Archive | Budaya RSS feed for this section

Dongeng Jawara

13 Jan

I. CARA MENGHIDUPKAN AC

Di tengah hiruk-pikuk pemilihan presiden, Abah Sobled malah memilih berangkat umroh ke tanah suci. Uang ganti rugi dari tanah gusuran untuk waduk di Banten Selatan dipakainya untuk mengajak kerabatnya untuk umroh.
Setelah sampai di Bandara King Abdul Aziz, Abah Sobled menyewa sebuah bus dari jasa travel untuk mengangkut dirinya dan keluarganya menuju penginapan.
Saat itu, cuaca di tanah suci sangat terik sekali. Panas begitu menyengat. Sialnya lagi, AC dalam bus itu mati alias tak berfungsi. Alhasil, dalam bus itu keluarga Abah Sobled menjadi resah karena kegerahan. Untuk meminta tolong sopir atau petugas travel yang asli Arab, keluarga Abah Sobled tak berani karena tak bisa berbahasa Arab. Sehingga keluarga Abah hanya bisa sewot di dalam bus.
Di tengah kondisi seperti ini, Abah Sobled yang duduk di bagian belakang langsung berdiri untuk menghampiri si petugas travle. Lalu dengan percaya diri, Abah berkata kepada petugas travel itu. “Hey, Acena Innalillahi Wa Inna Illaihi Rojiun,” ucap Abah polos sambil tangannya menunjuk AC yang padam.
Petugas travel mengangguk-angguk sambil nyengir. (qizink)

 

II. MINTA DISEBUT NAMANYA

Abah Sobled sudah jenuh di Jakarta. Walau belum mendapatkan ‘OVEN’ yang dipesan isterinya Pak Camat, Abah memilih untuk pulang kampung.
Karena tidak mau ketinggalan kereta lagi, Abah Sobled memilih menaiki bus. Ini juga pengalaman pertama bagi Abah dalam menaiki bus kota.
“Thamrin… Thamrin…” teriak kondektur bus.
Beberapa penumpang turun. Bus melaju kembali. Kondektur kembali berteriak, “Sudirman… Sudirman…”
Beberapa penumpang kembali turun. Bus kembali melaju. Beberapa saat kemudian, kondektur kembali teriak. “Dewi Sartika… Dewi Sartika….”
Penumpang kembali turun.
Setelah beberapa saat bus melaju, penumpang bus kini tinggal Abah Sobled. Bus terus berputar-putar di dalam kota. Namun Abah belum juga turun dari bus. Abah merasa kesal karena sudah cukup lama duduk di dalam bus. Abah mendatangi kondektur. “Ti tadi nu disebut teh ngaran Sudirman, Thamrin, Dewi Sartika wae . Abah geh hayang turun blegug. Iraha ngaran Abah disebut…(Dari tadi yang disebut nama Sudirman, Thamrin, Dewi Sarta. Abah ingin turun. Kapan nama abah disebut) !!!”
Mata Abah melotot. Kondektur bus melongo. (qizink)

 

III. MEMBELI OPEN

Sesampainya di Jakarta, Abah Sobled teringat pesan isteri Pak Camat yang meminta dibelikan oven. Abah Sobled tentu saja kebingungan, karena dia belum tahu bentuk oven. Yang ia tahu, berdasarkan penjelasan isteri Pak Camat, oven merupakan perkakas untuk memanggang kue.
Abah Sobled berjalan menyusuri Jakarta untuk mencari barang pesanan isteri Pak Camat. Di tengah perjalanan, Abah Sobled melihat tempat penukaran uang atau money changer yang di kaca pintunya tergantung sebuah tulisan ‘OPEN’. Karena logat orang sekitar Banten Selatan yang sulit membedakan aksen ‘V’, ‘F’, dan ‘P’, maka Abah Sobled berpikiran bahwa ‘OPEN’ sama dengan ‘OVEN’. Namun Abah Sobled bingung bagaimana cara membelinya. Abah Sobled pun hanya mematung di depan pintu masuk tempat penukaran uang tersebut.
Di tengah kebingungannya, tiba-tiba ada orang China yang hendak masuk ke tempat penukaran. Melihat ada orang yang hendak masuk, Abah langsung mencegahnya.
“Tong asup (jangan masuk-red), bahaya!” teriak Abah Sobled.
Namun larangan itu tak diindahkan. Si China itu tetap masuk ke dalam tempat penukaran uang. Abah Sobled pun kembali berdiri mematung di depan pintu masuk.
Tak lama berselang, dari dalam tempat penukaran uang itu keluar turis asal Afrika. Melihat orang kulit hitam, Abah Sobled menghampirinya. Abah mengira turis Afrika yang berkulit legam itu adalah sama dengan Si China tadi.
“Ceuk aing geh ceuk aing, tong asup. Tah jadi tutung sia asup ka open. (kata saya juga apa, jangan masuk. jadi gosong kamu masuk ke open!”
Si negro hanya melongo! (qizink)

 

IV. DENDAM PADA KERETA

Supaya tidak asing dengan dunia luar, Pak Camat menyuruh Abah Sobled untuk datang ke kota.
Pagi-pagi sekali, Abah Sobled berjalan kaki menuju stasiun Rangkasbitung. Sesampainya di stasiun, Abah langsung membeli tiket untuk jurusan ke Jakarta. Berdasarkan jadwal, sekitar 30 menit lagi kereta baru akan tiba.
Namun setelah ditunggu satu jam… dua jam… kereta juga tak datang. Sampai karena saking lelah dan kesalnya, Abah Sobled akhirnya tertidur lelap. Saat bangun, Abah mendapatkan informasi dari petugas stasiun bahwa kereta yang ditunggunya sudah lewat. Abah Sobled kesal. Tiket yang dipegangnya langsung dirobek.
Esok harinya, Abah datang kembali ke stasiun setelah melalui perjalanan panjang dari kampungnya. Membeli tiket seperti kemarin. Berdasarkan jadwal di tiket, kereta akan tiba 30 menit lagi.
Abah sabar menunggu… 30 menit… 1 jam… 2 jam. Rasa kantuk ditahannya. Saat hampir tiga jam menanti, kereta yang ditunggu Abah pun datang dan berhenti tepat di depan Abah.
Setelah berhenti, Abah segera bangkit dari tempat duduknya. Dan dalam sekejap, Abah lari sekencang-kencangnya di jalur rel kereta api arah Jakarta. Petugas stasiun yang melihat langsung mengejar Abah. Aksi kejar-kejaran antara Abah dan petugas stasiun pun terjadi di sepanjang rel Rangkasbitung – Jakarta. Setelah lebih dari 10 KM berlari, petugas stasiun akhirnya berhasil menyusul Abah.
“Abah kenapa lari?” tanya petugas dengan nafas ngos-ngosong.
“Abah dendam. Kemarin Abah ditinggalin kereta. Sekarang Abah yang ninggalin kereta,” sahut Abah polos. (qizink)

 

V.TINGGI ATAU PANJANG

Rombongan pejabat tinggi dari pemerintah pusat akan datang ke sebuah perkampungan di wilayah Banten Selatan. Untuk menyambut para pejabat tinggi ini, Pak Camat menginstruksikan kepada warganya, terutama yang rumahnya di tepi jalan agar memasang bendera sebagai tanda penghormatan.
Dan untuk memastikan bahwa warganya telah mematuhinya, Pak Camat pun keliling daerah. Pak Camat yang lulusan perguruan tinggi ternama itu tersenyum sumringah saat melihat hampir semua warganya memasang bendera. Namun tiba-tiba bola mata Pak Camat mendelik, saat melihat tiang bendera di depan rumah Abah Sobled masih terlihat kosong. Tak ada bendera yang berkibar di tiang bendera milik Abah yang terkenal sebagai jawara kampung ini.
Pak Camat bergegas turun dari mobil Kijangnya dengan dikawal dua ajudannya untuk mencari Abah Sobled. Kebetulan sekali pada saat itu, Abah Sobled sedang ada di rumah.
“Kenapa Abah tidak memasang bendera,” cerocos Pak Camat tanpa basa-basi.
“Susah masangnya, Pak Camat. Tali kerekan tiang benderanya sudah putus,” sahut Abah santai.
“Pasang lagi saja talinya,” saran Pak Camat.
“Susah masang talinya. Tiangnya kan tinggi. Besinya kecil. Saya tidak bisa naik sampai atas.”
“Abah nih banyak alasan. Tiang benderanya Abah copot dulu. Terus Abah ukur tingginya. Kan gampang. Makanya dulu Abah tuh sekolah, biar pinter!!!” suara Pak Camat ketus.
“Kalau tiangnya dicopot dulu, itu sih bukan ngukur tinggi, tapi ngukur panjang. Iya kan…?” balas Abah Sobled.
“grrrhh…”
Pak Camat hanya menghela nafas. Dalam hati Pak Camat membenarkan pernyataan Abah Sobled.
Pak Camat lalu meninggalkan Abah Sobled yang memandanginya dengan tatapan kosong. (qizink)

Baliho

6 Feb

Oleh : Qizink La Aziva

Ini cerita dari kawanku tentang baliho para calon anggota legislatif (caleg) yang bercakap-cakap di malam hari.

***
Malam telah larut. Langit makin pekat dengan bulan sealis. Angin berhembus perlahan menerobos gerbang komplek perumahan yang dipenuhi baliho.
Wajah Yosi di baliho 2×3 meter makin kusut. Mata Komar menatap tajam wajah Yosi, menantu tersayangnya.
“Kuperhatikan dari siang wajahmu kusut terus. Kalau wajahmu kecut begitu, mana ada warga yang akan simpati untuk memilihmu,” ungkap Komar.
Yosi tak segera menyahut. Perempuan dengan rambut sebahu tersebut malah makin kecut wajahnya.
“Ada apa sayang. Bilang sama Om, kenapa cemberut begitu. Saat kampanye, perbanyaklah senyum,” suara Komar lembut. Namun karena malam itu hening, suara pria yang rambutnya telah beruban itu terdengar nyaring di telinga Yosi.
“Yosi lagi jengkel Om,” ujar Yosi. Tubuhnya bergoyang ditiup angin. “Coba Om perhatikan baliho yang ada di bawah kita!”
Di bawah baliho Yosi yang tertancap pada batang bambu itu terdapat sebuah poster caleg muda. Caleg dari Partai Kuning Langsat (PKL) itu memakai kaca mata hitam. Tak diketahui, apakah dia tertidur atau mendengarkan percakapan Yosi dan mertuanya.
“Ah, dia itu kan baru politisi ingusan. Anak kemaren sore. Apa yang kamu takutkan. Dia bukan tandinganmu dalam meraih suara. Tenanglah,” ungkap Komar.
“Bukan masalah perolehan suara Om. Kalau masalah suara, saya sudah yakin bakal mendapatkannya. Om sudah mengajarkan bagaimana cara membeli suara.”
“Terus apa yang kamu risaukan,” potong Komar.
“Yosi kesal karena baliho itu berada di bawah baliho kita Om. Aku kan malu. Apa Om nggak perhatikan kalau foto Yosi ini sedang pakai rok dan Yosi lupa pakai daleman saat dulu difoto.”
Wajah Yosi memerah.
Om Komar terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Angin mulai berhembus kencang. Hujan mulai merintik.
Tanpa disadari, percakapan Yosi dan Om Komar itu tengah didengar Maksuni, caleg dari Partai Kuda Lumping Juragan Gabah (PKL Juga). Baliho Maksuni yang jaraknya setombak dari Baliho Yosi itu bergoyang-goyang. Wajah maksuni berubah tersenyum.
“Hei, ngapain kamu senyum-senyum!” teriak Komar pada Maksuni.
“Emang saya nggak boleh tersenyum. Hak saya dong mau senyum atau cemberut.”
“Ngeledek ya!” balas Yosi.
“Nggak… aku cuma ngebayangin….”
“Kurang ajar… pasti kamu juga ngebayangin yang nggak-nggak tentang aku ya…!” potong Yosi cepat.
Maksuni tertawa terbahak-bahak.
Dulunya Maksuni separtai dengan Yosi. Ia juga pernah menjalin asmara dengan Yosi. Tapi sejak Yosi menikah dengan anak Om Komar yang merupakan petinggi partai, Maksuni langsung pilih pindah partai.
“Alah…. aku sudah tahu koq.”
“Dasar politisi bejat!” teriak Yosi.
“Bejatnya kan bareng kamu! hahahaha…” tawa Maksuni makin nyaring.
Wajah Komar makin merah padam. Amarahnya memuncak. Angin malam makin tak karuan.
Komar ingin juga ikut mendamprat Maksuni. Tapi itu diurungkannya. Sebagai mantan anak buahnya, Maksuni mengantongi rahasia pribadinya. Saat masih di partai, Maksuni pernah memergoki Om Komar bercumbu dengan ibunda Yosi yang merupakan artis dangdut. Komar akhirnya memilih diam. Sementara pertengkaran mulut antara Yosi dan Maksuni makin seru.
Keduanya saling hina.
Keduanya saling ledek.
Keduanya saling damprat.
Keduanya saling hujat.
Keduanya membuka aibnya masing-masing.
Pertengkaran kedua caleg ini mendapat perhatian dari para caleg yang sedang nampang di gerbang perumahan ini.
Ada yang balihonya bergoyang-goyang ditiup angin seakan mengompori Yosi dan Maksuni agar terus ribut.
Ada yang balihonya nyungsep diterjang angin seakan meledek kedua calon senator yang sedang adu mulut.
“Kalau cintamu aku tolak, tak usahlah kau cari perhatian begitu!” teriak Yosi.
“Cinta…. hahaha… aku tak pernah menaruh cinta padamu Yosi. Mana ada cinta di tangan seorang politisi seperti aku. Di mata politisi hanya ada hasrat dan perselingkuhan… hahaha…” tubuh Maksuni yang tambun berguncang.
Wajah Yosi merah padam.
Wajah Komar pasi.
Wajah Maksuni ceria di atas angin.
Wajah caleg muda yang ada di bawah baliho Yosi tetap dingin.
Angin makin kencang memompa pertarungan antara Yosi dan Maksuni. Pertarungan tak lagi hanya adu mulut. Baliho keduanya semakin bergoyang ke kiri dan kanan.
Baliho Yosi mendamprat Baliho Maksuni.
Baliho Maksuni mendamprat baliho Yosi.
Baliho caleg lainnya ikut bergoyang kencang.
Hingga menjelang subuh, pertarungan baliho berlangsung. Pertarungan itu baru bisa terhenti, saat angin puting menghantam seluruh baliho. Dalam beberapa jenak, seluruh baliho ambruk di atas tanah.
Pagi harinya, warga komplek bersikap tak peduli saat menyaksikan baliho para caleg itu ambruk dan saling tumpuk.

****

Begitulah cerita dari kawanku tentang baliho para caleg yang bercakap-cakap di malam hari. Percayakah Anda? (*)

Banten, Februari 2009.

Apa yang Kau Dapat dari Spanduk Caleg

6 Feb

Setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa calon anggota legislatif (caleg) terpilih berdasarkan suara terbanyak, seluruh caleg berlomba-lomba menarik simpati masyarakat, baik yang bernomor urut kecil maupun besar. Beragam media dimanfaatkan untuk mensosialisasikan dirinya, yang terbanyak adalah spanduk, baliho, banner, dan stiker.

Qizink La Aziva-Bnten

Dalam sebulan terakhir, sudut-sudut Kota Serang dipenuhi ragam media sosialisasi caleg yang akan bertarung pada Pemilu 2009. Daerah pinggiran Kota menjadi sentra para caleg untuk memasang media sosialisasinya, karena jalur protokol sudah menjadi medan terlarang untuk sosialisasi diri.
Yang paling mencolok adalah di komplek-komplek perumahan. hampir di setiap gerbang komplek perumah dipastikan dipenuhi puluhan spanduk dan baliho beragam ukuran milik caleg. Dengan pemasangan yang tidak tertata, keberadaan media sosialisasi ini membuat pemandangan komplek perumahan menjadi semrawut.
Selain komplek perumahan, area yang kerap menjadi incaran para caleg untuk memasang media sosialisasinya adalah perempatan jalan dan pohon besar. Sehingga tak aneh, jika dalam satu pohon terdapat 3 hingga lima poster caleg. 
Selain tampak semrawut, materi yang dituangkan dalam media sosialisasi para caleg juga terkesan standar. Secara umum, materi kalimat yang tertuang dalam spanduk para caleg adalah nama, nomor urut, dan tanda contrengan. Sedangkan kalimat yang digunakan hanya ‘Mohon Do’a dan Dukungan’ dengan ditambahi kalimat standar untuk menarik hati rakyat, misalnya berbunyi ‘Maju Bersama Rakyat’, ‘Peduli pada Rakyat’, dan sebagainya. Untuk mempercantik tampilan, dalam spanduk dihiasi wajah caleg dengan berbagai pose ditambah logo partai serta tokoh nasional yang sedang digadang-gadang bakal maju menjadi calon presiden. Potret Soesilo Bambang Yudhoyono banyak dipakai para caleg dari Partai Demokrat, foto Megawati ikut menghiasi caleg PDI Perjuangan, Sultan Hamengkubowono juga ada di beberapa spanduk caleg partai RepublikaN.
Yang tak kalah menarik adalah materi sosialisasi yang disuguhkan para calon anggota DPD. Karena dalam kertas suara, calon anggota DPD bakal dilengkapi foto diri calon yang tampil secara eksentrik bahkan hingga terkesan berlebihan. Ada calon DPD yang misalnya memasang fotonya dengan sorban, padahal sorban itu tidak menjadi identitas pribadinnya yang melekat dalam keseharian hidupnya. Sementara untuk calon DPD dari kalangan perempuan, fotonya ditampil secantik mungkin dengan tata rias wajah yang wah.
Hanya ada satu dua caleg yang berani menampilkan isi kalimat berbeda dalam spanduknya. Thoyib Fanani, caleg DPRD Banten dari daerah pemilihan Kabupaten/Kota Serang misalnya, berani tampil kreatif dengan memanfaatkan kalimat ‘Belok Kiri Langsung’ dalam poster kampanyenya. Sehingga poster yang banyak dipasang di tiap perempatan jalan ini kerap menjadi perhatian pengguna jalan.
Rudi Kurniadi, caleg DPRD Kota Serang dari daerah pemilihan Kecamatan Serang juga berani tampil beda. Dalam media sosialisasi yang dibuatnya, Rudi hanya menampilkan puisi yang berisi ajakan kepada masyarakat untuk tepat dalam memilih calon pemimpin. Tak ada kalimat langsung yang secara khusus untuk mengajak masyarakat agar mencoblos dirinya. Selain itu, potret dirinya juga dibuat hanya dalam bentuk sketsa. “Saya memang ingin tampil beda. Saya tidak menampilkan diri saya sendiri dalam kampanye. Saya juga tak mau menonjolkan diri saya pribadi, karena saya menyadari bahwa setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan. Saya hanya mengajak mayarakat agar betul-betul memerhatikan calon pemimpin yang akan dipilihnya,” ujar Rudi memberi penjelasan tentang materi media sosialisasinya.
Di mata Ahmad Supena, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia Untirta, sebagian besar materi yang digunakan para caleg hanya menonjolkan ego masing-masing caleg. Hal ini terlihat dari materinya yang lebih mengedepankan sisi individu caleg. “Saya nilai materinya masih bersifat narsis,” ungkapnya.
Menurutnya, materi sosialisasi caleg lebih baik berisi tentang visi misi para caleg bila mereka terpilih. “Selama ini yang muncul hanya data pribadi. Sementara masyarakat tidak diberitahu lewat media kampanye tersebut tentang apa yang akan mereka lakukan untuk masyarakat bila mereka terpilih. Masyarakat hanya disuguhi nama dan potret caleg tanpa diberitahu apa yang akan mereka lakukan setelah jadi anggota legislatif,” ujarnya. (*)

Damai Itu Adalah…

5 Jan

MIDEAST-PALESTINIAN-ISRAEL-GAZA-CONFLICTDamai bagi warga di Palestina adalah harapan. Berharap tak ada lagi invasi dari zionis Israel. Berharap bisa mimpi indah saat tidur malam. Berharap, tak ada lagi anak-anak kecil meregang nyawa atau menangis histeris dengan wajah berdarah. Berharap perang tak lagi datang. Untuk kedamaian warga Palestina ini, saya hanya turut berdoa semoga harapan itu terwujudkan.

MIDEAST-ISRAEL-GAZA-CONFLICTDamai bagi warga Israel adalah tipu daya. Sebuah tipuan menawarkan kedamaian dengan roket ditangan. Sebuah tipuan menyuguhkan persahabatan dengan wajah permusuhan. Menghadapi tipuan kedamaian dari kebengisan Israel ini, saya hanya teringat sebuah kalimat indah dari Yusuf Qardhawi, “berdamai dengan perampok yang hanya mau mengembalikan secuil hasil rampokannya adalah bodoh. Di dalamnya terkandung ketidakadilan . Yahudi seharusnya hengkang dulu baru bicara perdamaian.

Damai bagi warga Bandung adalah kreatifitas. Sebuah kreatifitas dengan mewujudkan jargon damai dalam stiker atau kaos-kaos bertuliskan ABCD ‘Anak Bandung Cinta Damai’. Untuk kalimat damai ini, saya mengacungkan jempol bagi warga Bandung yang telah kreatif.

Damai bagi warga yang hendak ditilang polisi lalu lintas adalah cara pintas. Cara pintas agar tidak menghadapi sidang tilang yang sangat merepotkan. Dengan kalimat, “Damai saja, Pak.” sambil menyodorkan selembar uang 20 ribuan atau 50 ribuan, maka warga yang hendak ditilang bisa melenggang aman. Terhadap cara damai seperti ini, saya hanya bisa mengelus dada, yang menyuap dan yang disuap sama saja nilainya.

Damai bagi anak kecil adalah makanan murah meriah seharga lima ratus perak atau gope. Makanan bermerk ‘Damai’ ini lezat dengan isi kacang hijau. Mengenai ‘Damai’ ini saya hanya tersenyum terkenang dengan masa kecilku yang juga turut menikmati kue ini.

Lha terus apa sebenarnya makna Damai bagiku.

Damai bagiku adalah agama. Islam sebagai agama yang kuanut berarti adalah keselamatan dan kedamaian.

Sekarang apa arti Damai bagi kalian ?

Banten dalam Sajak

1 Jan

KAIBON

di bawah gerbang bentar

tubuh ibu bergetar

telah lama ia menghamba

menyaksi remah sejarah dimakan usia

 

batu-batu berserakan

menunggu purnama musim penghujan

sejengkal kaki berjalan

tiang padurasa menghadang

tak ada lagi jendela istana

tempat ibu memandang liuk cibanten

 

air sungai membaja

jembatan rante tak lagi guna

tak ada perahu

dari negeri jauh melempar sauh

 

air mata ibu

menjadi batu di kaibon

 

Banten, Juli 2007-Januari 2009

 

WATU GILANG

tak ada lagi sultan

dinobatkan di atas watu gilang

 

hanya ada bocah bertelanjang dada

berebut bola di lapang terbuka

kakinya berdarah

                   tertusuk duri sejarah

 

puing pakuwon di sisi kanan

adalah saksi kuasa amarah

 

Banten, 2007-2008

 

NASI AKING

 

sepiring nasi aking

kita makan bersama

di tepi puing istana

 

itu siapa

lelaki bersorban serupa sultan

burung-burung kenari

yang telah mencatatkan duka pada helai sejarah

mengejar angin tak sampai dermaga

 

itu siapa

lelaki bertahta serupa maulana

Banten, April 2007

 

ISTANA

di depan gerbang istana yang tak lagi utuh

aku bersapa ibunda sultan

tersenyum dari puncak menara

 

pada tumpukan batu berlumut

aku masih mencium darah sultan

mengaliri kolam-kolam pemandian

 

permaisuri mencucurkan duka

hingga keruh airmatanya

 

dan setelah istana ini runtuh

siapa yang hendak menjadi sultan

kembali.

 

Banten, 2009

 

MAULANA

lelaki yang kau sebut maulana

membatu di dermaga renta

jubahnya menciumi bangkai perahu

 

pesta istana telah ditutup badai samudera

di meja-meja makan

pangeran terlelap kenyang

 

maulana, apa yang kau sisa untuk kami

Juni 2007

 

LIDAH API

aku telah mendayung sampan

sampai berpeluh harapan

tapi tak terdengar

ada kepak camar

 

ikan-ikan telah mati

dikutuki lidah api

 

awas amuk badai

oh dahaga semesta

di mana sampan akan dilabuhkan

 

Banten, 2007

Sajak Kenangan Akhir Tahun

29 Des

mari kita kenang kembali

saat kita menunggu matahari

pada senja di pantai itu

 

kaki kita bertelanjang diciumi lidah ombak

“jangan kau tuliskan namaku di pasir itu.”

katamu

 

lalu kita hanya mengeja kata-kata cinta

dikabarkan waktu yang berganti selalu

“jangan percaya pada angin.”

katamu

 

mari kita kenang kembali

 

Pantai Anyer, jelang 2009

 

# Jaga Kafka dan calon anak kita

Ke Bali Harus Berjinah

15 Des

 

Postingan ini sebenarnya sudah lama mengendap di otakku, tapi baru sempat aku ketikkan.

Postingan ini secuil tentang perjalananku ke Bali, akhir bulan lalu. Tak banyak lokasi yang kukunjungi dalam perjalanan selama dua hari ini, kecuali menyusuri sepanjang jalan Legian, Kuta, serta melancong sebentar ke Gianyar. Hujan yang selalu turun di Bali membuatku demam tubuhku. (Maaf kepada kawanku yang memesan arak Bali, karena aku hanya bisa membawakanmu Kacang Disco dari Kresna).

Dari Bali aku mendapatkan beberapa catatan kosa kata bahasa yang terdengar lucu. Wayan Menik, perempuan Bali banyak mengenalkan kosa kata yang cukup asing dan membuatku tersenyum, geleng-geleng kepala, bahkan tertawa ngakak.

Di mata orang Bali, kata (bahkan daerah) Banten merupakan sesuatu yang suci. Padahal salah satu pelaku BOm Bali yakni Imam Samudera adalah orang Banten. “Orang Bali terutama yang di daerah perkampungan penasaran ingin tahu Banten, karena Banten itu sesutu yang dijadikan alat persembahan atau sesajen yang dianggap suci,” terang Menik.

O…. githu!

Ah, jangan-jangan Banten dan Bali memang ada kaitannya. Bukankah dulu Banten juga merupakan daerah keraja Hindu. Bahkan kerajaan Salakanagara di Pandeglang yang hingga kini masih diperdebatkan termasuk kerjaan Hindu tertua. (Moga saja ahli sejarah segera menemukannya).

Lha terus apa hubungannya dengan judul tulisanku ini. Nah Menik juga ngasih tahu kalo orang Bali menyebut uang dengan kata  pipis. Kata yang lebih halus adalah jinah (ingat bukan zinah). “Ke Bali memang harus berjinah (memiliki uang) supaya bisa beli banyak oleh-ole,” kelakar Menik yang membuatku tertawa.

Ah, lain ladang memang lain belalang. Lain daerah tentu lain pula budaya dan bahasanya. Kata pipis dan jinah di daerah lain mungkin terdengar sangat saru. Tapi di Bali itu kata biasa yang sering diucapkan.

Apakah di daerah kalian ada kalimat yang di daerah lain artinya berbeda?