Suap Wakil Rakyat

7 Jul

Lagi-lagi, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap anggota dewan yang diduga terlibat kasus suap, yakni Bulyan Royan (BR), anggota fraski PBR DPR RI. Penangkapan BR ini menambah panjang daftar politisi hitam yang diduga terlibat suap. Sebelumnya, Al Amin Nasution (anggota DPR dari Fraksi PPP) juga harus digelandang KPK karena diduga terlibat suap pada program pengalihan fungsi lahan di Bintan, Kepulauan Riau.

Aroma suap di gedung dewan ini tak hanya terjadi di pusat. Di sejumlah daerah, kasus dugaan suap juga setali tiga uang. Saat ini misalnya, anggota DPRD Pandeglang diduga terlibat suat pada kasus pinjaman Bank Jabar Rp 200 miliar. Saat ini, kasus ini masih dalam proses penyelidikan di Kejaksaan Tinggi Banten.

Dugaan suap terhadap para wakil rakyat ini tentu saja membuat sangat menyakitkan. Di tengah kondisi ekonomi masyarakat tercekik, ada anggota dewan yang menikmati uang dengan mudah dari hasil suap.

Ada tiga macam suap berdasarkan motivasinya, yakni karena berdasarkan kebutuhaan (need), rakus, dan sistem. Tentu saja, kecil kemungkinan anggota dewan itu terlibat suap karena untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan gaji dan fasilitas melimpah, semestinya para anggota dewan itu sudah berkecukupan.

Maka bila memang bukan karena kebutuhan, besar kemungkinan bahwa suap itu dilakukan karena kerakusan atau karena sistem yang memungkinkan seseorang melakukan suap dengan mudah. Dan suap yang dilakukan oleh sebuah sistem ini dilakukan secara berjamaah. Suap seperti ini yang merugikan rakyat dan menyakitkan.

Namun apa pun dalih dan motivasi suap ini, sebuah kewajiban bagi penegak hukum untuk memberikan ganjaran setimpal bagi para anggota dewan yang diduga terlibat suap. Sungguh sangat menyakitkan, di gedung terhormat ternyata ada aroma suap. (qizink)

16 Tanggapan to “Suap Wakil Rakyat”

  1. Yari NK Juli 7, 2008 pada 3:14 am #

    Heran dengan Indonesia kita ini. Katanya negara kita rakyatnya termasuk yang religius (dibandingkan dengan orang2 barat yang lebih sekular misalnya), lebih memegang adat ketimuran yang katanya adabnya lebih santun dan sebagainya-dan sebagainya, seolah2 ahlak bangsa Indonesia digambarkan “lebih mulia” dibandingkan dengan orang2 barat yang sekular….

    Nyatanya…. bangsa yang “religius” ini ternyata jauh lebih korup dibandingkan negara2 yang sekular…. memalukan….!!😦

  2. ven Juli 7, 2008 pada 4:57 am #

    sebenernya yg denger berita ttg kayak beginian aja udah cape yaaa

    arrrghhhh knp siy yg korup ga ada capenya

    plis deh ah…

  3. lischantik Juli 7, 2008 pada 6:28 am #

    moga aja di hari2 kedepannya ga ada dech hal3 yang seperti itu lagi🙂

  4. qizinklaziva Juli 7, 2008 pada 8:40 am #

    @ Yari NK
    Yang salah bukan agamanya mas… yang salah adalah pemeluknya!

    @ ven
    mereka belum ngerasain sih gmana capenya kalo malaikat dah nyiksa mereka….

    @ lischantik
    amiennnn!!

  5. dwihandyn Juli 7, 2008 pada 3:44 pm #

    Emang di suap itu enak yach…???
    Koq pada suka gitu…

  6. Yari NK Juli 8, 2008 pada 4:16 am #

    Iya… justru itu…. saya juga nggak bilang menyalahkan agama kok, justru orang2nya yang katanya beragama kok malah gampang main suap-menyuap, apa berarti mereka tidak bisa menyerap agamanya secara sempurna?? Atau karena otak bangsa kita kurang sehingga nggak bisa mencerna agama masing2?? Atau…. memang bangsa kita tidak sereligius yang didengung2kan selama ini??

    Tauk deh….:mrgreen:

    @ Yari NK
    kita emang sudah terlalu lama menyandang gelar yang bergaris tebal baik, misalnya religius, ramah tamah, suka gotong royong dsb. Jangan-jangan karena terlalu lama, kita jadi takabur dan lupa akan gelar itu sehingga malah melakukan hal sebaliknya. Padahal dulu Makkah menjadi berkembang dan pesat setelah diberi julukan Jahiliyah. APakah mas Yari punya sari, apa julukan yang pas buat bangsa ini?

  7. Laporan Juli 8, 2008 pada 5:38 am #

    Korupsi di negeri ini seperti rumput liar di taman hukum. rumput itu dibabat tumbuh, dibabat tumbuh lagi. Terkesan bahwa tidak diberantas tetapi justru dipelihara. Jika diberantas maka tidak pandang bulu, langsung dijebol sampai akar atau menggunakan bahan kimia sehingga bisa habis. Tetapi kenyataan tidak. Jika dilihat dari infrastruktur hukum, UU anti korupsi dan lembaga anti korupsi di Indonesia ini paling komplit di dunia, ya itu implementasinya yg tidak beres.

    @ Laporan
    Repotnya lagi, petugas yang harus menjadi tukang babat rumput itu juga ternyata ikut2an menyemai rumput. Sehingga rumputnya makin liar saja….! kayaknya perluu pemusnahan massal rumput-rumput liar itu!

  8. jhonny Juli 9, 2008 pada 12:04 pm #

    korupsi memang merusak bangsa kita. dukung anti korupsi.

    dukung situs yang pernah saya browsing di paman google.yang berisi data data hasil dugaan kasus korupsi berbagai propinsi di Indonesia, yg menurut saya cukup bagus sekali di situs
    http://www.bukabuka.info

    @ jhonny
    saya ikut dukung!!

  9. Sawali Tuhusetya Juli 11, 2008 pada 3:06 pm #

    makin parah saja kondisi negeri ini, mas qizink. mental korup yang sudah menggurita di gedung dewan agaknya akan terus berlangsung. perlu satu generasi utk menghilangkannya. bisa nggak, ya?

    @ Sawali Tuhusetya
    perlu penanganan medis yang serius untuk mengobati penyakit korupsi yang sudah akut di negeri ini mas…. saya juga kurang yakin potong generasi itu berhasil… korupsi juga sudah merambah ke anak-anak kita, bahkan mulai di tingkat pendidikan. Lihat saja, para pelajar kita juga sudah terbiasa menilep uang bayar sekolah dari ortu untuk beli rokok, mencontek, bolos, dsb!

  10. Iis sugianti Juli 12, 2008 pada 9:28 pm #

    BR waktu kampanye akan menghukum pancung orang yang melakukan suap. Dan kini, dia sendirilah yang melanggarnya..?sikap dia? Anteng2 saja..!(kata si Gusdur). Artinya apa? Sedemikian mudahnya kita (saya mungkin) lupa terhadap janji, jadi pemilu 2009 juga saya gak janji nyoblos…enakan di coblos..he..he..he..

  11. gunawanwe Juli 14, 2008 pada 11:13 am #

    suap lagi… suap lagi… kayaknya pejabat negeri ini dah gak punya malu lagi, terlalu rakus dan gak pernah kenyang2 disuap melulu..
    kita sebagai rakyat cuma bisa mengelus dada. Inikah potret para pejabat kita sekarang? I hope not..

  12. Denny Eko Prasetyo Juli 14, 2008 pada 10:12 pm #

    ckckckck…. sungguh tidak mewakilkan rakyat…

  13. qizinklaziva Juli 15, 2008 pada 1:32 am #

    @ Iis sugianti
    jangan percaya janji mereka…:D

    @ Gunawanwe
    wakil rakyat kita kan masih TK (pinjem istilah Gus Dur). Makanya masih suka disuapi….

    @ Denny Eko Prasetyo
    ckckckck… saya tak merasa diwakili mereka…!

  14. Adji Wigjoteruna Juli 19, 2008 pada 11:26 am #

    saya malah setuju tiga-tiganya, ya kebutuhan, ya rakus, ya sistem…

    kebutuhan, artinya terus membumbung karena tidak tahan godaan dan angan-angan.

    asalnya cukup rumah 1 jadi ingin 4, asalnya cukup ke pasar pagi jadi plaza senayan, asalnya cukup ke ancol jadi pengen ke singapore, asalnya cukup Kristina pengen juga yang lain.😆

    tp godaan kekuasaan dan uang memang seperti sihir dan candu, siapa pun kita mudah-mudahan bisa kuat jika mendapat amanah …

  15. Sofwan November 6, 2009 pada 10:41 am #

    Saya bingung mikirin wakil rakyat

  16. Sofwan November 6, 2009 pada 10:47 am #

    Pusing mikir DPR lebih pusing lagi mikirin apa besok bisa makan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: