Di Balik ‘bulan sealis di matamu’

12 Sep

Sebenarnya sore ini aku lagi males buat ngepost. Niatnya cuma mau blogwalking sambil balesin komment. Tapi setelah liat komment di haiku berjudul ‘Awal Puasa’ yang kupost beberapa waktu lalu, aku jadi pengen nulis terutama buat nanggapi banyaknya komentar yang ‘nggak ngeh’, ‘nggak ngerti’, ‘nggak mudheng’ dengan haiku yang berisi sebaris kalimat berbunyi ‘bulan sealis di matamu’ itu.

Tentu saja, tulisan ini tak bermaksud mengajak pembaca untuk memahami apa yang aku tuliskan. Ketika karya itu sudah aku lahirkan, maka aku memberikan kebebasan kepada pembaca untuk mengapresiasinya. Bagiku ketidakmengertian pembaca akan karya yang aku lahirkan juga sebuah apresiasi. Aku tak punya hak untuk memonopoli pemahaman apresiator. Makanya tak aneh kemudian ada komentar dari Mas Daniel Mahendra yang dalam komentanya ingat dengan Penyair Besar (Maksudnya Sitor Situmorang yang menulis puisi berjudul Malam Lebaran dengan sebaris kalimat ‘bulan di atas kuburan’). Atau tafsir Wi3nd yang menganggap puisi ini sebuah harapan saya tentang puasa. Semua tafsir itu sah saja. Termasuk bagi yang punya tafsir nggak ngarti tadi.

Lha postingan ini terus untuk apa? Postingan ini hanya untuk menceritakan bagaimana haiku itu terlahirkan. Begini kisahnya (pake gaya pendongeng):

Pada malam awal puasa sepulang kerja, aku tiduran di bale-bale bambu depan rumah sambil ngisep rokok. Ngehayal sambli istirahat. Saat itulah, Kafka, anak semata wayangku yang baru berumur 2 tahun 3 bulan ngajak maen. Anakku ini seneng kalo maen di luar rumah pada malam hari. Apalagi kalao denger pesawat lewat. Dia suka nyeletuk, “Pilotnya koq nggak bobo.”

Bermain di luar rumah juga memberikan aku kesempatan kepada Kafka untuk memperkenalkan benda semesta, seperti bulan, bintang, awan, dsb. Kafka suka dengan bulan. Dianggapnya bulan adalah rumahnya pilot. 😀

Pada saat maen dengan Kafka itu, tiba-tiba aku melihat sebuah bintang jatuh. Aku langsung teriak, agar Kafka juga melihatnya. Namun saat nengok, bintang jatuh sudah tak terlihat. Kafka malah melihat ke atas, ke bulan tanggal pertama ramadhan. “Pa, bulannya koq kecil”.

Pada awal puasa, tentu saja bulan sangat kecil (bulan sabit). Aku juga ikut memerhatikan bulan yang dikomentari kafka. Aku melihat bulan sabit pada saat itu sangat indah. Bulan sabit itu lalu aku banding-bandingkan bentuknya dengan alis. Aha… akhirnya aku mendapatkan sebuah diksi ‘bulan sealis di matamu’. Bulan yang mengagumkan di mata anakku Kafka.

Selama beberapa hari, kalimat itu mengendap dalam otakku. Aku juga sering menggumamkannya saat menaiki motor. Aku sudah bertekad kalo kalimat itu harus menjadi sebuah puisi. Namun apa daya, setelah berulangkali memeras otak, aku tak juga menemukan kalimat untuk melanjutkannya. Aku hanya mampu menuliskan sebaris kalimat itu.

Begitulah proses lahirnya ‘Awal Puasa’….. (qizink)

Iklan

17 Tanggapan to “Di Balik ‘bulan sealis di matamu’”

  1. kucingkeren September 12, 2008 pada 8:54 am #

    Pada malam awal puasa sepulang kerja, aku tiduran di bale-bale bambu depan rumah sambil ngisep rokok…

    ayooo katanya gak kerja.. ?? hm..

    @ kucingkeren
    Aku nggak kerja tuh hari pertamanya…. bukan malamnya hehehe…
    aku nggak masuk kerja pada Senin tanggal 1 September. Sementara pada Minggu 31 Agustus aku tetep masuk! Hayooooo…..!
    tapi masukkan ini sebagai ralat menjadi ‘pada malam menjelang awal puasa sepulang kerja’…. hahaha

  2. FaNZ September 12, 2008 pada 9:06 am #

    owhh begetooo
    kirain si mas qizink lagi maen teka teki 😀

    @ FaNZ
    MEmang begitulah kisah singkatnya, mas!

  3. duniafannie September 12, 2008 pada 9:18 am #

    hmmm gitu ya
    +manggut-manggut+

    wah, kafka bener juga tuwh. pilotnya kok nggak bobo’ c?

    ^_^

    @ duniafannie
    kalo nggak bobo nanti digigit kebo… biasanya aku bilang gitu kalo kafka nggak mau bobo!

  4. suhadinet September 12, 2008 pada 9:28 am #

    Oh, jadi bulan sealis di matamu itu dulu posting ya. Walah Mas qizink, saya pikir apa itu….
    (garuk-garuk pala).

    Semoga Kafka jadi anak yang sholehah, pintar, berbakti pada orang tuanya. Banyak nanti rezekinya, bahagia hidupnya. Amin. (Saya juga ingin punya anak).

    suhadinet
    Awahh… jadi nggak dianggap postingan tuh… huhuh
    Amien atas doanya buat kafka!

  5. Muda Bentara September 12, 2008 pada 10:55 am #

    OOOO … gitchu … god job ya /…

    @ Muda Bentara
    ya githu deh!

  6. aRuL September 12, 2008 pada 4:39 pm #

    emang suatu kata aja memiliki penafsiran berbeda2…
    kadang harus dijelaskan detil baru dimengerti maksudna 🙂

    @ aRuL
    udah dapat tafsirnya???

  7. Ersis Warmansyah Abbas September 12, 2008 pada 5:08 pm #

    Kalimat bermakan dalam dan berumbai-rumbai. Salute.

    @ Ersis Warmansyah Abbas
    makasih!

  8. Daniel Mahendra September 12, 2008 pada 8:15 pm #

    Sampai sejauh ini, kalau aku melihat bulan, masih tetap seorang diri, Kang Qizink… 😀

    Berbahagialah dirimu!

    @ Daniel Mahendra
    Kafka adalah karya terindah yang aku hasilkan… hahaha! walaupun kadang nakal!

  9. doelsoehono September 13, 2008 pada 2:45 am #

    Salam

    Oeu…..satu kata bisa mengandung banyak makna

    DI tunggu ling baliknya

  10. Edi Psw September 13, 2008 pada 7:34 am #

    Anak-anak memang senang kalau diajak melihat bintang. Apalagi kalau mereka sudah hafal dengan lagu “bintang kecil”.

    @ Edi Psw
    Kafka malah nggak bisa lagu “bintang kecil”.. dia sukanya lagu
    O… o… kamu ketahuan… pacaran lagi… dst!

  11. deni setiawan September 13, 2008 pada 10:09 am #

    Terima kasih atas artikelnya,sangat bermanfaat. Bagi anda yg mau mengiklankan atau menjual rumah, tanah,mobil dll, atau mencari barang-barang kebutuhan rumah tangga baik baru maupun bekas bisa dilihat di http://www.infobarangbekas.com. Sebentar lagi akan muncul terobosan pasang iklan dapat penghasilan tambahan.tunggu saja ya…

  12. mitadriani September 13, 2008 pada 6:01 pm #

    Well done!!

    @ mitadriani
    😀

  13. nenyok September 14, 2008 pada 7:42 am #

    Salam
    Oh begitu toh *ngerti*

    @ nenyok
    Salam… ya begitulah kisahnya!

  14. Ridho September 14, 2008 pada 8:34 am #

    Saya gak terlalu mudeng dengan isi postingan ini. Mohon maaf ya, saya pamit dulu.

  15. wi3nd September 15, 2008 pada 6:45 am #

    ooowwww…
    ya..yaa..ya..heheheh..
    *9aruk9arukpala*
    ternyata 9ituh tokh..ahahah..jadi maluu..
    *tersipu*

  16. kris September 15, 2008 pada 10:10 am #

    Oooooooooooh.
    Bagus, bagus, baguuuuuus.
    *sok ngerti*

  17. genthokelir September 17, 2008 pada 11:23 am #

    wih menarik sekali jadi mengembang imaginasi
    betapa anda telah mengajarkan cakrawala pada si kecil ,apalagi bila sempat melihat bintang jatuh tentu papanya suruh ngambilin hehehe
    salam untuk keluarga

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: