Keliling Dunia dengan Buku

18 Mei

 

Beberapa hari lalu, saya mendapatkan sebuah buku baru. Buku berjudul Menggenggam Dunia – Bukuku Hatiku (MDBH) saya peroleh langsung dari penulisnya, Gola Gong. Buku terbitan Dar! Mizan itu merupakan buku kedua nonfiksi karya Gola Gong yang sempat saya baca, setelah sebelumnya saya membaca buku Perjalanan Asia (PA) karyanya yang diterbitkan Puspa Swara, Jakarta.

Walaupun sama-sama menceritakan tentang perjalan hidup penulisnya (autobiographi), buku MDBH berbeda sekali dengan PA. Dalam PA, Gola Gong hanya menggambarkan kisah-kisah ‘perjalanan gilanya’ bersepeda ketika mengelilingi 8 negara di benua Asia, seperti Malaysia, Thailand, India, dan Nepal. Sedangkan pada MDBH, penulis yang kini menjadi Tim Kreatif di RCTI ini lebih banyak menyoroti pergulatan dirinya dengan dunia buku dan dunia baca di ranah Banten.

Buku dan Banten merupakan dua hal yang paling dicintai Gola Gong. Sejak di SD, Gong sudah melalap berbagai buku-buku berkelas, seperti Tom Sawyer, Petualangan Huckleberry, Oliver Twist, Guliver di Negeri Liliput, Moby Dick, Don Quizote, serta berbagai dongeng klasik dunia lainnya. Walaupun lahir di Purwakarta, Gong beranggapan, Banten merupakan daerah yang paling dicintainya.

Cintakah aku pada Banten? Ya, cinta sekali. Sebegitu dalamkah cintaku pada Banten? Ya dalam sekali. Tanahnya aku pijak kuat-kuat sehingga zat alamnya meresap ke kedua telapak kakiku, terus tersedot lewat pembuluh darah, dan bersemayam di jantungku. Udaranya aku hirup dengan gembira… (hal 148-149).

Cinta tidak hanya dalam kata-kata. Gong menceritakan rasa cintanya kepada buku dan Banten dengan segudang pergulatan. Ia berharap rasa cintanya pada buku dan Banten bisa merambah ke seluruh pelosok warga Banten. Sehingga Banten yang pernah mengalami kejayaan bisa terulang kembali. Dalam bukunya, Gong dengan tegas meyakinkan, bahwa dengan buku seseorang akan memiliki ‘tenaga dalam’ yang ampun untuk menggenggam dunia.

Kemahiran Gong dalam menulis, membuat buku bersampul remaja menyusuri rel kereta dengan menenteng ransel ini begitu enak dibaca. Buku ini tidak hanya memaparkan lika-liku Gong dalam menjalani pergumulannya dengan buku dan Banten. Tapi buku ini juga bisa jadi inspirasi bagi siapa pun untuk bersemangat menggenggam dunia. Bahkan secara lokal, buku ini juga bisa menjadi semacam ‘buku wajib’ bagi orang-orang yang memiliki kepedulian tentang Banten. Karena dalam buku ini juga dipaparkan gambaran Banten yang memang membutuhkan banyak sentuhan kepedulian dari semua pihak.

Namun tentu saja, tak ada gading yang tak retak. Begitupun dengan buku MDBH ini. Sejumlah kesalahan masih menghiasi buku setebal 259 halaman ini, misalnya kata kumrandhange (hal 100) yang semestinya kumandhange (tanpa huruf r), kata getih ditulis geutih (hal 112). Begitupun dengan judul puisi WS Rendra yang tertulis Adipati Lebak dan Tokek (hal 175). Padahal semestinya puisi itu berjudul Tokek dan Adipati Rangkasbitung. (qizink)

 

Satu Tanggapan to “Keliling Dunia dengan Buku”

  1. unmacchiato.blogspot.com Agustus 2, 2008 pada 11:32 am #

    hai

    salam kenal

    Gama
    unmacchiato.blogspot.com
    CIAO ITALIA!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: