Tag Archives: Budaya

Tan Malaka & Banten Tak Terpisahkan

21 Nov

9-tan-malakaSERANG – Hubungan antara Tan Malaka sebagai tokoh revolusi Indonesia dengan daerah Banten tak bisa terpisahkan. Tokoh yang memiliki nama asli Ibrahim Datuk Tan Malaka tersebut pernah melakukan pergerakan melawan penjajahan di Bayah, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, dengan nama samaran Ilyas Hussein.

“Kedekatan Tan Malaka dengan rakyat Banten bukan suatu kebetulan. Tan Malaka memiliki kajian tersendiri tentang daerah ini,” ujar Prof Zulhasril Nasir, Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia, saat bedah buku Tan Malaka, Gerakan Kiri, dan Revolusi Indonesia karya Harry A Poeze, di aula Radar Banten, Kamis (20/11).

Dalam pandangan Zulhasril, Banten memiliki kesamaan dengan Kabupaten Lima Puluh Kota, Minangkabau, Sumatera Barat, sebagai daerah kelahiran Tan Malaka. Menurutnya, kedua daerah tersebut sama-sama memiliki keteguhan dalam memegang tradisi serta memiliki dua komponen utama pergerakan, yakni ulama dan jawara. “Di Minangkabau ada tradisi merantau. Sementara pelaut Banten juga dikenal di Nusantara sebagai pelaut tangguh. Bahkan pengaruh kerajaan Banten sampai ke Sumatera,” ujarnya.

Selain Zulhasril, diskusi yang berlangsung mulai pukul 13.00 ini menghadirkan pembicara Bonnie Tryana (sejarahwan muda asal Banten) dan Harry A Poeze selaku penulis buku. Hadir dalam diskusi ini Irfendi Arbi (Wakil Bupati Lima Puluh Kota), Datuk Tan Malaka Muda serta beberapa kerabat Tan Malaka dari Sumatera Barat. Hadir pula dalam kesempatan ini sejumlah tokoh Banten, di antaranya Pandji Tirtayasa (mantan calon Walikota Serang) serta sejumlah mahasiswa dan tokoh pemuda Banten.

Bonnie Tryana mengungkapkan, Tan Malaka merupakan sosok yang memberikan banyak pelajaran kepada bangsa Indonesia. “Saat masyarakat Indonesia sedang mencari identitas demokrasi dengan melihat pemilihan presiden di Amerika Serikat, Tan Malaka sebenarnya sudah memberikan pelajaran bahwa perbedaan tak mesti menjadi sebuah hambatan untuk membangun bangsa,” ujarnya.

Bonnie juga sepakat bahwa kiprah Tan Malaka di Banten tak bisa dipisahkan. Dikatakan, menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Tan Malaka menggelar rapat di salah satu rumah warga di Lebak. “Salah satu hasil rapatnya adalah bahwa kemerdekaan Indonesia harus segera dilakukan tanpa menunggu pemberian dari Jepang,” ujarnya.

Redpel Majalah Otonomi ini juga memandang, selain sebagai sosok yang sederhana, Tan Malaka merupakan cermin pemimpin yang otentik. “Ketika Tan Malaka berbicara tentang kelaparan, dia sendiri merasakan kelaparan itu. Tan Malaka hidup di gubuk sempit saat menuliskan buku Madilog. Kesederhanaan itu sebagai pilihan. Padahal sebagai seorang datuk yang sama dengan priyayi pada saat itu. Tan Malaka merupakan nasionalis yang betul-betul memerhatikan nasib bangsanya,” ujarnya.

Harry A Poeze mengaku butuh waktu panjang bagi dirinya untuk menuliskan sejarah Tan Malaka. Buku sejarah yang dalam versi Bahasa Belanda setebal 2.200 halaman membutuhkan waktu sekitar 37 tahun untuk menelitinya. “Saya menuliskannya, karena Tan Malaka jarang diungkap,” ujarnya dalam Bahasa Indonesia yang fasih.

Nazmudin Busro, warga Banten pecinta sejarah mengatakan, Banten dan Minangkabau memiliki hubungan erat. “Bila Tan Malaka dari Minangkabau berjuang di Banten, maka ada juga orang Banten yang berjuang di Minangkabau, yakni Syafruddin Prawiranegara yang memimpin Pemerinahan Darurat Republik Indonesia (PDRI),” ungkapnya. (qizink)

Bab Kematian

6 Nov

I

dia tiba

tiba-tiba

 

tak terterka

 

II

selembar daun

kering gugur waktunya

sepucuk daun

basah lalu patah

 

III

kekasih

hanya kau

tak bisa kudamba

tak kuasa kuhela

adanya

 

IV

m        a        u         t

a                             u

u                             a

t         u        a         m

 

V

bila maut menjemput

aku hanya turut

Perempuan Pembawa Pesan

7 Okt

siapakah perempuan itu

yang membawa pesan

di balik senyumnya

 

o, bibir yang tak berkata

tetap saja bermakna

 

siapakah perempuan itu

yang membawa pesan

di antara wangi rambutnya

 

o, cinta

bukan janji yang didamba

sebab rasa lebih bergelora

 

 

Banten, 2008

‘Perempuan Gerabah’

26 Agu

 

 

Setelah lima bulan berproses, teater Studio Indonesia kembali menggelar pementasan teater yang bertajuk Perempuan Gerabah karya/sutradara Nandang Aradea pada tanggal 25-27 Agustus 2008 pukul 20.00 Wib di halaman Kafe Kebun Oregano Jl Bhayangkara no 17 Serang Banten. Garapan yang diusung oleh enam aktor ini; Taufik P. Pamungkas, Dedi Setiawan, Suryadi Sally Al-Faqir, Arip Fr, Desi Indriyani dan Mak Meryamah dipangungkan dalam konsep teater arena melingkar.

Tentang gagasan pertunjukan  

Tanah adalah tubuh kita, sumber segala kehidupan yang digambarkan sebagai tempat di mana terdapat susu dan madu yang berlimpah. Selain itu, tanah adalah juga metafor kelahiran dan segala sumber masalah, petaka dan kekacauan. Dan Perempuan Gerabah adalah personifikasi masyarakat kapitalisme yang gaya hidupnya digiring terus-menerus untuk mengkonsumsi,  yang cita rasanya dapat dibentuk, dipengaruhi dan diantisipasi. Ia rela diperintah serta mau melakukan apa yang diharapkan, seperti ditempatkan dalam mesin sosial tanpa banyak rewel. Ia diarahkan tanpa paksaan, dipimpin tanpa pemimpin, didorong tanpa tujuan—Ia menciptakan sesuatu, selalu bergerak, selau berputar, selalu berfungsi serta tak pernah menyerah. Ia terjebak dalam rutinitas yang ketat, dalam kerja-kerja mekanik. Ia kehilangan arah transendensi. Menghancurkan dan membangun. 

Kita sekarang ini hidup di dunia yang berantakan, yang berkeping-keping, yang bergulat entah untuk apa, yang bergerak dalam panik, yang memberhalakan pangkat namun memuja intelektual, yang seirama dalam ketakberiramaan, yang paradoks, yang dilematis, yang bahagia sekaligus sakit, yang pintar tapi rakus, yang menyeru hemat energi sambil mengendarai mobil yang boros bahan bakar, yang toleran namun sinis, yang merdeka namun terikat.

Manusia dengan susah payah membangun dunia (gerabah, sebagai analogi), dan setelah jadi sebuah bentuk, manusia merayakannya, membanggakannya, tapi di kemudian hari dunia itu jadi tak berharga, retak, pecah, diinjak-injak kaki sendiri dengan entah harus sakit entah harus bahagia. Tengoklah hubungan diri kita dengan demokrasi. Kita membangun demokrasi, memujanya, tapi kemudian kita meludahinya dan tidak mempercayainya. Tengoklah hubungan kita dengan tempat kita bekerja: pada mulanya kita berharap diterima, setelah diterima kita pun membanggakannya, dan setelah itu kita membencinya, bahkan ingin meruntuhkannya (seperti yang terjadi pada dunia buruh). Tengok pula dunia pendidikan, ada banyak guru yang mendidik dan sekaligus menghardik. Bahkan pada dunia cinta, kita dapat menyaksikan proses-proses perkenalan yang bertambah cepat (karena fasilitas media hp dan internet), tapi bersamaan dengan itu ada banyak sekali proses perceraian, dan bahkan ada pula proses pembunuhan dengan alasan yang sama: cinta. Cinta dan mutilasi tiba-tiba. memiliki hubungan yang dekat.

Dunia macam itu kiranya yang ingin disampaikan Nandang Aradea dalam Perempuan Gerabah  bersama teaterStudio Indonesia . Bagi yang berminat untuk mengapresiasi harap menghubungi Inayatul Fadhilah dengan nomor kontak 081808100440 atau Kafe Kebun Oregano

Jl Bhayangkara 17 Serang Banten Tlp. 0254-201487

Cerita Sastra

18 Agu

Oleh: Qizink La Aziva

Sastra, begitulah perempuan tua yang dulu pernah tinggal di perkampungan kumuh Kali Code menyebut namanya. Perempuan berkulit jeruk purut itu yang telah mengasuh dan membesarkan dirinya. Ia tak tahu (dan tak mau tahu) mengapa perempuan yang seminggu lalu mati diserang diare itu memberinya nama Sastra.

Sastra tak peduli dengan sebuah nama!

Dari perempuan yang dipanggilnya ‘Mbok Tua’ itu pula, Sastra tahu tentang asal-usul dirinya. Semasa hidupnya Mbok Tua pernah bercerita, jika dirinya adalah hasil dari persetubuhan seorang penyair kere dengan pelacur kawakan di Pasar Kembang. Ibunya telah mati bunuh diri saat dirinya berumur tiga tahun. Setahun kemudian bapaknya menyusul ke liang kubur, karena siphilis yang dideritanya.

Sastra termasuk makhluk langka. Tulang-tulang wajahnya menampakkan keperkasaan seorang gladiator yang siap bertarung di medan laga, sementara dua payudara yang tumbuh di dadanya begitu besar dan seksi. Langkahnya gemulai bagai Putri Solo. Bulu-bulunya tumbuh tak beraturan di atas bibir dan janggutnya. Suaranya terkadang lembut dan renyah seperti suara sinden jaipongan, namun terkadang pula sekeras vokal demonstran yang sedang menuntut keadilan di gedung dewan.

Sastra waria? Sastra banci?
Sastra bukan waria atau banci. Waria atau banci masih memiliki kelamin. Sedangkan Sastra tak jelas kelaminnya, karena sejengkal di bawah pusar Sastra tak ada organ tubuh yang dapat memastikan jenis kelamin dirinya.

Sastra tak berkelamin!
“Sastra adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Komposisi tubuhnya memadukan antara kelembutan wanita dan keperkasaan pria….” seorang yang dianggap sebagai pemerhati Sasta berucap dengan ludah membuncah.
 
 “Ya… Sastra telah mengembalikkan kesadaran kita pada kebesaran Tuhan. … Sastra adalah Sang Ratu Adil!” seorang pria berwajah paranormal menimpali dengan lebih semangat. “Sastra adalah titisan pertapa yang bersemayam di puncak Merapi, ” lanjutnya paranormal yang memiliki khas batu kecubung besar di jari tengah tangan kirinya.

“Tapi sastra juga berbahaya bagi orang lain. Sastra sangat menakutkan!” sela pria bergaya pemuka agama.

****

Tek!

Sastra menekan tombol off pada remote control. TV 14″ di hadapannya mati.
Sastra muak dengan segala komentar tentang dirinya. Hampir saban hari dirinya dijadikan objek pembicaraan di televisi, radio, kampus, sekolah, ruang seminar, situs internet… Bahkan di warung angkringan pojok gang.

Keunikan Sastra telah menjadi perhatian banyak orang. Namanya dikenal hingga ke pelosok negeri.
Sastra ingin hidup apa adanya, hidup normal seperti makhluk Tuhan lainnya. Tapi keinginan itu hanya menjadi mimpi di siang bolong, karena pada kenyataannya orang lain tak bisa menerima kehadiran Sastra di tengah-tengah mereka. Orang-orang yang berpapasan dengannya selalu memandangi dirinya dengan sorot mata aneh. Bahkan tak sedikit anak-anak yang langsung lari terbirit-birit atau mentertawakan dirinya.

Menyakitkan!
“Puah!”
Sastra meludah. Matanya melotot. Otot-otot di pergelangan tangan dan lehernya menegang. Dilemparkannya remote control yang masih dipegangnya ke arah televisi.
Prang!

Kaca televisi berantakan.
“Aaaaggghhhh….” Sastra menjerit. Suaranya bergema di dalam kamar 3×3 meter miliknya. Beberapa jenak kemudian tubuhnya jatuh lunglai dengan air mata yang mengembang di ujung matanya yang bening.

Sastra menangis! Jiwanya teluka.
***

22. 45, burung gagak mengoak.
Di sebuah jembatan penyeberangan, Sastra memandangi beberapa kendaraan yang berlalu-lalang di bawahnya. Tekadnya sudah bulat. Malam ini ia akan melakukan apa yang telah dilakukan ibunya dua puluh tahun yang lalu. Sastra ingin bunuh diri! Sastra merasa telah lelah menjalani hidupnya.
“Tuhan…. Izinkan aku untuk menentukan cara kematianku….”
Sastra menaiki pagar pembatas jembatan. Matanya mulai dipejamkan ketika kabut mulai menyelimuti bulan yang pucat sendirian di langit. Sedetik kemudian tubuh Sastra meluncur….
Bruk!

Sastra membuka matanya. Sekelilingnya nampak begitu putih. Surgakah? Sastra sampai di surga? Tidak! Sastra belum sampai surga. Surga terlalu mahal bagi Sastra. Sastra terkapar di atas kasur sebuah rumah sakit. Semalam seorang juragan sayur yang membawanya ke rumah sakit.
Sastra tidak mati! Saat bunuh diri, tubuh Sastra jatuh di atas bak truk yang penuh sayur mayur. Sastra hanya pingsan selam lima jam.
“Tuhan… kenapa tak Kau ambil saja nyawa sialanku ini!”
Sastra mencabut slang infus yang menancap di lengan kanannya. Setelah melepas seluruh pakaiannya, Sastra berjalan meninggalkan ruang rawat.

Orang-orang yang bertemu dengannya terkejut, berteriak, menjerit… lalu lari ketakutan. Sastra tak peduli. Ia terus melangkah, meninggalkan rumah sakit. Sastra berkeliaran di jalanan tanpa sehelai benang. Sastra telanjang!

“Aku bebas… aku bebas….” ucap Sastra sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Sastra merasakan sebuah kebahagian.
“Sastra gila…! gendeng…!” teriak seorang ibu sambil menarik lengan anaknya, menjauhi Sastra.
“Awas ada Sastra!” seorang satpam mengingatkan.
Sastra tertawa terbahak-bahak. Suasana makin kacau. Orang-orang berlarian, jalanan macet, toko-toko tutup, anak-anak menangis, polisi berusaha meringkus Sastra….
Sastra terus berkeliaran di jalanan, sampai sebuah radio milik pemerintah menyiarkan berita: “… demi stabilitas keamanan, Sastra dipenjara…!” (*)

Diinspirasi dari cerpen Firman ‘Balelol’ Venayaksa.

Over Dosis

6 Agu

sungguh aku sudah bosan. hampir setiap saat aku dihadapkan dengan bermacam pil.

hampir lima tahun silam, aku disuguhi 24 jenis macam pil yang sebetulnya aku sudah tahu pil-pil itu hanya racun. dengan aneka warna, pil-pil itu menyerbu saraf otakku. saat itu aku hanya mencicipinya. hanya sekali.

belum juga lelah rasa bosan, datang lagi pil baru. mereka menyebutnya pil masa depan dengan macam pula bentuknya. ada warna merah yang dibawa perempuan pendiam bersama tokoh agama. ada pil ungu yang dibawa jenderal dan pengusaha besar. ada juga yang putih biru yang dibawanya dari sebuah lokomotif yang rusak pada 1998. ah… lagi-lagi aku disuguhi pil. sungguh, aku tak mencicipinya sama sekali.

di kampung halaman, pemerintah daerah menyuguhiku dengan dua macam pil dalam waktu hampir bersamaan, satu buat provinsi dan satu lagi buatan kabupaten. aku makin pusing dengan aneka pil keluaran terbaru ini. mereka menyuguhiku pil, hanya untuk meninabobokanku.

saat ini, aku kembali disuguhi sebuah pil. ini pil baru keluar dari pabrik. ada delapan jenis pil yang ditawarkan, ada yang bergambar politisi sejati, artis dangdut, pengusaha, mantan birokrat, pejabat, ustadz, dan ibu rumah tangga. alamak…. kenapa banyak sekali pil ini.

belum juga aku menyentuh pil baru tersebut… aku harus berhadapan pada sembilan bulan mendatang dengan 34 macam pil. ada pil kadaluarsa ada juga pil baru yang lolos verifikasi.

sumpah mampus, aku sudah tak berminat lagi dengan macam-macam pil yang bertebaran dalam hari-hariku. aku tak mau OVER DOSIS