Cerita Sastra

18 Agu

Oleh: Qizink La Aziva

Sastra, begitulah perempuan tua yang dulu pernah tinggal di perkampungan kumuh Kali Code menyebut namanya. Perempuan berkulit jeruk purut itu yang telah mengasuh dan membesarkan dirinya. Ia tak tahu (dan tak mau tahu) mengapa perempuan yang seminggu lalu mati diserang diare itu memberinya nama Sastra.

Sastra tak peduli dengan sebuah nama!

Dari perempuan yang dipanggilnya ‘Mbok Tua’ itu pula, Sastra tahu tentang asal-usul dirinya. Semasa hidupnya Mbok Tua pernah bercerita, jika dirinya adalah hasil dari persetubuhan seorang penyair kere dengan pelacur kawakan di Pasar Kembang. Ibunya telah mati bunuh diri saat dirinya berumur tiga tahun. Setahun kemudian bapaknya menyusul ke liang kubur, karena siphilis yang dideritanya.

Sastra termasuk makhluk langka. Tulang-tulang wajahnya menampakkan keperkasaan seorang gladiator yang siap bertarung di medan laga, sementara dua payudara yang tumbuh di dadanya begitu besar dan seksi. Langkahnya gemulai bagai Putri Solo. Bulu-bulunya tumbuh tak beraturan di atas bibir dan janggutnya. Suaranya terkadang lembut dan renyah seperti suara sinden jaipongan, namun terkadang pula sekeras vokal demonstran yang sedang menuntut keadilan di gedung dewan.

Sastra waria? Sastra banci?
Sastra bukan waria atau banci. Waria atau banci masih memiliki kelamin. Sedangkan Sastra tak jelas kelaminnya, karena sejengkal di bawah pusar Sastra tak ada organ tubuh yang dapat memastikan jenis kelamin dirinya.

Sastra tak berkelamin!
“Sastra adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Komposisi tubuhnya memadukan antara kelembutan wanita dan keperkasaan pria….” seorang yang dianggap sebagai pemerhati Sasta berucap dengan ludah membuncah.
 
 “Ya… Sastra telah mengembalikkan kesadaran kita pada kebesaran Tuhan. … Sastra adalah Sang Ratu Adil!” seorang pria berwajah paranormal menimpali dengan lebih semangat. “Sastra adalah titisan pertapa yang bersemayam di puncak Merapi, ” lanjutnya paranormal yang memiliki khas batu kecubung besar di jari tengah tangan kirinya.

“Tapi sastra juga berbahaya bagi orang lain. Sastra sangat menakutkan!” sela pria bergaya pemuka agama.

****

Tek!

Sastra menekan tombol off pada remote control. TV 14″ di hadapannya mati.
Sastra muak dengan segala komentar tentang dirinya. Hampir saban hari dirinya dijadikan objek pembicaraan di televisi, radio, kampus, sekolah, ruang seminar, situs internet… Bahkan di warung angkringan pojok gang.

Keunikan Sastra telah menjadi perhatian banyak orang. Namanya dikenal hingga ke pelosok negeri.
Sastra ingin hidup apa adanya, hidup normal seperti makhluk Tuhan lainnya. Tapi keinginan itu hanya menjadi mimpi di siang bolong, karena pada kenyataannya orang lain tak bisa menerima kehadiran Sastra di tengah-tengah mereka. Orang-orang yang berpapasan dengannya selalu memandangi dirinya dengan sorot mata aneh. Bahkan tak sedikit anak-anak yang langsung lari terbirit-birit atau mentertawakan dirinya.

Menyakitkan!
“Puah!”
Sastra meludah. Matanya melotot. Otot-otot di pergelangan tangan dan lehernya menegang. Dilemparkannya remote control yang masih dipegangnya ke arah televisi.
Prang!

Kaca televisi berantakan.
“Aaaaggghhhh….” Sastra menjerit. Suaranya bergema di dalam kamar 3×3 meter miliknya. Beberapa jenak kemudian tubuhnya jatuh lunglai dengan air mata yang mengembang di ujung matanya yang bening.

Sastra menangis! Jiwanya teluka.
***

22. 45, burung gagak mengoak.
Di sebuah jembatan penyeberangan, Sastra memandangi beberapa kendaraan yang berlalu-lalang di bawahnya. Tekadnya sudah bulat. Malam ini ia akan melakukan apa yang telah dilakukan ibunya dua puluh tahun yang lalu. Sastra ingin bunuh diri! Sastra merasa telah lelah menjalani hidupnya.
“Tuhan…. Izinkan aku untuk menentukan cara kematianku….”
Sastra menaiki pagar pembatas jembatan. Matanya mulai dipejamkan ketika kabut mulai menyelimuti bulan yang pucat sendirian di langit. Sedetik kemudian tubuh Sastra meluncur….
Bruk!

Sastra membuka matanya. Sekelilingnya nampak begitu putih. Surgakah? Sastra sampai di surga? Tidak! Sastra belum sampai surga. Surga terlalu mahal bagi Sastra. Sastra terkapar di atas kasur sebuah rumah sakit. Semalam seorang juragan sayur yang membawanya ke rumah sakit.
Sastra tidak mati! Saat bunuh diri, tubuh Sastra jatuh di atas bak truk yang penuh sayur mayur. Sastra hanya pingsan selam lima jam.
“Tuhan… kenapa tak Kau ambil saja nyawa sialanku ini!”
Sastra mencabut slang infus yang menancap di lengan kanannya. Setelah melepas seluruh pakaiannya, Sastra berjalan meninggalkan ruang rawat.

Orang-orang yang bertemu dengannya terkejut, berteriak, menjerit… lalu lari ketakutan. Sastra tak peduli. Ia terus melangkah, meninggalkan rumah sakit. Sastra berkeliaran di jalanan tanpa sehelai benang. Sastra telanjang!

“Aku bebas… aku bebas….” ucap Sastra sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Sastra merasakan sebuah kebahagian.
“Sastra gila…! gendeng…!” teriak seorang ibu sambil menarik lengan anaknya, menjauhi Sastra.
“Awas ada Sastra!” seorang satpam mengingatkan.
Sastra tertawa terbahak-bahak. Suasana makin kacau. Orang-orang berlarian, jalanan macet, toko-toko tutup, anak-anak menangis, polisi berusaha meringkus Sastra….
Sastra terus berkeliaran di jalanan, sampai sebuah radio milik pemerintah menyiarkan berita: “… demi stabilitas keamanan, Sastra dipenjara…!” (*)

Diinspirasi dari cerpen Firman ‘Balelol’ Venayaksa.

29 Tanggapan to “Cerita Sastra”

  1. suhadinet Agustus 18, 2008 pada 8:26 am #

    Gila!
    Cerpen bagus Mas qizinklavia. Idenya dari cerpen pula.

    Saya belum berani segila ini mengambil ide tulisan. Sering-sering posting cerpen biar saya banyak bahan pembelajaran Mas.
    Saya otodidak, tak punya teori dan dasar pengetahuan tentang sastsa. Tapi hasrat untuk menulis cerpen begitu menggebu.

    @ suhadinet
    Tinggal pilihan saja mas dalam mengambil ide dan gaya penulisan.
    Saya juga otodidak mas, selepas SD saya tinggal di pesantren yang mata pelajarannya 90 persen kitab kuning. Pelajaran bahasa Indonesia saya dapet hanya dari buku SD, baca Wiro Sableng, Fredy S, si Petruk, de el el. Jadi saya juga masih belajar!

  2. suhadinet Agustus 18, 2008 pada 8:30 am #

    Haks, pasar kembang. 
Jadi ingat surabaya. Ha.ha…
    Eit, tapi sumprit saya tak pernah main-main sama kembang-kembang yang bermekaran di bawah tiang listrik itu mas.😉

    @ suhadinet
    Pasar Kembang itu Surabaya apa Jogja Mas???😀 Hiks!

  3. kniapril Agustus 18, 2008 pada 9:27 am #

    lah, ini cerpen toh?
    kirain kisah nyata..

    udah serius kali aq bacanya. haha

    @ kniapril
    Tag-nya sih cerpen…! yang pasti itu tulisan bukan bon utang!!!

  4. nana Agustus 18, 2008 pada 11:19 am #

    hidup sastra!!
    uhmmm…

    @ nana
    Hidupppppppp!!

  5. fahrizalmochrin Agustus 18, 2008 pada 3:37 pm #

    Begitu banyak “sastra” ditanah ini yang kehilangan jati dirinya..adakah ini realitas akhir zaman. adakah penyimpangan alam sebuah karunia tuhan..atau kehendak manusia yang mengingkari kodratnya..???

    @ fahrizalmochrin
    Biarkan sastra menemukan jalan hidupnya sendiri. Toh manusia punya akal untuk menentukan sastra seperti apa yang bermanfaat untuk dirinya!

  6. Sawali Tuhusetya Agustus 18, 2008 pada 8:49 pm #

    analogi yang mantab! sastra rupanya menimbulkan banyak tafsiran yang berbeda-beda. saya sih enjoy saja melihat sastra mau telanjang, waria, perempuan, bahkan mungkin ketika sastra sedang bersetubuh di atas jalan aspal yang panas, kekekeke😀

    @ Sawali Tuhusetya
    Sekarang sastra sudah banyak bajunya mas… ada sastrawangi, sastra religi, sastra anu, sastra ini, dsb! Biarkan saja sastra memakai baju-baju itu. Toh kita sebagai penikmat, tinggal menentukan pilihan.

  7. Yari NK Agustus 19, 2008 pada 6:42 am #

    Wah…. banyak sekali gaya2 bahasa yang ekspresif dan bombastis…..

    Persoalan sosial semacam ini memang akan terus ada, yang penting adalah bagaimana kedua belah fihak saling mengerti…. Masyarakat harus mengerti bahwa waria juga ciptaan Allah…. sementara waria juga harus mengerti dan harus menghormati orang lain dengan tidak mengumbar nafsu, ngomong kotor dan tingkah polah-tingkah polah lainnya yang hanya berputar sekitar seks saja…..

    @ Yari NK
    Bombastis??? Awas meledak mas!

  8. kucingkeren Agustus 19, 2008 pada 8:41 am #

    bener2 cerita sastra nih… maknanya sangat bersayap, tgt kita menilainya darimana…salut!

    @ kucingkeren
    Silahkan mengapresiasinya dari sayap sebelahmana yang kamu mau!

  9. fisha17 Agustus 19, 2008 pada 9:33 am #

    hmmm jadi sastra ini manusiakah??

    @ fisha17
    yang pasti sastra adalah ‘yang dicipta’

  10. marvel Agustus 19, 2008 pada 9:41 am #

    bagus mas..kagum saya..

    @ marvel
    makasih…!

  11. didta Agustus 19, 2008 pada 11:44 am #

    Wow keren! Sastra tu nama orang ya?:mrgreen:

    @ didta
    Makasih….
    Sastra nama penjual obat kuat mas!!! hahaha😀

  12. Rizky Agustus 19, 2008 pada 1:27 pm #

    Wah, karyanya keren banget… salam kenal mas dari Banjarmasin…

    @ Rizky
    Makasih… salam kenal juga dari Banten

  13. Donny Verdian Agustus 19, 2008 pada 7:18 pm #

    Cool!
    Saya suka cara Anda melakukan penokohan terhadap Sastra dalam cerita ini.

    Salam kenal, terimakasih untuk kunjungan dan komentar di blog saya.

    @ Donny Verdian
    Thanks! atas apresiasinya!
    Salam kenal kembali!

  14. bayusaja Agustus 19, 2008 pada 11:49 pm #

    Wowww…keren mas..sumpah keren…
    btw, gmn bsa sekeren t sh mas? pngn jg euy..
    lam kenal y..😀

    @ bayusaja
    Makasih.
    Merdekakan saja imajinasi dalam karyamu.

    lam kenal juga euy!

  15. okta sihotang Agustus 20, 2008 pada 2:53 am #

    wagh..saya g begitu suka dengan sastra😉

    @ okta sihotang
    Kalau tak suka, jangan dipaksakan… nanti muntah!! hehehe😀

  16. syelviapoe3 Agustus 20, 2008 pada 4:01 am #

    Jadi inget ama Novel Middle Sex………Hampir mirip…hem…

    @ syelviapoe3
    Aku malah belum baca tuh novelnya…. hehehe

  17. aRuL Agustus 20, 2008 pada 5:08 am #

    sinetron itu sastra ngak❓😀

    @ aRuL
    Ada beberapa karya sastra yang kemudian disinetronkan, seperti Siti NUrbaya

  18. wi3nd Agustus 20, 2008 pada 5:35 am #

    awalna sulit mengerti tapi lama kelamaan baru “ngeh” ato memang daku yang dudulz..heheh..
    so..sastraa..

    @ wi3nd
    Syukur deh kalo dah ‘ngeh’

  19. emfajar Agustus 20, 2008 pada 7:32 am #

    kereen dan ekspresif..😀

    @ emfajar
    terima kasih

  20. laporan Agustus 20, 2008 pada 10:20 am #

    Lahir dari bapak penyair dan ibu pelacur… mmmm… melahirkan sesosok makhluk bernama SASTRA. Bisa se-lembut dan se-keras bapaknya, bisa se-liar dan se-binal ibunya. Bisa menjadi siapa saja, karena tidak berjenis kelamin!

    @ laporan
    Sastra tak berkelamin!

  21. zoel Agustus 20, 2008 pada 10:47 am #

    wah karya seni berseni ini

    @ zoel
    Tapi tak berair seni… maklum sastra gak punya kelamin! hahaha

  22. kw Agustus 21, 2008 pada 1:38 am #

    suka nulis fiksi ya.
    kapan novelnya terbit?

    @ kw
    aku lagi belajar menulis…
    Novel pertamaku dah dicetak Dar! Mizan judulnya ‘Gerimis terakhir’. Baca di Penjaga Rumah

  23. achoey sang khilaf Agustus 21, 2008 pada 2:50 am #

    postingan pecinta sastra sepertinya

    sahabat, aku pun sedang belajar mengenali dan mencintainya🙂

    @ achoey sang khilaf
    Baru sekedar penikmat. Sama, aku juga sedang belajar

  24. perempuan Agustus 21, 2008 pada 7:45 am #

    ceritanya segarrr… 2 gender dlm tubuh sang tokoh,😀 kerennn… bgt mas

    slm knl, mampir yaa..

    @ perempuan
    Makasih atas kunjungannya..
    saya sudah mampir ke rumahmu!

  25. edratna Agustus 21, 2008 pada 7:57 am #

    Masyarakat kita suka memperhatikan hal yang diluar keberagaman….padahal semuanya ciptaan Tuhan. Ini yang kadang membuat sekat-sekat di masyarakat.

    @ edratna
    Manusia membuat kotak-kotak untuk dirinya sendiri. Sehingga mereka kerap melihat sesuatu yang berbeda dari sekat-sekat itu!

  26. septy Agustus 21, 2008 pada 1:15 pm #

    keren bgt idenya…
    tapi yah, meskipun menyukai cerita seperti ini, aku sering ga dong😀

    @ septy
    Makasih. Sering ga dong tuh apa maksudnya *Nggak Mudheng Mode on*

  27. nenyok Agustus 22, 2008 pada 12:42 am #

    Salam
    sastra yang sangat humanis, rapuh dan melakoni hidup seperti stereotip seorang manusia pada umumnya, nice story kang

  28. nenyok Agustus 22, 2008 pada 12:44 am #

    Salam
    apa sastra juga nasibnya sama dengan seni?? akhh entahlah

  29. dana Agustus 22, 2008 pada 2:40 pm #

    Cerpen yang bagus, dengan imajinsi liar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: