‘Perempuan Gerabah’

26 Agu

 

 

Setelah lima bulan berproses, teater Studio Indonesia kembali menggelar pementasan teater yang bertajuk Perempuan Gerabah karya/sutradara Nandang Aradea pada tanggal 25-27 Agustus 2008 pukul 20.00 Wib di halaman Kafe Kebun Oregano Jl Bhayangkara no 17 Serang Banten. Garapan yang diusung oleh enam aktor ini; Taufik P. Pamungkas, Dedi Setiawan, Suryadi Sally Al-Faqir, Arip Fr, Desi Indriyani dan Mak Meryamah dipangungkan dalam konsep teater arena melingkar.

Tentang gagasan pertunjukan  

Tanah adalah tubuh kita, sumber segala kehidupan yang digambarkan sebagai tempat di mana terdapat susu dan madu yang berlimpah. Selain itu, tanah adalah juga metafor kelahiran dan segala sumber masalah, petaka dan kekacauan. Dan Perempuan Gerabah adalah personifikasi masyarakat kapitalisme yang gaya hidupnya digiring terus-menerus untuk mengkonsumsi,  yang cita rasanya dapat dibentuk, dipengaruhi dan diantisipasi. Ia rela diperintah serta mau melakukan apa yang diharapkan, seperti ditempatkan dalam mesin sosial tanpa banyak rewel. Ia diarahkan tanpa paksaan, dipimpin tanpa pemimpin, didorong tanpa tujuan—Ia menciptakan sesuatu, selalu bergerak, selau berputar, selalu berfungsi serta tak pernah menyerah. Ia terjebak dalam rutinitas yang ketat, dalam kerja-kerja mekanik. Ia kehilangan arah transendensi. Menghancurkan dan membangun. 

Kita sekarang ini hidup di dunia yang berantakan, yang berkeping-keping, yang bergulat entah untuk apa, yang bergerak dalam panik, yang memberhalakan pangkat namun memuja intelektual, yang seirama dalam ketakberiramaan, yang paradoks, yang dilematis, yang bahagia sekaligus sakit, yang pintar tapi rakus, yang menyeru hemat energi sambil mengendarai mobil yang boros bahan bakar, yang toleran namun sinis, yang merdeka namun terikat.

Manusia dengan susah payah membangun dunia (gerabah, sebagai analogi), dan setelah jadi sebuah bentuk, manusia merayakannya, membanggakannya, tapi di kemudian hari dunia itu jadi tak berharga, retak, pecah, diinjak-injak kaki sendiri dengan entah harus sakit entah harus bahagia. Tengoklah hubungan diri kita dengan demokrasi. Kita membangun demokrasi, memujanya, tapi kemudian kita meludahinya dan tidak mempercayainya. Tengoklah hubungan kita dengan tempat kita bekerja: pada mulanya kita berharap diterima, setelah diterima kita pun membanggakannya, dan setelah itu kita membencinya, bahkan ingin meruntuhkannya (seperti yang terjadi pada dunia buruh). Tengok pula dunia pendidikan, ada banyak guru yang mendidik dan sekaligus menghardik. Bahkan pada dunia cinta, kita dapat menyaksikan proses-proses perkenalan yang bertambah cepat (karena fasilitas media hp dan internet), tapi bersamaan dengan itu ada banyak sekali proses perceraian, dan bahkan ada pula proses pembunuhan dengan alasan yang sama: cinta. Cinta dan mutilasi tiba-tiba. memiliki hubungan yang dekat.

Dunia macam itu kiranya yang ingin disampaikan Nandang Aradea dalam Perempuan Gerabah  bersama teaterStudio Indonesia . Bagi yang berminat untuk mengapresiasi harap menghubungi Inayatul Fadhilah dengan nomor kontak 081808100440 atau Kafe Kebun Oregano

Jl Bhayangkara 17 Serang Banten Tlp. 0254-201487

22 Tanggapan to “‘Perempuan Gerabah’”

  1. Elys Welt Agustus 26, 2008 pada 9:04 am #

    sayang nggak bisa ikut mengapresiasi, jauuuuh sekali sih

  2. wi3nd Agustus 26, 2008 pada 9:54 am #

    yaaa..nda bisa ikutan nonton,selain jauuu..ya jauuu ajah heheh..sukseess yaaa kang..:)

  3. kishandono Agustus 26, 2008 pada 10:09 am #

    gerabah… hmm filosofi yang unik

  4. Sawali Tuhusetya Agustus 26, 2008 pada 11:27 am #

    wah, salut buat teater studio indonesia yang masih peduli utk pentas teater ketika peradaban sdh bener2 dicengkeram oleh kaum kapitalis. “Perempuan Gerabah” agaknya menjadi sebuah repertoar yang pas dalam konteks kekinian; sarat parodi dan getir. selalu ada nilai2 baru yang terungkap di balik sebuah pementasan. semoga tater studio indonesia makin eksis berpikrah di tengah2 atmosfer dunia yang main menghamba pada kekuatan hedonis dan kapitalistis.

  5. afwan auliyar Agustus 26, 2008 pada 12:19 pm #

    WAH….

    KADANG DIRIKU SUSAH MEMAHAMI PEMENTASAN TEATER….

    penuh makna euy…😀

  6. Donny Verdian Agustus 26, 2008 pada 2:23 pm #

    Jadi inget film Ghost-nya Demi Moore akhir dekade 80-an.
    Adegan membuat gerabah oleh si Demi Moore dipeluk “ghost” suaminya, dimainkan Patrick Swayzee (ah salah nulisnya kayaknya) adalah adegan teromantis kedua setelah adegan pegang-pegangan tangan-nya TITANIC.

    Setidaknya menurut saya, demikian hehehe

  7. nana Agustus 26, 2008 pada 2:52 pm #

    bkin gerabah itu susah gak ya?
    *ga nyambung*..

  8. laporan Agustus 26, 2008 pada 5:07 pm #

    Sudah menjadi tren pak, apalagi kawula muda sekarang mereka lebih suka (“di didik”) untuk mengkonsumsi ketimbang memproduksi. Budaya konsumtif ini yang tidak membuat maju-maju.

  9. Gelandangan Agustus 26, 2008 pada 5:33 pm #

    sukses buat acarabya bagus banet acaranya

  10. suhadinet Agustus 27, 2008 pada 2:35 am #

    Perempuan gerabah? Judul yang memprovokasi, menggelitik hati ingin menonton pertunjukannya. Penuh metafora? Sayang jauh.

  11. achoey sang khilaf Agustus 27, 2008 pada 3:13 am #

    Wah saya dulu pernah aktif di teater lho😀

  12. nuie Agustus 27, 2008 pada 1:37 pm #

    filosopi yg terkandung dalam perempuan gabah sangat menarik, kpan pentas di banda aceh

  13. Diah Agustus 27, 2008 pada 3:44 pm #

    wah jempol dua dech mas buat studio indonesia yg masih menyajikan teater, karena kita tahu sekarang banyak sekali kaum muda udah nggak begitu tertarik dg hal2 begituan karena dg banyaknya hiburan yg notabene dari luar

  14. hanggadamai Agustus 28, 2008 pada 2:47 am #

    waduh kejauhan..

  15. Daniel Mahendra Agustus 28, 2008 pada 10:59 am #

    Kalau ada relasi nilai antara sungguhan dengan yang menikmatinya, tentu dahsyat karena pesannya sampai. Aku mesti lebih banyak belajar lagi pada konsep-konsep pertunjukan surealis.

  16. kucluk Agustus 28, 2008 pada 4:44 pm #

    wew..
    dah lama gak maen teater!

  17. Ozank Agustus 28, 2008 pada 6:15 pm #

    “Susahnya membangun, setelah jadi, sangat membanggakan, kemudian meruntuhkannya”. Kenapa kita manusia yang berakal dan berbudi bisa seperti itu???
    Tanyakan saja pada rumput yang bergoyang… hehehe
    Nice Post

  18. fahrizalmochrin Agustus 29, 2008 pada 11:55 pm #

    kalau yang suka gegabah perempuanjuga yach…

  19. Rindu September 1, 2008 pada 2:54 pm #

    Gerabah itu apa sih kang? *lugu*

  20. susi November 18, 2008 pada 9:57 am #

    aqu kepingin deh buat sendiri gerabah, ada guru yang bisa dipanggil enggak ya kang……

  21. ann Juni 25, 2009 pada 1:48 pm #

    hmmmh..
    baguus,,,
    kayak kenal foto ini??
    (gambar ini bisa saja memiliki hak cipta!!!)

  22. yudhi Juli 1, 2010 pada 5:42 pm #

    alus pisan lah..maju trs euy…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: