Negeri Orang-Orang Kelewatan

9 Jun

Oleh: Qizink La Aziva

 

Bererapa hari yang lalu, seorang kawan mendengus kesal, saat bersama saya menonton tayangan televisi. Ia merasa kesal, karena 5 liputan tayangan TV program kriminal yang ditontonnya menyuguhkan kasus yang sangat kelewatan. Ada kasus seorang ayah tiri di Bekasi yang membunuh anaknya hanya karena memuntahkan makanan, ada pengangguran di Tangerang yang menggorok anak kecil tetangganya hingga mampus hanya gara-gara tidur siangnya terganggu, ada sepasang kekasih di Tasikmalaya yang nekad bunuh diri bersama gara-gara kisah percintaan mereka tidak disetujui orang tua, ada seorang jambret babak belur dan hampir mati setelah mengambil dompet seorang wanita yang isinya cuma duit Rp 2 ribu, dan ada juga seorang anak SMP yang melakukan sodomi terhadap 5 anak kecil.

Sungguh kelewatan!

Menurut kawan saya itu, tindakan-tindakan kelewatan yang muncul di tayangan televisi itu merupakan gambaran kecil dari parade panjang perbuatan kelewatan penduduk negeri ini. Saya hanya tertawa mendengar analisa teman saya yang kelewatan tapi tepat sasaran itu.

Teman saya itu memang betul, negeri bernama Indonesia ini memang sudah dipenuhi orang-orang kelewatan. Para PKL kelewatan memenuhi trotoar yang semestinya untuk ruang publik. Kata almarhum Harry Roesli, “Mereka termasuk golongan ‘mentang-mentang miskin, berbuat semaunya saja’”.

 

Aparat kecamatan kelewatan meminta biaya pembuatan KTP melebihi ketentuan yang berlaku. Pembuat acara di televisi sudah kelewatan karena tidak bisa lagi membedakan antara acara berbau religius dan mistik, sehingga mereka dengan seenaknya mencampuradukannya. Para pejabat Departemen Agama (Depag) yang paling mafhum masalah keagamaan, baik di pusat maupun di daerah, kini berbondong masuk ruang peradilan karena tindakan kelewatan mereka yang coba-coba melakukan korupsi. Mantan pelaku Kriminal di Kasemen Banten kelewatan mengaku sebagai nabi. Seorang anak yang cuma tamatan Tsanawiyah (setingkat SLTP) di Dusun Salena, Kelurahan Buluri, Palu, Sulawesi Tengah, tidak tanggung-tanggung kelewatannya. Ia dengan pede mengaku sebagai Tuhan yang bisa menghidupkan kembali orang yang sudah mati. Kelewatan Sekali!

 

Pemerintah kita sudah sangat kelewatan membebani rakyatnya dengan melambungkan harga BBM dengan cara yang sangat kelewatan. Rakyat yang sudah hidup Senin-Kemis, dengan cara kelewatan dipaksa memikul beban berat hingga meringis kesakitan.

 

Sungguh kelewatan!

 

Untuk mengobati sakit rakyat, pemerintah sangat kelewatan merayu rakyat dengan mencoba menawarkan ‘gula-gula’ bernama dana bantuan langsung tunai (BLT). Namun sayangnya, dana yang kelewatan kecil di tengah kebutuhan besar rakyat itu tidak berjalan mulus. Dana kompensasi itu banyak yang tidak tepat sasaran. Dan kelewatannya lagi, masih ada saja oknum pejabat yang tega memotong dana orang miskin.

Kelewatannya lagi, langkah yang diambil pemerintah itu ternyata bukan jalan keluar terbaik bagi rakyat yang saat ini kondisinya kurang baik. Pemberian dana bantuan secara tunai, menurut Ketua DPR Agung Laksono, hanya akan menciptakan masyarakat yang malas, tidak mandiri, dan selalu tergantung pada bantuan pemerintah. Sehingga langkah kelewatan pemerintah Soesilo Bambang Yudhoyono alias Esbeye (meminjam sebutan yang kerap digunakan Radhar Panca Dahana) itu bisa berdampak buruk pada etos kerja masyarakat. Menurut Agung Laksono lagi, pemberian bantuan tunai paling lambat cukup satu tahun saja. Setelah itu bantuan mesti diganti dengan kegiatan padat karya yang bisa melibatkan banyak rakyat.

 

Di tengah himpitan penderitaan rakyat seperti ini, masih ada saja sikap kelewatan di negeri berpancasila ini. Dan tindakan kelewatan itu berhembus dari gedung DPR RI. Para ‘wakil rakyat’ ini dengan kelewatan menyetujui penambahan tunjangan anggota dewan Rp 10 juta per orang per bulan. Kelewatannya persetujuan ini terjadi di tengah jutaan rakyat yang berhimpitan, berdesakan, bahkan hingga mengorbankan nyawanya untuk mendapatkan dana kompensasi SLT sebesar Rp 100 ribu per keluarga per bulan. Ini sungguh-sungguh kelewatan, tunjangan wakil rakyat ternyata lebih besar dari tunjangan orang-orang yang diwakilinya.

 

Belum juga habis rasa kesal rakyat terhadap para legislatif di senayan yang kelewatan minta tambahan tunjangan, sikap kelewatan juga muncul dari Istana Presiden. Dari ruangan ini berhembus, anggaran operasional kepresidenan direncanakan akan dinaikan hingga sekitar 57 persen. Pada 2006 nanti, pemerintah berencana menaikan anggaran kepresidenan yang semula Rp 727,2 miliar berubah menjadi Rp 1,147 triliun, atau naik Rp 419,9 miliar dibandingkan anggaran tahun sebelumnya.

 

Menurut Kepala Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional (Bappeki) Departemen Keuangan Anggito Abimanyu, peningkatan anggaran kepresidenan sangat rasional dan tidak terelakan karena ada program-program yang butuh pembiayaan, antara lain pembelian pesawat kepresidenan, (Kompas, 27/11/2007). Tentu saja, sangat sah presiden membeli pesawat baru dan mewah. Tapi perlu juga dipertanyakan tingkat kepekaan sosial pemerintah dengan rencana tersebut. Pasalnya rencana tersebut muncul di tengah gejolak masyarakat yang terhenyak dengan naiknya tarif angkutan kota.

 

Sungguh ini pun kelewatan!

 

***

 

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesai (KUBI), kelewatan sama dengan terlalu atau melampaui batas. Dalam ajaran agama, Tuhan dengan tegas membenci setiap orang yang bertindak melampaui batas. Kalau demikian, saya khawatir Tuhan tidak hanya membenci tapi akan murka dan menurunkan azab-Nya ketika melihat orang-orang di negeri ini yang memang sebagian besar kelewatan. Dan jika azab-Nya yang sudah turun, maka rasanya akan kelewatan pedih dibandingkan kepedihan yang saat ini kita rasakan.

 

Maaf, bila ada yang tersinggung dengan tulisan ini. Anggap saja ini adalah angin lewat.(*)

Gambar diambil dari http://www.williamschickelgallery.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: