sangat bersyukur bisa ketemu kembali dengan Ali Muakhir.

Setelah berjumpa dengan Ali Muakhir, aku juga berjumpa dengan Daniel Mahendra, jagoan penganyam kata yang kalimatnyanya selalu renyah dibaca. Aha, awalnya kupikir Daniel ini sangat serius banget karena kepalanya dipenuhi Pramoedya, ternyata daniel guyuib juga. “Foto dulu ya, buat blog,” begitu pinta Daniel.

Sebagai alumnus relawan Rumah Dunia, aku dengan soknya bercerita tentang Rumah Dunia dan beberapa kegiatannya. Tapi ternyata walau baru pertama kali datang ke Rumah Dunia, Daniel banyak mengikuti tentang Rumah Dunia, lewat dunia maya. Hmmm… Dunia tampaknya memang sudah selebar kotak monitor. Sehingga aktivats Rumah Dunia di kampung terpencil pun sudah banyak diketahui.

Beberapa jenak kemudian, Gola Gong muncul di hadapan Ali Muakhir, Daniel Mahendra, Bambang Trim, sambil memprovokasi kemandulan diriku. Gong mengatakan, bahwa aku terkutuk oleh judul novelku sendiri. “Kamu salah bikin judul novel. Gara-gara judulnya Gerimis Terakhir, itu jadi novelmu yang terakhir. Ayo mana novelmu yang laen.”

Duh…! Aku nyesek! Draft bukuku di komputer banyak yang belum terselesaikan. Apakah aku memang sudah kena kutukan. (qizink)

Foto-foto dapat diintip di situsnya kang Daniel saja , di sini.

Iklan

Novelku Dibaca Lewat Ponsel

4 Agu

Pada Jumat (1/8) lalu, saya ditelpon mbak Windu dari Dar! Mizan. Saya yang sedang liputan paripurna di DPRD Kota Serang harus dengan seksama menerima telpon mbak Windu. Soalnya aku tak mau gara2 telponku aku diplototi para anggota dewan yang merasa terganggu dengan celotehanku.

Telpon dari mbak Windu sebenarnya cukup singkat. Ia hanya menanyakan apakah aku sudah menerima surat permohonan persetujuan naskah novelku yang berjudul ‘Gerimis Terakhir’ agar bisa diunduh lewat ponsel. Karena sejak 4 tahun lalu aku sudah tak lagi tinggal bersama ortu. Sementara alamat yang aku kirimkan waktu ngasih naskah ke Dar! Mizan masih menggunakan alamat ortu… jadi aku belum tahu tentang isi surat itu. Keluargaku di rumah juga gak kasih kabar tentang surat itu.

“Kira-kira mas qizink terima nggak?”

dengan cepat dan tanpa memikirkannya aku pun membalasnya silahkan saja.

Ya, setelah empat tahun, novel pertamaku itu beredar dalam edisi cetak. Aku merelakan ‘anak pertama dari imajinasiku’ itu untuk berkeliaran lewat digital, walaupun aku sendiri belum tahu bagaimana proses unduhnya…. semoga saja dengan lewat ponsel, naskah novelku itu dapat semakin mudah dibaca masyarakat….. hehehe…

Kenapa Harus ML???

15 Mei

 

Beberapa hari lalu saya bertemu dengan Endang Rukmana… seperti biasa, mahasiswa UI yang juga jadi juragan uduk ini dengan sumringah menunjukkan buku barunya. Ia baru saja mengadopsi skenario film ‘ML (Mau Lagi)’ menjadi sebuah buku. Buku itu diterbitin sama Gagas Media yang emang udah lama dikenal sebagai penerbit buku-buku adopsi film

Adopsi kayak gini bukan pertama kali dilakuin temen sekelas menulisku ini. Dulu waktu film ‘Gotcha’ dia juga yang garap bukunya?

Cuma yang jadi pertanyaanku, kenapa harus ML yang digarap? kan ada film lain yang nggak kalah bagusnya?

Endang emang udah tahu kalau film ML lagi ‘ada masalah’ di LSF dan MUI seperti yang ada di sini.

Endang ngeyakinin kalo versi film dan buku bakal beda. karena dia nggak mentah-mentah masukin semuanya yang ada dalam film ke bukunya.

“Yang penting dari cerita film itu aku pertahanin, yang enggak penting gue buang. Yang terlalu vulgar di skenario nggak aku pake,” kata Endang

setelah aku kebat-kebet sedikit halaman bukunya, ternyata emang isi buku ini gak parno? sampul bukunya sih emang mirip dengan poster filmnya. Endang lumayan konyol dan ngocol juga ngegarap bukunya ini. Jadi aku juga senyum aja Endang sudah menggarap ML walaupun aku yakin Endang lom pernah EmEL. 😀 (qizink)