[Kelas Menulis #3] Melawan Kebuntuan

12 Agu

Pernah menulis sebuah naskah (cerpen atau opini) tapi tak terselesaikan?

Itu pasti seringkali dialami oleh siapa pun. Tiba-tiba saja otak kita menjadi buntu untuk melanjutkan naskah yang sedang kita garap. Padahal sebelum menulis, ide di otak seakan sudah menumpuk dan siap ditumpahkan. Tapi ketika di depan kertas atau di depan komputer, ide yang sudah lama mengendap itu tak juga tertuang dalam tulisan.

Kebuntuan dalam membuat karya tulis hal yang wajar, tapi itu harus dilawan!

Sekali lagi saya ingatkan, tips dalam Kelas Menulis ini hanya pengalaman pribadi. Mau diikuti terserah, nggak diikuti juga gak papa….

Nah berikut adalah cara melawan kebuntuan dalam menulis. …>>

1. Buat Outline

Ide yang numpuk di otak sebaiknya tak langsung ditumpahkan dalam tulisan. Buat dulu outline alias garis besar atau kerangka karangan kita. Outline ini sangat membantu kita untuk memperlancar tulisan. Ketika tulisan sedang buntu, kita tinggal melihat kerangka acuan tulisannya.

Outline cukup ditulis sederhana. Tuliskan saja substansinya.

 3. Warming Up

Sebelum menumpahkan ide kita dalam tulisan berdasarkan outline, nggak ada salahnya kita melakukan pemanasan atau warming up. Pemanasan ini untuk melatih secara perlahan kemampuan ingatan kita dalam menumpahkan ide kita.

Warming up ini tentu saja tidak harus dengan push up atau lari keliling komplek. Pemanasan ini cukup dengan menuliskan deskripsi tentang di sekitar kita. Misalnya menggambarkan bagaimana kondisi ruang kerja kita, menggambarkan kopi yang baru disajikan, atau apa pun yang ringan. Cukup setengah atau satu halaman untuk melakukan warming up ini.

3. Gunakan Dasar-Dasar Jurnalistik

Bagi yang pernah belajar jurnalistik, pasti udah tahu dasar-dasar jurnalistik yakni 5W+1H (what, who, wher, why,  when, dan how). Kalimat pertanyaan ini sangat membantu ketika tulisa kita terhenti sebelum habis.

Saya kasih contoh :

Misalnya kita baru nulis kalimat “Budi makan nasi”

Pada saat kita buntu dengan kalimat itu, kita bisa membuat pertanyaan-pertanyaan, misalnya Budi makan nasi putih atau merah, Budi makan nasi sambil berdiri atau duduk (duduknya di mana, berdirinya bagaimana), Budi makan nasi sendiri atau dengan keluarga.

Sebagai seorang penulis (terutama fiksi) tentu memiliki jawaban bebas apa saja yang kita mau. Dengan pertanyaan-pertanyaan yang kita buat, kita akhirnya bisa menambah kalimat tersebut, misalnya menjadi “Budi makan nasi merah sambil lesehan di depan rumahnya. Aisah, isteri Budi menemaninya dengan duduk di samping Budi.

Kalimat tersebut juga masih bisa diolah dengan memperjelas karakter tokoh. Sehingga, bisa saja kalimat itu akhirnya menjai :  “Budi makan nasi merah sambil lesehan di depan rumahnya. Lelaki berkulit legam itu santap siang dengan lahap. Keringat bercucuran dari jidat kuli panggul di Pasar Tanah Abang tersebut.

Aisah, isteri Budi menemaninya dengan duduk di samping suaminya yang telah dinikahinya sejak lima tahun lalu…. dst”

4. Teman Menulis

Saat menulis, tak ada salahnya ditemani oleh sesuat yang bisa membuat kita enjoy, misalnya dengan cemilan, musik, kopi, rokok (maaf buat yang anti rokok), atau apa saja. Dengan adanya ‘teman menulis’ yang membuat kita enjoy, maka kita juga bisa lebih konsentrasi dalam menulis. 

5. Jangan Memaksa

Jadikan kegiatan menulis sebagai kegiatan yang menyenangkan. Sehingga ketika kita benar-benar buntu, jangan dipaksakan untuk segera menyelesaikannya.

Kalau otak sudah benar-benar mentok, keluarlah sejenak untuk menghirup udara segar sekaligus menambah ide-ide baru.

Selamat Menulis! Yakinlah, menulis adalah aktivitas yang menyenangkan. (qizink)

9 Tanggapan to “[Kelas Menulis #3] Melawan Kebuntuan”

  1. achoey sang khilaf Agustus 12, 2008 pada 8:36 am #

    Wah ini tips yang hebat
    moga aku tetap semangat!

  2. Sawali Tuhusetya Agustus 12, 2008 pada 2:18 pm #

    tips yang bagus, mas qizink. saya sangat sering mengalami proses seperti itu. saya biasa nulis artikel dan naskah nonfiksi dalam semalem. kalau semalem nggak selesai, ya, udah, alamat nggak bisa ngirim tulisan di koran. utk fiksi, saya malah menghabiskan waktu lebih dari sehari. bahkan lima hari baru bisa selesai satu cerpen.

  3. Manik Agustus 12, 2008 pada 2:31 pm #

    kalo Saat menulis ditemanin ama wanita cantik…kira2 asik gak yah?😀

  4. taliguci Agustus 12, 2008 pada 4:14 pm #

    terima kasih tips nya pak. berguna sekali buat saya yang nggak punya dasar-dasar menulis

  5. donapiscesika Agustus 13, 2008 pada 6:15 am #

    WAH…GUT TIPS PAK! THANKS

  6. indra1082 Agustus 14, 2008 pada 5:11 am #

    Kalo pengen nulis ya nulis….. gak pengen ya diem….

  7. natazya Agustus 14, 2008 pada 10:25 am #

    hmmmmmmmmmmmmm

    ekeuh tidak jadi jadi mao menulis teh😦

  8. hanny Agustus 24, 2008 pada 12:58 pm #

    untuk mengatasi kebuntuan menulis adalah… dengan… menulis🙂 dan terus menulis dan terus menulis…

  9. Mr Batman Desember 15, 2008 pada 3:50 am #

    Tips yang Jitu dan bermutu.

    Matur Nuwun, Syukron, Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: