Arsip | Catatan Kawan RSS feed for this section

Baliho

6 Feb

Oleh : Qizink La Aziva

Ini cerita dari kawanku tentang baliho para calon anggota legislatif (caleg) yang bercakap-cakap di malam hari.

***
Malam telah larut. Langit makin pekat dengan bulan sealis. Angin berhembus perlahan menerobos gerbang komplek perumahan yang dipenuhi baliho.
Wajah Yosi di baliho 2×3 meter makin kusut. Mata Komar menatap tajam wajah Yosi, menantu tersayangnya.
“Kuperhatikan dari siang wajahmu kusut terus. Kalau wajahmu kecut begitu, mana ada warga yang akan simpati untuk memilihmu,” ungkap Komar.
Yosi tak segera menyahut. Perempuan dengan rambut sebahu tersebut malah makin kecut wajahnya.
“Ada apa sayang. Bilang sama Om, kenapa cemberut begitu. Saat kampanye, perbanyaklah senyum,” suara Komar lembut. Namun karena malam itu hening, suara pria yang rambutnya telah beruban itu terdengar nyaring di telinga Yosi.
“Yosi lagi jengkel Om,” ujar Yosi. Tubuhnya bergoyang ditiup angin. “Coba Om perhatikan baliho yang ada di bawah kita!”
Di bawah baliho Yosi yang tertancap pada batang bambu itu terdapat sebuah poster caleg muda. Caleg dari Partai Kuning Langsat (PKL) itu memakai kaca mata hitam. Tak diketahui, apakah dia tertidur atau mendengarkan percakapan Yosi dan mertuanya.
“Ah, dia itu kan baru politisi ingusan. Anak kemaren sore. Apa yang kamu takutkan. Dia bukan tandinganmu dalam meraih suara. Tenanglah,” ungkap Komar.
“Bukan masalah perolehan suara Om. Kalau masalah suara, saya sudah yakin bakal mendapatkannya. Om sudah mengajarkan bagaimana cara membeli suara.”
“Terus apa yang kamu risaukan,” potong Komar.
“Yosi kesal karena baliho itu berada di bawah baliho kita Om. Aku kan malu. Apa Om nggak perhatikan kalau foto Yosi ini sedang pakai rok dan Yosi lupa pakai daleman saat dulu difoto.”
Wajah Yosi memerah.
Om Komar terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Angin mulai berhembus kencang. Hujan mulai merintik.
Tanpa disadari, percakapan Yosi dan Om Komar itu tengah didengar Maksuni, caleg dari Partai Kuda Lumping Juragan Gabah (PKL Juga). Baliho Maksuni yang jaraknya setombak dari Baliho Yosi itu bergoyang-goyang. Wajah maksuni berubah tersenyum.
“Hei, ngapain kamu senyum-senyum!” teriak Komar pada Maksuni.
“Emang saya nggak boleh tersenyum. Hak saya dong mau senyum atau cemberut.”
“Ngeledek ya!” balas Yosi.
“Nggak… aku cuma ngebayangin….”
“Kurang ajar… pasti kamu juga ngebayangin yang nggak-nggak tentang aku ya…!” potong Yosi cepat.
Maksuni tertawa terbahak-bahak.
Dulunya Maksuni separtai dengan Yosi. Ia juga pernah menjalin asmara dengan Yosi. Tapi sejak Yosi menikah dengan anak Om Komar yang merupakan petinggi partai, Maksuni langsung pilih pindah partai.
“Alah…. aku sudah tahu koq.”
“Dasar politisi bejat!” teriak Yosi.
“Bejatnya kan bareng kamu! hahahaha…” tawa Maksuni makin nyaring.
Wajah Komar makin merah padam. Amarahnya memuncak. Angin malam makin tak karuan.
Komar ingin juga ikut mendamprat Maksuni. Tapi itu diurungkannya. Sebagai mantan anak buahnya, Maksuni mengantongi rahasia pribadinya. Saat masih di partai, Maksuni pernah memergoki Om Komar bercumbu dengan ibunda Yosi yang merupakan artis dangdut. Komar akhirnya memilih diam. Sementara pertengkaran mulut antara Yosi dan Maksuni makin seru.
Keduanya saling hina.
Keduanya saling ledek.
Keduanya saling damprat.
Keduanya saling hujat.
Keduanya membuka aibnya masing-masing.
Pertengkaran kedua caleg ini mendapat perhatian dari para caleg yang sedang nampang di gerbang perumahan ini.
Ada yang balihonya bergoyang-goyang ditiup angin seakan mengompori Yosi dan Maksuni agar terus ribut.
Ada yang balihonya nyungsep diterjang angin seakan meledek kedua calon senator yang sedang adu mulut.
“Kalau cintamu aku tolak, tak usahlah kau cari perhatian begitu!” teriak Yosi.
“Cinta…. hahaha… aku tak pernah menaruh cinta padamu Yosi. Mana ada cinta di tangan seorang politisi seperti aku. Di mata politisi hanya ada hasrat dan perselingkuhan… hahaha…” tubuh Maksuni yang tambun berguncang.
Wajah Yosi merah padam.
Wajah Komar pasi.
Wajah Maksuni ceria di atas angin.
Wajah caleg muda yang ada di bawah baliho Yosi tetap dingin.
Angin makin kencang memompa pertarungan antara Yosi dan Maksuni. Pertarungan tak lagi hanya adu mulut. Baliho keduanya semakin bergoyang ke kiri dan kanan.
Baliho Yosi mendamprat Baliho Maksuni.
Baliho Maksuni mendamprat baliho Yosi.
Baliho caleg lainnya ikut bergoyang kencang.
Hingga menjelang subuh, pertarungan baliho berlangsung. Pertarungan itu baru bisa terhenti, saat angin puting menghantam seluruh baliho. Dalam beberapa jenak, seluruh baliho ambruk di atas tanah.
Pagi harinya, warga komplek bersikap tak peduli saat menyaksikan baliho para caleg itu ambruk dan saling tumpuk.

****

Begitulah cerita dari kawanku tentang baliho para caleg yang bercakap-cakap di malam hari. Percayakah Anda? (*)

Banten, Februari 2009.

Iklan

Gaya Kampanye Caleg Banten melalui Internet

21 Jan

 

Banyak cara dilakukan calon legislatif di Banten untuk mensosialisasikan diri kepada pemilih. Salah satunya melalui internet. 

Keberhasilan calon presiden Amerika terpilih Barack Obama memanfaatkan teknologi untuk meraih simpati dan penggalangan dana dengan menggunakan situs internet facebook, tampaknya menginspirasi sejumlah calon anggota legislatif (caleg) di Banten untuk mensosialisasikan dirinya lewat internet.

Sebuah pesan singkat diterima Radar Banten dari Hafazhah, caleg PPP untuk DPRD Banten hari Minggu (18/1) lalu. Pesan singkat itu mengabarkan bahwa dirinya telah memiliki sebuah situs internet pribadi dengan alamat http://ppp-hafazhah.co.nr. “Silakan kunjungi untuk menghubungkan titik-titik komunikasi sesama,” tulis Hafazhah dalam pesan singkatnya.

Radar Banten mencoba menengok blog pribadi tersebut. Ternyata blog itu baru beberapa hari dibuat dan content atau isinya masih berupa nukilan yang disalin ulang (copy paste) dari berbagai media online. Sejumlah link seperti data pribadi serta visi dan misi, belum terisi.

Dalam situs ini juga terdapat link jejaring (blogroll) yang salah satunya adalah milik Ali Faozin, caleg PPP  dari Banten untuk DPR RI. Saat dikunjungi, situs milik Ali Faozin ternyata mirip sekali tampilannya (template) dengan milik Hafazhah.

Andika Hazrumy, caleg DPD Banten juga ikut mempromosikan dirinya lewat blog gratisan dengan alamat http://andika-hazrumy.blogspot.com. Content dan template blog ini lebih atraktif dibandingkan dengan dua blog milik Hafazhah atau Ali Faozin. Blog putra Gubernur ini banyak dihiasi foto kegiatan si caleg. Sementara isi tulisan, lebih banyak merupakan salinan berita dari berbagai media massa, baik lokal maupun online.

Blog caleg yang cukup menarik adalah milik Mohamad Arif Widarto, caleg Partai Gerindra dari daerah pemilihan Banten untuk DPR RI. Blog dengan alamat www.moharifwidarto.com ini berisi ragam tulisan pribadi, visi misi, kegiatan caleg, maupun tulisan lainnya. Blog alumnus Universitas Pelita Harapan ini juga sangat serius dalam mengelola situsnya karena si pemiliknya adalah seorang blogger, sehingga dalam situs ini juga ditampilkan jargon ‘Blogger Juga Bisa Nyaleg’ yang terpampang dalam sebuah gambar kaos.

Arif tak hanya membangun komunikasi politik melalui situs pribadinya tapi juga melalui berbagai situs jejaring seperti plurk, facebook, friendster,  dan sebagainya.

Bila caleg secara konvensional berkampanye dengan bagi-bagi kaos secara gratis, Arif melakukan hal berbeda melalui situsnya. Dalam salah satu link-nya, secara terang-terangan Arif melakukan penggalangan dana untuk kampanye dirinya dengan mencantumkan rekening pribadinya dan hadiah kaos untuk penyumbang dana dalam nominal tertentu. “Bagi penyumbang minimal Rp 150 ribu akan mendapatkan kaos.” Begitu kalimat yang ditulis dalam situsnya.

Efektifkah cara kampanye lewat internet ini seperti yang dialami Barack Obama yang terpilih menjadi Presiden Amerika? Hasilnya tentu saja, baru bisa diketahui nanti setelah pencoblosan pada 9 April. Namun yang perlu jadi catatan, masyarakat kita belum sepenuhnya melek internet, sehingga tak semua pemilih bisa mengakses gaya kampanye caleg lewat dunia maya ini. (qizink)

Damai Itu Adalah…

5 Jan

MIDEAST-PALESTINIAN-ISRAEL-GAZA-CONFLICTDamai bagi warga di Palestina adalah harapan. Berharap tak ada lagi invasi dari zionis Israel. Berharap bisa mimpi indah saat tidur malam. Berharap, tak ada lagi anak-anak kecil meregang nyawa atau menangis histeris dengan wajah berdarah. Berharap perang tak lagi datang. Untuk kedamaian warga Palestina ini, saya hanya turut berdoa semoga harapan itu terwujudkan.

MIDEAST-ISRAEL-GAZA-CONFLICTDamai bagi warga Israel adalah tipu daya. Sebuah tipuan menawarkan kedamaian dengan roket ditangan. Sebuah tipuan menyuguhkan persahabatan dengan wajah permusuhan. Menghadapi tipuan kedamaian dari kebengisan Israel ini, saya hanya teringat sebuah kalimat indah dari Yusuf Qardhawi, “berdamai dengan perampok yang hanya mau mengembalikan secuil hasil rampokannya adalah bodoh. Di dalamnya terkandung ketidakadilan . Yahudi seharusnya hengkang dulu baru bicara perdamaian.

Damai bagi warga Bandung adalah kreatifitas. Sebuah kreatifitas dengan mewujudkan jargon damai dalam stiker atau kaos-kaos bertuliskan ABCD ‘Anak Bandung Cinta Damai’. Untuk kalimat damai ini, saya mengacungkan jempol bagi warga Bandung yang telah kreatif.

Damai bagi warga yang hendak ditilang polisi lalu lintas adalah cara pintas. Cara pintas agar tidak menghadapi sidang tilang yang sangat merepotkan. Dengan kalimat, “Damai saja, Pak.” sambil menyodorkan selembar uang 20 ribuan atau 50 ribuan, maka warga yang hendak ditilang bisa melenggang aman. Terhadap cara damai seperti ini, saya hanya bisa mengelus dada, yang menyuap dan yang disuap sama saja nilainya.

Damai bagi anak kecil adalah makanan murah meriah seharga lima ratus perak atau gope. Makanan bermerk ‘Damai’ ini lezat dengan isi kacang hijau. Mengenai ‘Damai’ ini saya hanya tersenyum terkenang dengan masa kecilku yang juga turut menikmati kue ini.

Lha terus apa sebenarnya makna Damai bagiku.

Damai bagiku adalah agama. Islam sebagai agama yang kuanut berarti adalah keselamatan dan kedamaian.

Sekarang apa arti Damai bagi kalian ?

Sajak Kenangan Akhir Tahun

29 Des

mari kita kenang kembali

saat kita menunggu matahari

pada senja di pantai itu

 

kaki kita bertelanjang diciumi lidah ombak

“jangan kau tuliskan namaku di pasir itu.”

katamu

 

lalu kita hanya mengeja kata-kata cinta

dikabarkan waktu yang berganti selalu

“jangan percaya pada angin.”

katamu

 

mari kita kenang kembali

 

Pantai Anyer, jelang 2009

 

# Jaga Kafka dan calon anak kita

Ke Bali Harus Berjinah

15 Des

 

Postingan ini sebenarnya sudah lama mengendap di otakku, tapi baru sempat aku ketikkan.

Postingan ini secuil tentang perjalananku ke Bali, akhir bulan lalu. Tak banyak lokasi yang kukunjungi dalam perjalanan selama dua hari ini, kecuali menyusuri sepanjang jalan Legian, Kuta, serta melancong sebentar ke Gianyar. Hujan yang selalu turun di Bali membuatku demam tubuhku. (Maaf kepada kawanku yang memesan arak Bali, karena aku hanya bisa membawakanmu Kacang Disco dari Kresna).

Dari Bali aku mendapatkan beberapa catatan kosa kata bahasa yang terdengar lucu. Wayan Menik, perempuan Bali banyak mengenalkan kosa kata yang cukup asing dan membuatku tersenyum, geleng-geleng kepala, bahkan tertawa ngakak.

Di mata orang Bali, kata (bahkan daerah) Banten merupakan sesuatu yang suci. Padahal salah satu pelaku BOm Bali yakni Imam Samudera adalah orang Banten. “Orang Bali terutama yang di daerah perkampungan penasaran ingin tahu Banten, karena Banten itu sesutu yang dijadikan alat persembahan atau sesajen yang dianggap suci,” terang Menik.

O…. githu!

Ah, jangan-jangan Banten dan Bali memang ada kaitannya. Bukankah dulu Banten juga merupakan daerah keraja Hindu. Bahkan kerajaan Salakanagara di Pandeglang yang hingga kini masih diperdebatkan termasuk kerjaan Hindu tertua. (Moga saja ahli sejarah segera menemukannya).

Lha terus apa hubungannya dengan judul tulisanku ini. Nah Menik juga ngasih tahu kalo orang Bali menyebut uang dengan kata  pipis. Kata yang lebih halus adalah jinah (ingat bukan zinah). “Ke Bali memang harus berjinah (memiliki uang) supaya bisa beli banyak oleh-ole,” kelakar Menik yang membuatku tertawa.

Ah, lain ladang memang lain belalang. Lain daerah tentu lain pula budaya dan bahasanya. Kata pipis dan jinah di daerah lain mungkin terdengar sangat saru. Tapi di Bali itu kata biasa yang sering diucapkan.

Apakah di daerah kalian ada kalimat yang di daerah lain artinya berbeda?

Ngecet bareng Bunda

14 Des

pagi ini di sela ngedit berita di kantor, aku disapa seseorang lewat YM dengan id bunda_*******. Dia menudingku sombong. Aha, terus terang aku memang lom mengenalnya, karena idnya aja lom aku add. Usut punya usut ternyata ia adala Bunda Menik pemilih Saung Bunda yang udah kesohor itu. Ngecet pun hanya sebatas kabar, musim, dan kabar keluarga. Sumpeh, bunda ternyata gokil di blog dan saat ngecet.

Asyik juga ngecet dengan bunda. Bunda sampe ngakak gagulingan waktu kubilang tentang karakter lelaki itu kurang ajar dan mau enaknya sendiri. Makanya saya memilih tak menikah dengan lelaki.

Oya, sampe sekarang aktif di blog, saya baru ngecet dengan dua orang bloger. Selain dengan Bunda Menik, bloger yang pernah ngecet denganku adalah langitjiwa yang kejadiannya dah beberapa bulan silam.

Maklumlah, walau YM ku online dengan status “i’m on sms”, aku sebenarnya jarang ngecet.   (*)

Rencana ke Bandung

22 Okt

Sabtu (25/10) esok, saya dan bareng teman-teman wartawan rencananya akan berangkat ke Bandung. Tak ada agenda khusus untuk datang ke Kota Kembang ini. Hanya sekadar jalan-jalan.

Sudah lama juga saya tak ke Bandung. Terakhir saya ke Bandung saat launching peluncuran kumpulan cerpen Harga Sebuah Hati di Braga sekitar 2006 lalu. Terus terang saya kangen dengan Bandung. Saya pengen liat bangunan tempat saya dulu selama tiga tahu kursus komputer yang kini sudah jadi Pom Bensin di sekitar Dipatiukur, makan jagung bakar di Dago, atau nongkrong di sudut-sudut Kota Bandung yang selalu menarik.

Saya juga kangen pengen maen ke Selasar Sunaryo di Dago Atas, maen ke Pentagon di UPI, atau sekedar cuci mata di BIP.

Namun rencana keberangkatan ke Bandung ini masih aku pertimbangkan. Karena dalam dua hari ini, aku sedang sering sakit-sakitan. Maklum sedang masa pancaroba.

Semoga saja, pada saat berangkat, badan ini bisa bugar hingga bisa menikmati lagi Bandung.