Menulis Berita Yuk!

26 Jun

 

Hari ini saya liputan dibuntuti seorang mahasiswa semester IV jurusan Komunikasi Penyiaran Islam dari IAIN SMH Banten. Ia sedang magang kegiatan jurnalistik dari kampusnya. Sehari dia mengikuti saya (kecuali ke toilet). Banyak hal yang ia tanyakan tentang jurnalistik pada saya. Ada yang bisa saya jawab, ada juga yang nggak.

Kehadiran mahasiswa ini ternyata juga memberi motivasi buat saya untuk menulis sekelumit tentang menulis berita. Tulisan ini, tentu saja hanya buat orang-orang yang baru mulai menulis berita. Bagi yang sudah jago… nggak usah dibaca juga nggak papa koq tulisan ini :

 

tapi yang berminat anjut baca ya!!!

 

 

Sekilas Sejarah Jurnalitik

JURNALISTIK memiliki sejarah yang sangat panjang. Pertama kali jurnalistik hadir di jaman kekaisaran Romawi Kuno, ketika informasi harian dikirimkan dan dipasang di tempat-tempat publik untuk menginformasikan hal-hal yang berkaitan dengan isu negara dan berita lokal. 

Pada saat itu, publikasi informasi  hanya  untuk kalangan terbatas, terutama para pejabat pemerintah. Pada abad 17-18, surat kabar dan majalah untuk publik diterbitkan untuk pertama kalinya di wilayah Eropa Barat, Inggris, dan Amerika Serikat. Surat kabar untuk umum ini sering mendapat tentangan dan sensor dari penguasa setempat. Iklim yang lebih baik untuk penerbitan surat kabar generasi pertama ini baru muncul pada pertengahan abad 18, ketika beberapa negara, semisal Swedia dan AS, mengesahkan undang-undang kebebasan pers.

Industri surat kabar makin meluas ketika budaya membaca di masyarakat semakin meluas. Terlebih ketika memasuki masa Revolusi Industri, di mana industri surat kabar diuntungkan dengan adanya mesin cetak tenaga uap, yang bisa menggenjot oplah untuk memenuhi permintaan publik akan berita.

BAGAIMANA dengan di Indonesia? Tokoh pers nasional, Soebagijo Ilham Notodidjojo dalam bukunya “PWI di Arena Masa” ( 1998 ) menulis, Tirtohadisoerjo atau Raden Djokomono (1875-1918), pendiri mingguan Medan Priyayi yang sejak 1910 berkembang jadi harian, sebagai pemrakarsa pers nasional. Artinya, dialah yang pertama kali mendirikan penerbitan yang dimodali modal nasional dan pemimpinnya orang Indonesia.

Dalam perkembangan selanjutnya, pers Indonesia menjadi salah satu alat perjuangan kemerdekaan bangsa ini. Salah satu fasilitas yang pertama kali direbut pada masa awal kemerdekaan adalah fasilitas percetakan milik perusahaan koran Jepang seperti Soeara Asia (Surabaya), Tjahaja (Bandung), dan Sinar Baroe (Semarang) (“Pikiran Rakyat”, 23 Agustus 2004).

Kondisi pers Indonesia semakin menguat pada akhir 1945 dengan terbitnya beberapa koran yang mempropagandakan kemerdekaan Indonesia seperti, Soeara Merdeka (Bandung), Berita Indonesia (Jakarta), dan The Voice of Free Indonesia.

Seperti juga di belahan dunia lain, pers Indonesia diwarnai dengan aksi pembungkaman hingga pembredelan. Pembredelan pertama sejak kemerdekaan terjadi pada akhir 1940-an. Tercatat beberapa koran dari pihak Front Demokrasi Rakyat (FDR) yang dianggap berhaluan kiri seperti Patriot, Buruh, dan Suara Ibu Kota dibredel pemerintah. Sebaliknya, pihak FDR membalas dengan membungkam koran Api Rakjat yang menyuarakan kepentingan Front Nasional. Sementara itu pihak militer pun telah memberedel Suara Rakjat dengan alasan terlalu banyak mengkritik pihaknya.

 

Peran Pers

Banyak kalangan menyatakan bahwa pers kini telah bebas merdeka. Pada kenyataannya, di lapangan masih banyak wartawan dan fotografer mengalami intimidasi dari berbagai pihak, bahkan hingga penyiksaan fisik, padahal mereka telah menunjukkan kartu identitasnya sekali pun. 

Di negara antidemokrasi, pers kerap dianggap sebagai musuh. Laporan pers dianggap berpotensi menjatuhkan pemerintah. Malah ada pemeo “mata pena lebih tajam dari pedang” atau ucapan Napoleon Bonaparte yang mengatakan  “pena lebih berbahaya ketimbang peluru”.

Pers sebagai bagian dari kekuasaan memang bisa memiliki beberapa fungsi. Mulai dari menarik dan mengarahkan perhatian, membujuk pendapat dan anggapan, memengaruhi pilihan sikap, memberi status legitimasi, hingga mendefinisikan dan membentuk persepsi atas sebuah realitas. Praktek junalisme pernyataan yang lebih merupakan kutipan atas pernyataan seorang tokoh atau pejabat dan counter pakar atas suatu pernyataan pada hakekatnya telah menyulap news paper menjadi views paper. Artinya, media lebih memberitakan tentang persepsi atau pikiran ketimbang menghadirkan kenyataan sosiologis. Sebuah berita direkonstruksi berdasar ucapan dan pikiran para narasumber.

Di Indonesia, kerap kali pers dibingkai dalam bahasa jargon. Ada banyak sebutan terhadap pers. Mulai dari “pers perjuangan”, “pers pembangunan”, “pers yang bebas tapi bertanggungjawab”, “pers Pancasila”. Orang kerap lupa pada fungsi sebenarnya bahwa pers tak lebih dan tak kurang adalah pers; sebuah media yang punya fungsi sosial. Demikian pula wartawan tak lebih adalah wartawan, seseorang yang tugasnya meliput sebuah kejadian. Tak lebih tak kurang.

Dengan demikian, saya pikir terlalu berlebihan sebutan atau kiasan yang menggambarkan wartawan sebagai seekor “binatang” yang menggigit, apalagi menghisap darah, seperti yang tergambar lewat penyebutan “nyamuk pers” atau “anjing penjaga” (watchdog). Sama berlebihannya dengan menggambarkan pers sebagai sebuah pilar demokrasi.

 

MENULIS BERITA

Sebelum menulis berita, seorang wartawan/jurnalis terlebih dahulu mesti melakukan pengumpulan data untuk bahan tulisan. Ada tiga hal penting tentang cara mengumpulkan data untuk kepentingan penerbitan pers atau tugas-tugas jurnalistik, yakni reportase (investigasi, observasi ke lapangan, dsb), wawancara dan riset kepustakaan.

Setelah semua data terkumpul, sebenarnya kita bisa langsung mengetikannya. Namun para pemula kadang kebingungan dalam menghadapi setumpuk data. Akhirnya mereka mengeluh : “Bagaimana menulisnya.”, “Apa dulu yang akan kita tulis.”, dsb.

(Nggak Usah bingung! Santai Aja Gitu Loh!)

Periksa dulu rencana awal (kalau Anda reporter biasanya ada lembar penugasan/proyeksi). Pada perencanaan awal itu tentu sudah ditentukan, data yang Anda cari itu untuk rubrik apa, fokus ceritanya apa, lalu angle/point of view (sudut pandangnya) ke mana. Lalu cocokkan dengan data yang Anda peroleh. Apakah sudah terkumpulkan semuanya? Kalau belum, cari yang kurang. Kalau pas, siap-siaplah ditulis.

Mengolah Data Setelah ditentukan angle baru atau data itu memang pas dengan perencanaan, langkah selanjutnya adalah membedah data. Mana yang relevan untuk tulisan yang akan digarap dan mana yang tidak. Jangan segan-segan membuang data yang tidak perlu, walau tadinya dicari dengan penuh gesit dan susah payah. Dalam proses menyiangi ini akan terlihat apakah reportase dilengkapi dengan wawancara khusus yang merupakan bagian tersendiri, atau wawancara itu dimasukkan dalam bagian reportase, artinya menyatu dengan tulisan induk. Juga terlihat, apakah tulisan itu perlu didukung oleh grafik atau tabel untuk lebih menjelaskan pada pembaca. Ini mempengaruhi cara Anda menulis berita itu.

 

 

(Sekedar buat diingat ketika menulis berita!)

 

1. Beri porsi lebih buat ‘tokoh utama’ dibandingkan para ‘figuran’.

Misal: Ada data seperti ini : Ratusan Pelajar MAN 2 Serang protes tentang peredaran togel di Banten. Pemimpin pelajar (misal ketua OSIS) dan aktivitasnya adalah tokoh utama. Sedangkan ratusan pelajar lainnya adalah figuran.

Ketika menulis berita, kita tidak usah menuliskan kutipan seluruh pelajar yang protes, cukup pemimpinnya saja, atau pendampingnya yang vokal saja. Sedangkan puluhan lainnya cukup disebut jumlahnya dan asalnya. Tidak perlu deskripsi lengkap: nama-nama mereka, usianya, deskripsi tubuhnya, apalagi nama pacar dan neneknya. (emangnya koran buat pamer nama!).

 

2. Pergunakan data sesuai dengan kebutuhan berita itu. Misalnya soal-soal detail. Tak semua detail itu penting.

Contoh : Tidak ada gunanya menulis berita ‘Sebanyak 2.751 siswa SMA Se-Banten menggelar aksi besar-besaran, menentang peredaran VCD Porno di Banten’. Karena Berita seperti itu cukup ditulis ‘Ribuan pelajar SMA Se-Banten menggelar aksi…,”

Tetapi untuk hal tertentu, detail penting. Misalnya, pertandingan sepakbola. ”Gol terjadi pada menit ke 43”. Ini tak bisa disebut sekitar menit ke 45, karena menit 45 sudah setengah main. Menit ke 43 sangat penting artinya dibandingkan menit ke 30, misalnya. Atau tulisan begini: ”Pelari itu mencapai finish dengan waktu 10.51 detik.” Ini penting sekali bagi pembaca. Mereka akan marah kalau detail itu misalnya ditulis ‘Pelari itu mencapai finish dengan waktu sekitar 11 menit.’

 

3. Jangan Menjubelkan Detail

Ada kalanya data itu penting semua. Apalagi ini menyangkut deskripsi seorang tokoh yang mau ditonjolkan, misalnya. Kalau itu memang diperlukan, jangan memperlakukan data itu semaunya, ditumpahkan dalam satu kalimat. Akan lebih baik kalau data itu disebar dalam beberapa kalimat.

Contoh: Ada seorang bintang film ganteng bernama  Qizink (lumayan bisa narsis nih). Sejak SD ia selalu juara kelas. Pacarnya calon dokter. Punya 3 adik. Anda sudah melakukan reportase di rumah Qizink dan sudah mendapatkan data-data yang banyak sekali.

Lalu Anda menulis beritanya begini: ‘Qizink, foto model ganteng, sejak SD selalu jadi juara kelas, umurnya 21 tahun, adiknya tiga, pacarnya calon dokter, dan ia sudah berhasil menyekolahkan adiknya sampai menjadi dokter, mendapat penghargaan dari MAN 2 Award.’

Tulisan kalimat itu tidak ada yang salah. Namun, kalimat seperti itu membuat capek pembaca. Dan itu bukan bahasa jurnalistik, apalagi jurnalistik model sekarang ini yang sering disebut sebagai jurnalistik baru. Anda haru memecah-mecah data itu misalnya seperti ini:

ANYER – Qizink (21), mendapat penghargaan dari MAN 2 Award, pada Festival Film Modern (FFM), di Hotel Marbella, Anyer, Sabtu (22/2). Bintang film berwajah ganteng itu terharu ketika menerima penghargaan dari Christine Hakim, Panitia FFM. Apalagi saat Oneng Sureneng, kekasihnya juga ikut menyaksikan pemberian penghargaan untuk kategori aktor terbaik itu.

 “Saya tak pernah mimpi mendapatkan penghargaan ini,” kata Qizink, selebritis yang  sejak SD selalu juara kelas itu.

 

4. Perlu Juga Bikin Out-Line

Membuat out-line sangat perlu agar menggampangkan Anda mengolah data. Apalagi kalau berita yang Anda rancang itu berita panjang atau sejenis laporan utama. Apalagi kalau wartawan yang dilibatkan dalam pemberitaan ini tidak satu orang, tetapi banyak. Banyak data yang akan masuk, banyak informasi yang datang. Out line akan membantu karena ia mengatur lalu-lintas informasi, membagi permasalahan. Dalam menuliskan berita Anda tinggal mengikuti out line itu. (*)

 

Selamat Menulis Berita!

4 Tanggapan to “Menulis Berita Yuk!”

  1. Sawali Tuhusetya Juni 26, 2008 pada 3:52 pm #

    saya selalu angkat topi kepada kawan2 jurnalis. dulu sebelum jadi guru sempat juga jadi reporter sebentar, tapi kemudian banting setir jadi guru, hehehe😆 pers di negara demokrasi juga diyakini sebagai pilar yang ke-4. lewat perslah banyak kejadian yang bisa dianggap jadi berita. dng cara seperti itu *sok tahu* pers juga telah menjalankan fungsinya sbg kekuatan kontrol utk ikut menyuarakan hati nurani rakyat. hidup pers indonesia.

  2. madzz Juni 27, 2008 pada 1:59 am #

    blognya sangat bagus dan artikel2 nya juga sangat

    bagus sekali dan mudah untuk menarik pengunjung.

    dan kalau bisa beritanya juga di update tiap hari

    terima kasih.

    dan jangan lupa untuk mengunjungi blog kami dan memberikan komentar2 yang dapat membangun.

  3. jujur Juni 30, 2008 pada 4:05 am #

    Alo Boss……….Dah lama tinggalin Pandeglang gimana tulis dong berita tentang pandeglang atau buat artikel tentang kehidupan pandeglang. kan lagi rame pinjaman 200 M itu bos apa dah gak kritis lagi buat pandeglang… gimana kabar endang……….imam yang banyak seliwet nemenin lagi lipt di pandeglang masih pada idealis gak ato dah…….????mudah-mudahan masih yah bosdan terus hidup sedrhana bos….Kayak PNS kalo wartawan jadi Kaya jadi Tanda tanya bos….????tapi kalo kayak tetep sederhana kan adem bos….

  4. amrin rais Juli 27, 2008 pada 7:48 am #

    bikin buku dong…bagus tuh…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: