Pendidikan yang Tak Gratis

2 Jul

Masa penerimaan siswa baru (PSB) telah tiba. Pada masa seperti ini, orangtua siswa dibuat deg-degan dengan biaya pendidikan yang mahal, seolah berkejaran dengan harga sembako yang sedang menyesuaikan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Meski para pejabat telah menggembor-gemborkan pendidikan gratis atau pendidikan murah, realita di lapangan berbeda jauh. Pendidikan ternyata tak gratis. Biaya sekolah tetap melangit. Bahkan biaya PSB di beberapa sekolah negeri ada yang melebihi biaya di sekolah swasta. Padahal sekolah negeri sudah mendapatkan banyak suntikan dana dari pemerintah (baca: uang rakyat) untuk menjalankan proses pendidikan di sekolah.

Biaya sumbangan pengembangan pendidikan (SPP), BP3, atau uang buku memang sudah dihapus, seiring dengan hadirnya bantuan keuangan biaya operasional sekolah (BOS). Namun hal itu bukan berarti sekolah benar-benar menggratiskan biaya pendidikan. Nyatanya, biaya pendidikan tetap dibebankan kepada orangtua dengan berganti nama, misalnya biaya investasi (biasanya untuk pengembangan sarana prasarana), biaya operasi, atau biaya personal (biasanya untuk kegiatan siswa, seperti OSIS, pramuka, dan sebagainya).

Besarnya biaya pendidikan yang telah ‘berganti rupa’ tersebut bisa mencapai jutaan rupiah. Di Banten, biaya pendidikan bagi siswa baru di tingkat SMA/SMK saja bisa berkisar minimal Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta. Angka yang cukup besar bagi masyarakat kelas bawah yang kini masih tertatih-tatih akibat beban ekonomi yang harus ditanggungnya.

Undang-Undang Sisdiknas memang mengamanatkan bahwa biaya pendidikan ditanggung pemerintah, pemerintah daerah, dan juga partisipasi masyarakat. Kalimat partisipasi ini kerap dijadikan semacam dalil pembenaran untuk membebani orangtua dengan macam biaya pendidikan. Dengan dalih sudah rapat pengelola sekolah, komite, dan orangtua murid, biaya pendidikan tetap diberlakukan kepada masyarakat.

Padahal, pada setiap kampanye calon bupati, gubernur, ataupun presiden, si calon kerap melontarkan janji-janji pendidikan gratis, pendidikan murah, memperbesar anggaran pendidikan, dan lain-lain. Nyatanya, pendidikan tetap tak gratis. Janji itu hanya tinggal janji tanpa bukti. Sekarang, rakyat menunggu, kapan pendidikan yang “benar-benar” gratis itu bakal terwujud? (qizink)

 

3 Tanggapan to “Pendidikan yang Tak Gratis”

  1. Sawali Tuhusetya Juli 2, 2008 pada 6:02 pm #

    apalagi kalau BHP sudah diberlakukan, mas qizink, sudah dipastikan makin banyak anak2 yang ndak bisa menikmati bangku pendidikan kaibta mahaknya biaya yang mencekik leher, haks:mrgreen:

  2. Kang Aom Juli 6, 2008 pada 11:29 pm #

    Sesuatu yang tidak mungkin jika kita berfikir bahwa biaya pendidikan gratis….tapi kalau biaya sekolah gratis mungkin..!Pengeluaran dari post SPP atau DSP yang ditetapkan Komite Sekolah bisa digratiskan jika pemerintah mau memanfaatkan kewenangannya. Tapi pengeluaran dari post transportasi, buku, tugas sekolah dan lain-lain jelas itu diluar jangkauan intervensi pemerintah…padahal post pengeluaran pendidikan inilah menurut pengalaman saya jauh lebih besar dibandingkan SPP atau DSP…

  3. qizinklaziva Juli 7, 2008 pada 1:38 am #

    @ Sawali Tuhusetya
    Semoga saja BHP itu tak diberlakukan. ‘Tak ada negara yang bagus tanpa SDM yang bagus. Tak ada SDM yang bagus tanpa pendidikan yang bagus. Tak ada pendidikan yang bagus, bila masyarakat tak bisa menikmatinya’ hiks!

    @ Kang Aom
    Saya setuju dengan pendapat Kang Aom. Tapi masalahnya pemerintah tak mau memanfaatkan kewenangannya itu untuk bisa menggratiskan biaya sekolah. janji 20 persen saja bahkan belum terpenuhi… padahal pemerintah sendiri yang membuat janji…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: