Klarfikasi Surabaya Post Menjengkelkan

22 Mei

Surabaya Post akhirnya mengirimkan klarifikasinya atas keberatan yang saya ungkapkan di sini. Klarifikasi itu dikirimkan via email tertanggal 22 Mei 2008. Berikut adalah klarifikasi dari Surabaya Post :

========================= 

Yth Qizink La Aziva
Menanggapi surat klarifikasi saudara tentang tulisan di Surabaya Post berjudul Letusan ‘Gunung Anak Krakatau, Ancaman atau Peluang: Mengharap Elizabeth Melintas Lagi’
yang dimuat pada Senin, 12 November 2007 (di website tertulis Minggu, 12/11/2007) dapat saya jelaskan sebagai berikut.
Salah satu sumber tulisan itu yang menurut Anda adalah tulisan Anda, kami ambil dari Kantor Berita Antara edisi 4 November 2007. Silakan klik pada
http://www.antara.co.id/arc/2007/11/4/pengunjung-carita-turun-akibat-krakatau/
Media kami berlangganan Antara sehingga pengutipan itu adalah legal. Persoalan ada kesamaan dalam tulisan Antara dengan tulisan Anda itu di luar sepengetahuan kami dan juga di luar tanggung jawab kami.
Lebih jelasnya kami lampirkan tulisan lengkap Antara di bawah ini.
04/11/07 12:34
Pengunjung Carita Turun Akibat Krakatau
Pandeglang (ANTARA News) – Pengunjung obyek wisata Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, selama satu pekan terakhir menurun akibat adanya aktivitas letusan Gunung Anak Krakatau (GAK).
“Banyak rombongan wisata dari Jakarta dan Tangerang membatalkan diri untuk berkunjung ke Pantai Carita, karena adanya pemberitaan letusan Anak Krakatau itu,” kata Bayu (40) pengelola obyek wisata Pasir Putih,Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Minggu.
Ia mengatakan, selama dua hari Sabtu (3/11) sampai Mingggu (4/11), sebanyak 60 rombongan wisatawan dari berbagai perusahaan di Jakarta membatalkan diri karena takut adanya gelombang tsunami akibat letusan Anak Krakatau.
Apalagi dengan penetapan siaga level III oleh Pusat Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PBVMBG) Bandung, banyak pengunjung mengurungkan niatnya untuk mengisi liburan. Padahal, para wisatawan itu sudah membooking lokasi obyek wisata.
Tahun ini, kata dia, pengunjung Pantai Carita menurun sekitar 80 persen dibandingkan tahun lalu. Biasanya, selama satu bulan lebih setelah Lebaran Idulfitri sejumlah obyek wisata dibanjiri wisatawan.
“Saat ini obyek wisata di Pantai Carita sepi pengunjung dan dipastikan pengelola wisata mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah,” katanya.
Tengku (45) pengelola obyek wisata Karang Asem,Pantai Carita, mengatakan, selama terjadi letusan GAK banyak wisatawan domestik dan mancanegara yang sudah membooking tempat terpaksa menunda dulu sambil menunggu perkembangan letusan Anak Krakatau.
Sebetulnya, lanjut dia, sepinya pengunjung itu karena mendengar informasi sesat bahwa akan terjadi tsunami terkait letusan Anak Krakatau.
Menurut dia, berdasarkan laporan Pemantauan GAK di Desa Pasauran,Kecamatan Cinangka,Kabupaten Serang, letusan ini tidak menimbulkan gelombang tsunami sehingga diharapkan pengunjung obyek wisata tidak panik.
Surabaya Post akhirnya memberikan klarifikasinya atas copy paste opini saya dalam beritanya tanpa seijin saya, seperti yang saya ungkapkan di sini

Salam
Sugeng Purwanto

Redaktur

=======================

Klarifikasi ini tentu saja menjengkelkan saya. Karena Surabaya Post belum menjawab tentang adanya kalimat opini saya yang dimuat dalam berita tersebut. Sebagai contoh dalam Surabaya Post tertulis :

“Sangat disayangkan, jika fenomena alam Gunung Anak Krakatau yang ditunjukkan Sang Maha Pencipta saat ini terlewatkan begitu saja dengan ketakutan yang berlebihan. Sebuah langkah arif adalah dengan memanfaatkan kejadian alam ini untuk menjadi sebuah potensi yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat,” kata Bayu. (ini kalimat dalam situs Surabaya Post)—->http://www.surabayapost.info/detail.php?cat=1&id=65793
Saya mencoba mengecek kalimat tersebut di Antara. Narasumber bernama Bayu memang ada dalam Antara, tapi tak berkomentar seperti itu.
kalimat tersebut sangat mirip dengan kalimat yang saya tulis dalam opini yang saya buat, bahkan susunan kata, kalimat, hingga tanda bacanya. Kecuali ada penambahan tanda kutip yang mengidentifikasikan kalimat tersebut sebagai komentar Bayu. Padahal dalam berita Antara, Bayu tak mengungkapkan hal tersebut:
Sangat disayangkan, jika fenomena alam Gunung Anak Krakatau yang ditunjukkan Sang Maha Pencipta saat ini terlewatkan begitu saja dengan ketakutan yang berlebihan. Sebuah langkah arif adalah dengan memanfaatkan kejadian alam ini untuk menjadi sebuah potensi yang bisa dimanfaatkan untuk masyarakat. (tanpa tanda kutip dan pernyataan Bayu) —>  https://qizinklaziva.wordpress.com/2007/11/01/menjual-anak-krakatau/
Dari mana kalimat tersebut? Surabaya Post ternyata tak menjawabnya….! ini sangat menjengkelkan. Kenapa tidak fair untuk mengungkapkannnya? (qizink)
 

 

8 Tanggapan to “Klarfikasi Surabaya Post Menjengkelkan”

  1. ikaikaika Mei 22, 2008 pada 2:08 pm #

    hehehe…kasiaaaan deehh…

    @ ikaikaika😦

  2. Sawali Tuhusetya Mei 24, 2008 pada 9:44 am #

    wah, itulah repotnya bung qizink. sebagai orang yang sama2 bergerak dalam dunia pers, etika kepenulisan, idealnya mesti dinomorsatukan utk menciptakan atmofer yang kondusif!

    @ Sawali Tuhusetya
    Saya juga nggak ngerti kenapa bisa begitu… yang menjunjung kode etik koq melawan kode etik… jurnalis koq sama dengan politikus yang suka bikin aturan untuk dilanggarnya sendiri

  3. nilna Mei 25, 2008 pada 5:00 am #

    Maaf Mas qizink, ini buka berrti saya membela SBY post, memang kebetulan saya alumni Surabaya Post, tapi memang sering mengutip tanpa menyebut sumber ini, sbypost sendiri melakukan tapi sepengetahuan saya tak sengaja terutama bila ada peristiwa besar mengingat mepetnya waktu untuk melengkapi berita pada saat injury time deadline, kan koran sore mas? jadi dapat data, mungkin kalau dugaan saya gak salah teman saya di sbypost mengutip Radar banten, ya tulisan sampeyan, tapi bukan sebuah kesengajaan. saya pastikan itu sebab koran sore berat mas, terutama pada jam deadline dan ada peristiwa gede. Nanti diskusi kita lanjut, kita juga bisa saling kenal. matur suwun.

    nilna

  4. qizinklaziva Mei 25, 2008 pada 6:25 am #

    @ nilna
    Aku tak mempermasalahkan Surabaya Post mengambil tulisanku dari blogku atau situs lain… yang penting dia jujur mau menyebutkan sumbernya… tentu saja mencantumkan sebaris kata tentang sumber tulisan tak terpengaruh dengan deadline.
    Apa sih susahnya menyebutkan sumber berita. Bahkan sumber dari Antara yang diakui oleh Surabaya Post aja ternyata tak dituliskannya. Padahal biasanya berita dari antara dikasih kode (ant), tapi oleh surabaya post tidak.

  5. nilna Juni 5, 2008 pada 12:27 pm #

    Ya aku tahu mas qisink pasti gelo, kecewa, dengan ketidakjujuran itu. Saya mahfum. Saya juga menjunjung tinggi kejujuran, etika jurnalistik. Tapi ya gitu, ini sudah saya tanyakan ke Mas Sugeng kebtulan saya ketemu kemarin, ini tulisan kompilasi dari berbagai sumber yang ditulis oleh wartawan Jakarta, ditambahi redakturnya sedikit, dan antara. Ini kutipan omongan dia,” Kamu kan tahu sendiri Nil, kalau udah mepet kan yang gitu kadang lupa. Tolong sampaikan maaf saya ke mas qizink…” Dia mengira aku kenal Anda. Tapi ya gitulah Mas, masak sampeyan gak tahu aja kadang mumet…entar disambung lagi aku juga deadline. Oh ya, aku di Duta Masyarakat mas, reporter. thx

  6. qizinklaziva Juni 6, 2008 pada 1:38 am #

    @ nilna
    saya sudah enggan untuk mempermasalahkannya kembali. cape juga sih! email kedua yang saya kirimkan ke Surabaya Post juga ternyata sudah tak mendapat jawaban. Saya harus memaklumi ‘kemumetan’ di Surabaya Post.

    Akhirnya saya harus pasrah, anak tulisan yang saya lahirkan itu mengembara sendiri walau tak menyebutkan nama bapaknya….

    Salam juga buat mas Sugeng… maaf telah mengeksplore masalah ini di blog. Karena permasalahan di email sudah tak mendapat jawaban….

  7. nilna Juni 15, 2008 pada 3:42 am #

    Udah tak sampaikan ke Mas Sugeng, dia juga mohon maaf untuk yang masalah besar (marah sampyean soal krakatau) dan maaf kedua untuk tak mbalas email yang kedua sebab dia tak menerima katanya, tapi mungkin ketlisut. Mungkin dia juga mumet karena sbypost mau dibeli orang lain sehingga bingung he he he, nasibe sbypost kok yo elek terus yo mas padahal dulu aku di sana sangat jaya, disegenai, jawa pos belum apa-apa, karena itu pak dahlan sampai sekarang tak berani beli sbypost khawatir kualat sebab dulu dia yang ngramut juga pak aziz pendiri SP. pak Azis ini gurunya dahlan bahkan konon kalau gak punya uang dia minta pak azis. sambat gitu…oke mas semoga sukses
    aku suka tulisan-tulisan sampayena yang sastrawi…

  8. pranananto Juni 19, 2008 pada 7:40 am #

    Bukan utk menambah pusing atau memanasi-manasi, tp Surabaya Post harusnya menghormati hak mas Qizink. Hak moral mas qizink telah gagal dipenuhi.

    Pasal 24 UU hak Cipta ayat (1) & (2)

    butir a: “Untuk disebutkan nama atau nama samarannya di dalam ciptaanya ataupun salinanya….
    butir b: “mencegah bentuk2 distorsi , mutilasi, atau bentuk perubahan lainnya……yg pd akhirnya merusak apresiasi dan reputasi pencipta….dlm hal ini apresiasi utk mas qizink yg dirusak karena tidak disebutkan kl itu tulisan mas qizink.

    Mmg sih utk berita ada doktrin penggunaan wajar (Pasal 14 butir c) “Tidak merupakan pelanggaran hak cipta untuk pengambilan berita aktual baik seluruhnya maupun sebagian…..DENGAN KETENTUAN SUMBERNYA HARUS DISEBUTKAN SECARA LENGKAP. Tp kan enggak…

    Sebenarnya tinggal menyebutkan sumbernya saja maka tidak masalah kok. Tuntutan mas Qizink untk menyebutkan sumbernya saya rasa sangat wajar & sebaiknya dipenuhi. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: