Pembelian Buku Paket Sekolah Dikeluhkan

24 Jul

 

Memasuki tahun ajaran baru, sejumlah orangtua  mengeluhkan biaya pembelian buku untuk anaknya. Selain harus membeli buku di sekolah dengan harga lebih mahal, orangtua juga ada yang diduga diarahkan untuk membeli buku pada salah satu toko yang ditunjuk sekolah.

Nur (bukan nama sebenarnya), walimurid siswa baru di SDN 2 Serang menceritakan, diminta sekolah untuk membeli buku paket di toko Tisera yang ada di Mal Serang. Harga yang ditawarkan sebesar Rp 350 ribu untuk 10 jenis buku. Namun dia tidak menuruti permintaan sekolah tersebut. Nur memilih membeli buku serupa di salah satu toko buku di kawasan Ciceri dengan harga Rp 218.500 untuk 9 jenis buku. “Setelah didiskon menjadi Rp 185.300. Namun sayangnya, di toko buku yang ada di Ciceri tak ada buku Bahasa Inggris,” ujarnya.

Untuk mendapatkan buku Bahasa Inggris yang diperlukan anaknya, Nur mencari ke Tisera yang ditunjuk sekolah. “Tapi di Tisera tidak boleh beli satu buku, harus semua paket yang ada. Nama kita sudah didata di sana. Kalau sudah beli, baru di-check list,” ujarnya.

Kepala SDN 2 Serang Muhammad Jasir membantah ada penunjukan salah satu toko buku yang harus dibeli walimurid. “Kita tidak mengarahkan orangtua untuk membeli buku ke salah satu toko buku. Silakan saja mereka membeli di mana saja,” ujarnya.

Di tempat berbeda, Supervisor Tisera Mal Serang Bima Putera menepis pihaknya menerima order kerja sama penyediaan buku kurikulum. Menurut Bima, Tisera hanya menyediakan buku untuk memudahkan konsumen mendapatkan buku kurikulum. Buku-buku kurikulum yang disediakan berasal dari Penerbit Erlangga dan Yudhistira.

Pernyataan ini dikuatkan oleh Fathuroji, Branch Manager Tisera Serang. Menurutnya, kerja sama yang dilakukan dengan sekolah sebatas sosialisasi mengenai penyediaan buku kurikulum dari jenjang sekolah dasar hingga SLTA. “Kami tidak melakukan kerja sama berupa pembelian buku secara paket. Kalaupun konsumen mau, tinggal memilih buku-buku yang dibutuhkan,” ujar Fathur.

Fathur mengatakan, kalaupun pihaknya mau bekerjasama dengan salah satu instansi sekolah, tidak akan dilakukan hanya pada jenjang SD melainkan SLTP dan SLTA. “Dan lagi, tidak hanya di Serang, tapi juga daerah lain seperti Cilegon atau Pandeglang,” katanya. (qizink/lai)

 

Iklan

14 Tanggapan to “Pembelian Buku Paket Sekolah Dikeluhkan”

  1. L 34 H Juli 24, 2008 pada 2:06 am #

    Publik tinggal percaya si Nur apa branch manager tisera hahaha

  2. wi3nd Juli 24, 2008 pada 2:08 am #

    iya emang mahal buku paket disekolah skr9,trus klu yg nda mampu bli piye ya?

  3. esensi Juli 24, 2008 pada 2:43 am #

    inilah intrik bisnis sekolah. Bubarkan sekolah! Biar anak2 kita tak dicekoki yang namanya racun kurikulum !

  4. Achmad Sholeh Juli 24, 2008 pada 5:20 am #

    orang jawa bilang “jer basuki mowo beya” klo ingin mendapatkan sesuatu yang lebih juga harus denganbiaya lebih, jadi kalau anak kita pengin pinter juga kita harus keluar biaya lebih, rasanya sulit juga belajar tanpa buku kok…salam

  5. okta sihotang Juli 24, 2008 pada 5:35 am #

    bisnissssss negh magh 😉

  6. qizinklaziva Juli 24, 2008 pada 7:34 am #

    @ L 34 H
    Kamu percaya sapa? aku sih percaya sama Tuhan saja… hahahaha

    @ wi3nd
    yang nddak mampu beli ya cuma bisa meratap… uhukuhuk…

    @ esensi
    pendidikan sudah menjadi bisnis, dan sekolah menjadi pabrik…

    @ Achmad Sholeh
    saya sepakat bahwa untuk mendapatkan pendidikan yang berkualitas harus mengeluarkan biaya. Tapi ketika biaya itu dipermainkan akan menjadi sebuah kecurangan dalam dunia pendidikan. *halah*

    @ Okta Sihotang
    Iya kaleeeeeeeee

  7. gajahkurus Juli 24, 2008 pada 8:49 am #

    Kenapa mesti beli buku? Yang saya inget jaman SD dulu guru aktif menulis di papan tulis dan murid menyalin di buku tulis 🙂
    Giliran sekarang, setidaknya saya harus ngeluarin uang 300ribuan untuk buku paket kelas 1 SD dan 350ribuan kelas 3 SD, belum termasuk buku tulis yang dipaket juga pihak sekolah…wuiiiihhh!

  8. edratna Juli 24, 2008 pada 12:27 pm #

    Buku memang semakin mahal…mana tiap tahun ganti sehingga tak bisa diwariskan. Jadi ingat zaman dulu…buku sekolah bisa menurun dari kakak sepupu, ke saya…terus ke adik….dan kalau udah habis, adiknya teman dstnya..

  9. nenyok Juli 24, 2008 pada 12:35 pm #

    Salam
    Jaman saya buku itu bisa turun temurun tuh, duh sekarang kok mau pinter aja mahal ya, kasihan anak sekarang. Maunya generasi penerus yang cerdas tapi sarana dan prasarana mahal, ironis sekali. kapan majunya bangsa ini.

  10. aRuL Juli 24, 2008 pada 1:05 pm #

    kalo masalah buku kayaknya perlu pengaturan yg jelas, agar tidak terkesan menjual ;D

  11. sireum Juli 24, 2008 pada 4:16 pm #

    gonta ganti wae imah teh.

  12. qizinklaziva Juli 25, 2008 pada 1:17 am #

    @ gajahkurus
    Dulu orang juga niat banget menjadi guru, sehingga mereka mengabdi. Tapi sekarang, tak bisa ditutupi ada sebagian orang yang memilih menjadi guru karena tak ada pekerjaan lain. Sehingga mereka kerap menganggap sekolah sebagai ladang pencaharian, termasuk dengan membisniskan buku.

    @ Edratna
    Pemerintah sebenarnya sudah punya program buku elektronik dengan cara unduh lewat internet. tapi program BSE ini belum berjalan dengan baik karena infrastrukturnya belum siap. Sehingga gaya konvensional dengan membeli buku tetap berlangsung. Apalagi harga kertas terus melambung.

    @ nenyok
    Dulu buku jadi warisan, sekarang jadi bisnisan

    @ aRuL
    Sepakat… perlu ada kejelasan dan ketegasan aturan

    @ sireum
    Aing keur ngeunah ameng di imah baru..

  13. julia Juli 25, 2008 pada 6:30 pm #

    ALASAN!!! ngaku aja kenapa.. belibet!
    jelas2 pake acara checklist, dah gitu ga boleh beli 1 doang, harus semua..
    beuh.. bego amat sih.. ngibul koq tanggung bener pinternya..!

  14. rhev Agustus 12, 2009 pada 7:49 am #

    bgs…………………

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: