[Cerpen] Bukan Penunggu

9 Jun

Cerpen: Qizink La Aziva

 

Bulan di atas Pantai Carita masih seperti beberapa hari yang lalu, terlihat begitu pucat dan pasi. Di bangku panjang yang ada di bibir pantai, Danang dan Evni duduk berdua. Angin malam yang begitu nakal, tak henti-hentinya menusuk kulit keduanya.

 “Ni, boleh aku mengatakan sesuatu padamu,” ungkap Danang memecah kesunyian. Sekilas Evni melirik ke wajah berambut gondrong itu. “Maukah kamu menjadi pacarku?” lanjut Danang bertanya, bersamaan dengan gerakan awan yang sempurna menutupi wajah ayu sang Dewi Malam.

 Evni tak lekas menjawab. Gadis bertahi lalat di dagunya itu merapatkan sweter biru kesayangannya terlebih dahulu. “Aku nggak bisa menjawabnya, Nang!” sahut Evni yang suaranya nyaris kalah dengan debur ombak yang begitu kuat menghantam karang.

 “Kenapa?” Danang mendesak..

 “Aku belum bisa menjawabnya sekarang, Nang!” sahut Evni kembali mengulang..

 “Sampai kapan?” suara Danang makin meninggi, seakan takut jika suaranya tidak didengar oleh lawan bicaranya..

 “Entahlah!” sahut Evni. “Yang pasti aku tidak bisa memberikan keputusan itu sekarang,” lanjut Evni menegaskan, ketika dilihatnya Danang begitu tajam menatap wajahnya. Evni selalu tak kuasa untuk membalas tatapan mata Danang yang laksana mata elang..

 “Kenapa tidak kau katakan saja, Ni. Sebulan yang lalu kamu pun mengungkapkan hal itu. Kamu selalu mengelak untuk menjawab pertanyaanku, apakah kamu bisa menjadi kekasihku?” ungkap Danang sambil meraih tangan Evni yang lembut. “Aku telah siap untuk menerima apa pun yang akan kamu katakan. Hanya butuh kepastian tentang hubungan kita ini!” tambah Danang kembali menegaskan..

 Evni tertunduk lesu. Perempuan berambut sebahu itu menarik napas panjangnya. “Please dong, Nang! Beri aku waktu untuk memikirkannya,” ungkap Evni kemudian. .

 “Oke. Aku akan beri kamu waktu untuk memikirkannya. Tapi beri juga aku kepastian, kapan jawaban itu akan kamu berikan untukku. Sehari? Seminggu? Sebulan atau mungkin setahun?” ucap Danang yang kali ini pandangannya menuju laut lepas. .

 “Tolong jangan paksa aku untuk menjawab kapan kepastian tentang itu akan datang, Nang. Bila waktunya sudah tiba, aku pasti akan menjawabnya,” sahut Evni dengan nada tak pasti. .

 Danang menghela napasnya. Pria bertubuh kurus itu merasa sudah kehabisan akal, untuk meyakinkan gadis yang kini duduk di hadapannya itu. “Aku siap menerima keputusan darimu, yang terpahit sekalipun,” ungkap Danang dengan nada getir. .

 *** .

 

Danang telah memasukkan kaos hitam polos favoritnya ke dalam tas ranselnya. Ditariknya resleting tas yang dibelinya di Royal, saat dia main ke Serang beberapa bulan yang lalu itu. .

 “Kamu sudah yakin akan pergi meninggalkan kota ini, Nang?” tanya Firman, teman satu kos Danang. .

 Danang dan Firman adalah dua sahabat karib sejak kecil di panti asuhan Bina Andhika di Bogor. Sejak dua tahun yang lalu, kedua remaja yang tak tahu asal-usul keluarganya tersebut, memilih meninggalkan panti asuhan yang ditempati sejak masih kanak-kanak itu. Keduanya merasa usia 17 tahun adalah waktu yang tepat untuk bisa hidup mandiri. .

 Keduanya meminta ijin kepada pemilik panti asuhan untuk mencoba hidup mandiri, tanpa tergantung bantuan orang lain. Untung saja, Pak Budiman, pengelola panti asuhan, mengerti keinginan keduanya. Pria setengah baya itu pun rela melepas dua orang anak asuhnya..

 Firman memilih menjadi pelukis di kawasan wisata Pantai Carita, sedangkan Danang yang punya sedikit keahlian bermain musik, mengais rejeki sebagai pengamen jalanan. .

 “Memang sangat berat bagiku untuk meninggalkan kota Pandeglang yang sangat aku cintai ini. Kota ini sama saja dengan panti asuhan tempat kita dulu. Di kota ini cukup banyak kenangan yang kusimpan,” ungkap Danang sambil meletakkan tas ranselnya ke atas meja. .

 “Lantas?” desak Danang..

 “Aku merasa di kota ini aku sudah tak lagi punya harapan,” sahut Danang pelan. ”Orang yang amat aku cintai tak bisa memberiku sebuah kepastian. Aku bukan lelaki yang bisa sabar untuk menunggu sesuatu yang tak pasti,” lanjut pria yang suka musik country ini menjelaskan. .

 Firman mengerti apa yang dimaksudkan Danang, karena Danang sering bercerita tentang hubungannya dengan Evni. Firman tahu betul, betapa besarnya cinta Danang kepada Evni. Evni adalah cinta pertama bagi Danang. Firman merasa iba, karena rasa cinta sahabatnya itu belum mendapatkan balasan dari Evni. .

 “Nang, sampai kapan kamu akan pergi?” tanya Firman. .

 Danang mengangkat kedua bahunya. “Sama seperti ketika kita memutuskan untuk pergi dari panti asuhan. Kita tak tahu, kapan akan pergi dan datang ke sebuah kota,” kata Danang kembali mengenang masa lalunya. .

 “Aku tak bisa mencegahmu untuk tidak meninggalkan kota ini. Aku mengerti perasaanmu. Tapi kuharap, kamu tidak akan melupakan sahabatmu ini,” ungkap Firman sambil merangkul pundak Danang..

 Kedua anak manusia itu berpelukan. Beberapa saat kemudian, Danang berlalu meninggalkan Firman, teman senasib dan seperjuangannya. Danang pergi meninggalkannya..

 

*** .

 

Di sebuah kamar berdinding biru muda. Evni termenung sendirian di ruang tidurnya. Di benaknya kembali tergambar peristiwa awal pertemuannya dengan Danang empat bulan yang lalu..

 Saat itu dirinya sedang asyik sendiri menikmati bakso di Plasa Pandeglang. Tiba-tiba datang Danang dengan gitar bolongnya. Beberapa detik kemudian Danang menyanyikan lagu kesukaannya, Manusia Setengah Dewa milik Iwan Fals. Tanpa ragu Evni merogoh koceknya, mengambil selembar uang sepuluh ribuan untuk diberikan kepada Danang sebagai penghargaan. Namun tak disangka, Danang malah menolaknya..

 “Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Namaku Danang,” ungkap Danang dengan senyuman nakalnya. .

 Evni terkejut. Tak menyangka akan menghadapi kejadian seoperti itu. Namun ia tak kuasa juga untuk tidak menyebutkan namanya. Bahkan gadis penyuka cokelat itu juga tak segan-segan untuk menawarkan kepada Danang agar main ke rumahnya..

 Sejak kejadian itu. Danang begitu rajin bertandang ke rumah Evni. Dan Evni pun merasakan suatu gejolak lain di dalam kalbunya. Perasaan yang sangat sulit untuk digambarkan. .

 Jatuh cintakah? Dalam hati Evni mengakui, dirinya memang jatuh cinta pada Danang. Namun, ia juga tidak bisa melupakan begitu saja sosok Agus, kekasihnya yang kini pergi meninggalkan dirinya begitu saja. Agus yang pernah menjadi kekasihnya selama dua tahun telah memberikan kenangan cukup mendalam baginya..

 “Maafkan aku, Nang. Aku memang mencintaimu. Tapi aku lebih mencintai Agus,” desah Evni, ketika jarum jam telah menunjukkan tepat arah 23.00 WIB. Dan gadis semester satu fakultas hukum perguruan tinggi swasta di Pandeglang itu pun kini sempurna dalam lelapnya..

 

***.

 

Tujuh tahun kemudian…. Evni terlihat sedang melamun di sebuah kantor biro hukum..

“Tiap hari ngelamun melulu. Udah, lupakan saja masa lalumu. Umurmu sekarang sudah hampir kepala tiga. Mau jadi perawan tua kamu!” cerocos Ita, rekan sekerja Evni..

Evni mendesah. “Tak mudah, Ta. Aku merasakan cinta sebenarnya dari Agus dan Danang. Namun sayangnya kedua orang yang kucintai itu kini tak kuketahui di mana rimbanya,” ucapnya pasrah. .

“Sedemikiankah cintamu pada Agus dan Danang!” ungkap Ita seakan tak percaya. .

“Aku akan tetap menunggu Agus atau Danag datang kembali menemuiku untuk menyatakan cintanya,” ungkap Evni pasti. .

Sementara itu, di sebuah kafe ternama di kawasan Thamrin Jakarta, dua orang pria sedang menunjukkan kebolehannya bermain musik di atas panggung. Yang bertopi baret terlihat begitu piawai memainkan jemarinya di atas keyboard, sedangkan yang berambut gondrong memadukannya dengan petikan gitarnya. Tepuk tangan menggema ketika keduanya usai memainkan sebuah lagu. .

“Permainanmu bagus, Nang!” ungkap yang bertopi baret usai pertunjukan. .

“Kamu juga, Gus!” balas si gondrong yang tak lain adalah Danang.

Yap, kedua pria itu adalah Agus dan Danang. Dua pria yang saat ini masih ditunggu kehadirannya oleh Evni.

“Semoga malam ini akan indah bagi kita berdua,” ungkap Danang sambil memeluk pundak Agus di dalam kendaraan yang mengantarnya menuju apartemennya. (End)

 

Toex EY: Makasih atas sebaris kalimat yang kau ungkapkan

3 Tanggapan to “[Cerpen] Bukan Penunggu”

  1. Sawali Tuhusetya Juni 9, 2008 pada 10:51 am #

    Kisah yang menarik, mas qizink. masih penasaran juga memantikan pertemuan antara danang, agus, dan evni. gimana nih lanjutan kisahnya?

    @ Sawali Tuhusetya
    Udah putusan mas😀

  2. Diah Juni 9, 2008 pada 2:50 pm #

    Wah kelanjutannya mana mas…jadi penasaran nich🙂

  3. ayo mas pnasaran nech, koq brsambung sich! September 10, 2010 pada 3:24 pm #

    vieena_lutu@hotmail.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: