Pendidikan Guru di Bawah Standar

24 Jun

Dari 84.108 guru di Banten, lebih dari separuhnya belum memenuhi standar. Hingga kini tercatat sebanyak 52.000 guru belum berpendidikan sarjana (S1) atau Akta IV. “Ini pekerjaan rumah (PR) buat kita semua,” terang Machmud Marua, Kabid Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan (PMPTK) Dinas Pendidikan Banten, pada Lokakarya Nasional, ‘Pelatihan Spiritual dan Jambore Nasional untuk Guru dan Tenaga Kependidikan,’ di Hotel Mahadria, Senin (23/6).

Kata Mahmud, butuh waktu 5-10 tahun untuk mengejar standar tersebut. Hal ini bila diasumsikan, setahun minimal 10 ribu guru melanjutkan pendidikan hingga S1 atau Akta IV. “Kondisi keuangan kita terbatas. Sementara kita diberi batas waktu hingga 2014. Kita sudah undang perguruan tinggi dan lembaga peningkatan mutu pendidikan (LPMP) untuk membicarakan masalah ini,” tambahnya.

Dalam seminar yang diselenggarakan Yayasan Bina Wanita Bahagia ini Marua menyebutkan, standar pendidikan tenaga pengajar ini sangat penting dalam proses pendidikan. “Tak ada sumber daya manusia (SDM) bermutu tanpa pendidikan bermutu. Tak ada pendidikan bermutu tanpa guru bermutu. Dan tak ada guru bermutu tanpa kesejahteraan bermutu,” ungkapnya.

Selain itu, Marua menyebutkan, hingga tahun ini baru 3.400 guru yang ikut sertifikasi. “Yang lulus sertifikasi sebanyak 728 guru. Penentuan sertifikasi oleh Universitas Negeri Jakarta (UNJ), bukan oleh dinas. Uangnya akan ditransfer bulan ini atau bulan depan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ijah Faijah, Ketua Yayasan Bina Wanita Bahagia, mengatakan, perlu nilai spiritual dari guru dalam meningkatkan kualitas. Menurutnya, idealisme dan keikhlasan sangat penting bagi tenaga pendidik. “Saya menyaksikan sendiri ada beberapa tenaga guru yang mengikuti seminar hanya untuk mendapatkan sertifikat. Karena sertifikat itu punya nilai jual bagi guru,” ungkapnya. (qizink)

 

3 Tanggapan to “Pendidikan Guru di Bawah Standar”

  1. Sawali Tuhusetya Juni 24, 2008 pada 5:44 am #

    bisa jadi angka itu tak hanya terjadi di banten, mas qizink, tapi juga hampir terjadi di berbagai daerah. sayangnya yang dijadikan patokan kok kualifikasi ijazah. saya kok kurang begitu yakin, ijazah akan menjadi penentu kualitas guru. gelar sepanjang apa pun kalau kompetensi rendah; biasa nyuri karya orang, haks, memanipulasi dokumen portofolio, waduh, jangan harapn deh pendidikan di negeri ini maju meski gurunya bertitel ngedap-edapi.

    @ Sawali Tuhusetya
    Pak guru tentu lebih paham dengan kondisi ini…

  2. Baskoro Adi Prayitno Juni 25, 2008 pada 9:31 am #

    Sepakat Bang Sawali… ada uang ada gelar, nggak perlu kuliah…mau S1, S2, S3, S4, S5, atau S teler…ha…ha…

    @ Baskoro Adi Prayitno
    Itulah repotnya kalao pendidikan sudah jadi industri… semuanya kudu pake uang!!

  3. Diah Juni 25, 2008 pada 9:32 am #

    Kalau saya tidak setuju patokanya hanya karena ijasah.Karena banyak ijasah tinggi erata di lapangan kurang cakap.mending ijasah cukup d3/s1 bila perlu SMA..tap kualitas mengajar cakap dan menguasai…tapi ada nggak ya….??? 🙂

    @ Diah
    Kalau yang sarjana aja sudah parah… apalagi yang bisa diandalkan dari pendidikan? :DD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: