Eksekusi Mati

29 Okt

Malam ini aku hanya bisa tersenyum. DI layar kaca televisi, seorang pria berkemeja cokelat (sungguh aku tak mengenalnya), sudah memastikan jadwal eksekusi mati untukku. Hm, berani sekali pria itu menentukan jadwal untuk kematianku. Sejak kapan dia diangkat menjadi Tuhan, sehingga berani menentukan jadwal kematian yang sebetulnya menjadi prerogatif Tuhan. Hm, untung saja ia berada jauh di sana. Andai saja dia dekat, mungkin sudah kucekik lehernya. Mungkin terasa nikmat, mencekik orang yang congkak yang hendak merebut kekuasaan Tuhan seperti pria itu.

“Kau sudah mendengarnya?” Bewok mempertanyakan. Bewok juga terhukum mati. Tapi nasibnya masih terkatung-katung. Lelaki yang dituduh sebagai pembunuh berencana terhadap lima orang jawara di Banten tersebut sampai sekarang belum ada kepastian tentang eksekusinya. PAdahal dia sudah 13 tahun dipenjara.

Aku menggukkan kepala.

“Kamu takut?” Tanyanya lagi, sambil menselonjorkan kakinya di lantai penjara yang sepi.

“Haha… sejak kapan aku takut dengan kematian. Aku sudah siap. Sebelum hakim memutuskan hukuman mati untukku, aku sudah siap dengan kematian. Kematian sudah menjadi hak kita yang tak mungkin kita lewatkan.”

Aha, kalian pasti bertanya-tanya mengapa aku sampai dihukum mati. Maaf, aku tak akan menceritakannya. Semuanya sudah aku jelaskan di pengadilan. Yang pasti aku bukan pelaku pembunuhan berencana dengan korban dimutilasi atau dengan modus sadis lainnya, seperti yang ditayangkan televisi. Jangankan untuk membunuh orang, liat darah ayam dipotong saja, tubuhku sudah gemetaran.

Aku juga tak termasuk dalam jaringan teroris, apalagi sebagai pengedar narkoba.

Lho, terus kenapa aku ditahan? (itu kan yang kamu pertanyakan)

Sudahlah, tak usah kalian bertanya tentang hukum. Di negeriku, hukum itu sesuatu gelap. Tak perlu kejelasan dan penjelasan. Aku sudah capek, berbusa-busa di pengadilan membela diri bahwa aku tak melakukan apa yang jaksa tuntut. Tapi mereka semua diam. Aku tetap dihukum. Aku sudah melakukan banding hingga ke tingkat paling atas, tapi semuanya sama. Aku capek.

Sekarang mereka mempersiapkan jadwal kematian untukku.

***

Masa isolasi di sel aku nikmati untuk bercengkrama dengan isteri dan dua anakku. Ya, permintaan terakhirku sebelum mati, hanya ingin berkumpul dengan keluargaku. Lucu sekali melihat si Azka, anak bungsuku yang baru berumur lima tahun pakai baju polisi kedodoran.

“Pak, beliin topinya!” ucapnya sambil ngelus-elus kepalanya yang botak. Aku mengguk pelan.

Isteriku tersenyum, walau aku bisa memastikan hatinya sangat pedih tahu suaminya dalam dua hari lagi akan menghadapi regu tembak.

Ibuku hadir juga di ruang karantina. Tapi dia lebih banyak diam.

“Sabar. Banyak doa…” cuma itu yang ibu katakan. Ada air mata yang nyangkut di ujung kelopak matanya.

****

Pukul 23.45, aku dibawa keluar dari ruang tahan. Aku dimasukkan dalam mobil dengan dikawal sejumlah aparat keamanan. Mobil melaju kencang. Sejumlah wartawan bergerombol di depan pintu rutan. Blizt kamera menyorot ke kendaraan yang kami tumpangi.

Mobil melaju semakin kencang. Seorang kameramen hampir tertabrak. Aha, salut sekali aku dengan kerja keras para wartawan itu. Sampai larut malam mereka masih memburu berita.

Mobil memasuki kawasan hutan lindung di pinggiran kota. Beberapa jenak kemudian mobil melambat. Mobil berhenti.

***

Sebelum mataku ditutup, aku masih sempat menyaksikan para penembak bersiaga di hadapanku.

DOR! (end)

***

41 Tanggapan to “Eksekusi Mati”

  1. bisaku Oktober 29, 2008 pada 8:26 am #

    Tragis kalau memang di negeri ini bisa terjadi hal seperti yang dimaksud. Tapi kenyataan yang ada juga tidak bisa mengungkapkan segalanya, hanya saja, siapa yang berbuat dan dikorbankan hanya bisa diperdebatkan di dalam hati. Karena peradilan dan kematian adalah 2 sahabat yang saling mencibir satu sama lain dalam kasus diatas … hanya saja, kalaupun memang dirinya tiada berbuat, kiranya berikan keikhlasan demi cintanya atas keluarga …

  2. ulan Oktober 29, 2008 pada 8:42 am #

    waaaa….
    mati mas??
    *di getok*

  3. mikekono Oktober 29, 2008 pada 9:08 am #

    eksekusi mati sprtinya mengambilalih
    hak prerogatif Gusti Allah…..
    sebaliknya membunuh orang
    juga telah mencederai otoritas Tuhan

  4. cahtuban Oktober 29, 2008 pada 9:08 am #

    nyindir neh nyindir😀

  5. nurma Oktober 29, 2008 pada 9:56 am #

    wah kirain td beneran, sampe mikir, apa yg punya blog ini salah satu penghuni nusakambangan yg berhasil nyelundupin leptop yah??!

  6. kucingkeren Oktober 29, 2008 pada 11:18 am #

    wah itu suara hati ‘mereka’ ya , kang?

  7. Dalila Sadida Oktober 29, 2008 pada 12:17 pm #

    wah, hukum Indonesia ya… hm… *mikir* yang penting ada “korbannya”, biar tradisi kita yang mengedepankan formalitas daripada realita terlaksana. hoe… aku belagu banget >.<

  8. Cabe Rawit Oktober 29, 2008 pada 2:30 pm #

    Lha… lha… kalau udah mati, kok masih bisa nulis kisah ini ya?😯
    *difalu*

  9. yulism Oktober 29, 2008 pada 3:28 pm #

    Konsekwensi dari perbuatan sudah menjadi resiko setiap tindakan yang diambil. Tetapi jika hal itu terjadi karena kesalahan dalam sistem hukum yang berlaku, mengenaskan sekali. Thanks

  10. Sawali Tuhusetya Oktober 29, 2008 pada 4:11 pm #

    hukum di negeri ini agaknya bener telah lumpuh dan tak berdaya, mas qizink sehingga orang yang tak bersalah bisa divonis sebagai pesakitan bahan harus dieksekusi. sungguh, kalau hukum sudah hancur, imbasnya akan terjadi pembonsaian nilai2 kemanusiaan,, semoga para hakim bisa betindak atas dasar nurani dan nilai2 kebenaran sejati.

  11. Pakde Oktober 29, 2008 pada 7:43 pm #

    Sulit memilah mana yang benar kalau kita tidak melihat bukan dari kacamata kebenaran. Ingin berontak tapi bisa apa aku? Semoga kita tetap dalam jalan yang di ridhoi allah.

  12. suhadinet Oktober 29, 2008 pada 10:28 pm #

    Tidak setuju hukuman mati ya mas qizink? He.he…

  13. Yari NK Oktober 30, 2008 pada 3:40 am #

    Pengadilan dunia tidak selamanya adil, namun pengadilan Allah kelaklah yang maha adil. Jikalau terpidana mati menjalani hukumannya terlalu berat, saya percaya Allah maha adil, dan di akhirat kelak ia akan mendapatkan keadilan tersebut sebagai kompensasi kerugiannya ketika menjalani hukuman di dunia.

    Namun, Allah juga maha adil, jikalau hukuman mati (dan juga hukuman2 lainnya tentu saja) tersebut ‘terlalu ringan’ baginya, Allah juga akan bertindak adil di akhirat kelak dengan menambah hukumannya.

    Yang penting adalah mari kita melakukan sesuatu dengan cara yang diridhai-Nya, janganlah melakukan kerusakan di dunia ciptaanNya ini, dan tetap takut kepadaNya……

  14. arifrahmanlubis Oktober 30, 2008 pada 4:12 am #

    saya justru kasian ke para penembaknya.

    tentu profesi yang sangat tidak menyenangkan.

  15. pimbem Oktober 30, 2008 pada 4:45 am #

    memang hukuman mati msh ada pro dan kontra… saya pribadi berpendapat kl penjahat kelamin seperti pemerkosa, pelaku pedofilia, robot gedek, dsb sebaiknya dihukum mati saja. oh iya satu lg, koruptor.
    mudah2an hukum di negara ini menjadi lebih baik. Amin.

  16. afwan auliyar Oktober 30, 2008 pada 7:18 am #

    kematian adalah hak semua manusia ….🙂
    bukan mati yang jadi soal, tetapi sehabis kematian itulah yg menjadi beban😀

  17. amaliasolicha Oktober 30, 2008 pada 9:57 am #

    otak sy berpikir, jika benar ini terjadi dengan sang penulis, kok yo hari ini dia masih bisa komenk pertamax di blog sy?? uiiih.. syereeem jg yak:mrgreen:

  18. kishandono Oktober 30, 2008 pada 10:12 am #

    Hidup matinya manusia ditakdirkan Tuhan, apakah menerima hukuman mati juga merupakan takdir-Nya? Manusia ditakdirkan untuk mengingkari takdirnya.

  19. Tony Oktober 30, 2008 pada 10:59 am #

    ih serem ya

  20. Abeeayang™ Oktober 30, 2008 pada 11:18 am #

    hukuman mati yang layak diapain yaks? 😦

  21. Blogunik Oktober 30, 2008 pada 11:34 am #

    Wah penulis ceritanya “Online” dari alam kubur kayaknya 🙂

  22. Yogi Oktober 31, 2008 pada 12:23 am #

    yang jadi pertanyaan ….. kapan sayta mati yah biar bisa kenalan sama author Blog ini hahahaha

    lam kenal boss

  23. Ersis Warmansyah Abbas Oktober 31, 2008 pada 12:30 am #

    Mati adalah kepastian paling pasti

  24. jeunglala Oktober 31, 2008 pada 7:48 am #

    Mas,
    Saya jadi bertanya2:
    Apa yang dirasakan sama si Algojo Pencabut Nyawa itu ya? Memang, dia tidak tahu apakah pistolnya berpeluru, tapi bukankah dia juga tahu bahwa mungkin saja pistol yang dia sentakkan itulah yang mencabut nyawa seorang manusia…

  25. Edi Psw Oktober 31, 2008 pada 8:29 am #

    Ngeri kalau nonton eksekusi mati.

  26. fisha17 Oktober 31, 2008 pada 11:08 am #

    gak tegaan..

  27. latree Oktober 31, 2008 pada 11:15 am #

    itulah sebabnya diperlukan bertahun-tahun, karena si pengganjar hukuman pun harus sangat yakin akan keputusannya
    hatta jika keyakinannya itu salah, itu mungkin hanya karena keterbatasannya sebagai manusia untuk menerjemahkan fakta-fakta yang dituturkan dihadapannya.

    wallahu a’lam, semoga semua dilakukan dengan niat menegakkan keadilan.

  28. Daniel Mahendra Oktober 31, 2008 pada 8:55 pm #

    Haih! Rupanya manusia telah mengangkat dirinya sebagai Tuhan…

  29. hidayat November 1, 2008 pada 10:47 pm #

    mati???
    wah kurang seru…endingnya nikah gitu lo…he3x.bagaimana membuat tulisan yang judulnya eksekusi mati..tapi ending bahagia..he3x

  30. masDan November 2, 2008 pada 4:20 am #

    Kasihan Kasihan …. Teroris, Narkobis, Pembunuhis, Bukan .. Lantas apa Ya ??? Kaisah Kasihan … Kasihan ….

  31. Chic November 3, 2008 pada 8:27 am #

    hukuman mati memang dilema bila dalam kasus salah vonis *ah semua orang yang masuk penjara pun akan selalu punya alasan atas perbuatannya dan tidak merasa bersalah*

    lah ada hukuman mati aja ga bikin efek jera buat pelaku kejahatan *malah penjahat makin banyak*, apalagi ga ada…

  32. wi3nd November 3, 2008 pada 8:28 am #

    sebenernya hukum mati ituh bole nda seeh?

  33. nono November 3, 2008 pada 2:12 pm #

    duh…kok lama banget c AMROZI CS di DOR…

  34. OktaEndy November 4, 2008 pada 3:09 am #

    jadi ke inget film greenland
    film lama yang masih berkesan sampai sekarang.

  35. Donny Verdian November 4, 2008 pada 7:00 am #

    Aku sangat anti terhadap hukuman mati, tapi tetap yang menarik bagiku adalah benarhkah bahwa terpidana mati itu memiliki takdir kematian di tangan jaksa?

    Menurutku tidak!
    Sejak ia melakukan kejahatan sebenarnya saat itu pula ia telah mengguratkan awalan takdir kematian miliknya.
    Memang yang jadi masalah kalau si terpidana ternyata hanya korban hasutan, wah kalau sampai seperti itu urusannya ya baiknya kita serahkan pada Tuhan saja!

  36. ourkami November 5, 2008 pada 5:53 am #

    kasian sama eksekutornya, mereka memanggul beban yg berat, gelisah ‘jgn2 peluru yg hanya satu itu berada didlm senapanku?’

  37. fenny November 6, 2008 pada 1:40 pm #

    sejak keluar dari ruang administrasi, si napi ini biasanya sudah ditutup matanya, dan ga ada media yang tau jadwal kepastiannya. biasanya napi yang akan dihukum mati akan dijemput secara tiba2 oleh jaksanya. bahkan pengacaranya ga bole mendekat apalagi ngobrol dengan napi itu. yang ada hanya hening, dan gelap. napi ga bole ngeliat siapa eksekutornya, siapa yang memandangi kematiannya, dan ga ada yang boleh tau dimana lokasi eksekusinya….

    anyway ceritanya inspiratif euy…. memang hukum di Indonesia ini belum sepenuhnya bisa ditegakkan. asal ada uang, maka pengadilan siap menjatuhkan vonis apapun yang diminta….

  38. mercuryfalling November 7, 2008 pada 12:06 am #

    hihihi sama aja mas terpidana mati…mengambil nyawa orang dg cara ngebom juga bukan hak-mu

    *sok serius*

  39. wewenk November 7, 2008 pada 6:48 am #

    gimana yah perasaan kita.. beberapa saat saja tiga peluru dari beberapa orang penembak itu akan menembus jantung…

  40. angkasa November 10, 2008 pada 2:48 am #

    yang salah tetep salah hukum harus ditegakkan

  41. Iwul November 17, 2008 pada 10:35 am #

    Seyeeeeeeeeeeeemmmmmm!!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: