Indonesia yang Renta dan Menderita

20 Mei

Tak terasa, Indonesia hampir memasuki usia kemerdekaanya yang ke-63 tahun, sejak Soekarno-Hatta secara resmi membacakan teks proklamasi kemerdekaan, 17 Agustus 1945 lalu. Tentu saja, usia 60 tahun bukanlah usia muda yang penuh gelora. Indonesia sudah cukup renta, dan perlu mendapat perawatan serius karena dalam kondisi kronis, dan kritis.

Kalau boleh saya menganalogikan, saat ini sang ibu pertiwi sedang terseok-seok di tengah pertarungan dunia global yang binal sekaligus brutal. Kondisi ini terjadi, akibat banyaknya penderitaan yang menghantam wajah Negeri bersangsaka Merah-Putih ini. Derita Indonesia tidak hanya terjadi pada masa penjajahan Belanda, atau Jepang. Hingga era bernama reformasi sekarang pun Indonesia masih saja diliputi duka lara.

Pada Desember tahun lalu, dua wilayah Indonesia, yakni Nanggroe Aceh Darussalam, dan Nias diguncang gelombang tsunami. Ratusan ribu jiwa anak-cucu ibu pertiwi meninggal dunia, dan hilang digulung badai akbar itu. Dan entah berapa jumlah harta benda yang hancur lebur dihantam bencana alam itu. Ibu pertiwi pun berduka menyambut pergantian tahun 2005!

Belum juga sembuh dari duka tsunami, ibu pertiwi kembali diderita kekurangan gizi. Penderitaan ini sangat sulit diterima oleh segenap anak cucu ibu pertiwi. Beribu pertanyaan berkeliaran menyikapi kondisi sebagian rakyat Indonesia yang kekurangan gizi. Mana mungkin di negeri yang subur makmur ini masih ada rakyatnya yang kekurangan gizi. Jika tongkat kayu saja bisa menjadi tanaman, mengapa masih ada orang yang kelaparan. Bukankah pemerintah juga memiliki program beras miskin (raskin) untuk membantu rakyat kurang mampu. Kenapa program itu tidak bisa dirasakan olah yang berhak. Kemanakah larinya bantuan kaum fakir miskin itu.

Belum surut penanganan masalah kekurangan gizi, ibu pertiwi kembali merana didera beragam wabah penyakit. Kasus lumpuh layuh yang menyerang sejumlah wilayah Jawa Barat, juga dirasakan sebagian warga Banten. Serangan wabah diare pun turut mengancam pelosok negeri. Bahkan tak tanggung-tanggung, penyakit impor semacam flu burung juga tak mau ketinggalan memperparah derita Indonesia.

Hebatnya lagi, beragam penderitaan yang dialami negeri ini ternyata terjadi di tengah sebagian pejabat yang hidup megah, dengan beragam fasilitas negara super mewah. Anggota legislatif yang sudah berlebihan digaji, masih saja merongrong minta tambahan gaji. Para wakil rakyat ini seakan tutup mata dengan kondisi bos (baca : rakyat) mereka yang menderita.

Sementara itu, desakan masyarakat agar keadilan sosial segera terwujudkan, hanya seperti teriakan di ruang tak bertepi yang tak pernah diperhatikan. Begitupun dengan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme yang terus berkibar di tengah upaya penegakan hukum yang masih setengah hati. Terlalu panjang jika derita Indonesia ini saya jabarkan. Yang perlu digarisi, saat ini ibu pertiwi sedang menangisi nasibnya yang selalu dirundung derita.

INDONESIA BARU
Seorang kawan penyair dari Yogyakarta, Saut Situmorang pernah berceloteh, tak mudah untuk memecahkan beragam persoalan yang melilit Indonesia. Persoalan itu bagai benang kusut yang sulit diuraikan kembali. Kata Saut, kondisi carut-marut Indonesia hanya bisa diselesaikan dengan meminta Tuhan agar mematikan seluruh penduduk, dan menciptakan generasi baru negeri ini.

Saya yakin, Saut tidak bercanda dengan pernyatannya. Indonesia yang sudah renta ini memang memerlukan pembaharuan. Meminjam istilah yang digunakan salah satu perusahan rokok, saat ini memang perlu dilahirkan kembali Republik Indonesia (reborn republic), agar Indonesia kembali belia, lucu, menggemaskan, dan disayangi semua orang. Tapi saya tidak setuju kalau Tuhan harus membumihanguskan terlebih dahulu negeri ini hanya untuk menciptakan generasi Indonesia Baru. Karena saya sangat mempercayai bahwa Tuhan tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau mengubahnya.

Aa Gym, kyai ternama asal Bandung punya gaya tersendiri untuk menciptakan generasi baru. Ia menciptakan ‘miniatur negara’ bernama Daarut Tauhid di Geger Kalong, yang dikelola anak-anak muda yang menjadi santrinya. Para santri inilah yang kelak, akan menjadi pengisi Indonesia Baru. Gola Gong, novelis asal Banten juga punya cara tersendiri dalam menciptakan, dan membentuk generasi baru. Ia merekrut anak-anak muda untuk dibina di Komunitas Rumah Dunia yang didirikannya. Baginya, penciptaan generasi lebih penting dibandingkan mengurusi ‘dosa-dosa warisan’ yang dilakukan para pendahulu. Apa yang dilakukan Gola Gong di komunitasnya ini merupakan salah satu upaya memotong (membunuh) masa lalu, sekaligus membentuk (menciptakan) generasi baru. Gola Gong yakin, di masa mendatang anak-anak muda binaanya akan menjadi pewaris negeri dengan penuh harga diri.

Aa Gym, dan Gola Gong merupakan sebagian kecil contoh orang-orang penuh percaya diri melakukan perubahan untuk melahirkan kembali generasi bangsa yang beradab. Perlu langkah kolektif dari semua elemen masyarakat agar penciptaan ini bisa segera terwujudkan. Tidak perlu konsep besar untuk mengubah kondisi bangsa. Aa Gym selalu berpesan, mulai dari yang kecil, dilakukan secara terus menerus, dan mulailah hari ini.

Dan akhirnya, Indonesia akan tersenyum bangga di ulang tahunnya kali ini, apabila semua orang mulai berlomba-lomba melakukan kebajikan. Saya yakin, sekecil apa pun perbuatan baik, akan lebih berharga dibanding omong besar.

Dirgahayu Indonesia!(qizink)

 

Iklan

Satu Tanggapan to “Indonesia yang Renta dan Menderita”

  1. kaitokid724 Mei 22, 2008 pada 12:57 am #

    Tulisan artikel di blog Anda bagus-bagus. Agar lebih bermanfaat lagi, Anda bisa lebih mempromosikan dan mempopulerkan artikel Anda di Social Bookmarking Indonesia http://www.infoGue.com ke semua pembaca di seluruh Indonesia. Salam Blogger!
    http://www.infogue.com/
    http://politik.infogue.com/indonesia_yang_renta_dan_menderita

    @ kaitokid724
    makasih sarannya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: