Perang Spanduk Pilgub (Matinya Sang Calon Pemimpin)

14 Mei

Dalam satu kesempatan, saya secara iseng menghitung jumlah spanduk yang bertebaran dari Pasar Petir hingga Kantor Kecamatan Curug. Sepanjang perjalanan sekitar 10 kilometer itu saya mendapatkan 13 spanduk yang bertebaran di beberapa sudut jalan. Spanduk-spanduk yang dihiasi dengan wajah sejumlah tokoh yang hendak ikut bertarung pada pemilihan gubernur (pilgub) Banten ini dipasang di antara batang pohon atau tiang listrik hingga membentang di tengah jalan. Bahkan ada juga spanduk yang dipasang di salah satu Tempat Pemakaman Umum (TPU)! Mungkin sang pemasang spanduk ini memiliki pemikiran, mayat-mayat yang terkubur pun mesti mengetahui wajah calon pemimpin Banten mendatang!
Pemasangan spanduk di jalur Petir – Curug ini hanya gambaran kecil dari perang spanduk yang sedang terjadi, menjelang pilgub Banten mendatang. Perang spanduk ini terjadi hampir di seluruh kecamatan, bahkan hingga ke pelosok desa terpencil. Bahkan jumlahnya jauh mengalahi spanduk Ratu dan Radja yang hendak konser di Banten.
Seorang rekan wartawan pernah bercerita, dirinya cukup kesulitan ketika hendak mencoba menghitung jumlah spanduk yang terpasang di jalur sepanjang Sampay – Gunung Kencana – Malingping. Kesulitan ini dikarenanya ‘membludaknya’ jumlah spanduk ‘promosi wajah tokoh’ ini. Yang dia ingat, hampir di setiap desa dipastikan ada spanduk. Ia tak habis pikir, spanduk itu dipasang hingga di perkebunan karet dan perkebunan kelapa sawit.
Sekilas tidak ada masalah dengan pemasangan spanduk-spanduk tersebut. Kalimat yang tercantum dalam spanduk itu hanya kalimat-kalimat normatif, seperti ucapan selamat hari raya, selamat tahun baru, atau imbauan datang ke Pos PIN. Namun karena spanduk itu dipasang dengan jumlah banyak, perang spanduk ini tentu saja bisa menimbulkan permasalahan. Apalagi beberapa spanduk yang terpasang itu telah kusam dan tali pengikatnya telah copot. Sehingga spanduk-spanduk itu menimbulkan citra kumuh kawasan dan membahayakan pengguna jalan di sekitar pemasangan spanduk.
Beberapa daerah, seperti Kabupaten/Kota Tangerang mengabil sikap tegas untuk menertibkan spanduk-spanduk ini. Begitupun dengan Pemkab Serang dan Pemkot Cilegon, tidak ketinggalan untuk menyerukan pemberantasan spanduk. Namun sayangnya, penertiban spanduk ini hanya dilakukan di pusat kota. Sementara di pinggiran kota hingga ke pelosok desa, spanduk-spanduk berhias wajah tokoh ini masih tegar berkibar.
Saya tidak keberatan, jika perang spanduk ini segera dihentikan. Pemerintah jangan sungkan-sungkan untuk menertibkan spanduk-spanduk itu. Apalagi jika pemasangan spanduk itu ternyata bodong, misalnya tanpa membayar pajak atau tidak sesuai dengan hukum yang mengatur masalah spanduk-spanduk ini. Buat apa pemerintah memiliki peraturan, jika aturan main itu tidak diterapkan! Penertiban ini juga untuk memberi pelajaran kepada para calon pemimpin Banten, agar mereka berpegang pada hukum dalam melakukan setiap tindakan. Kalau belum jadi pemimpin saja mereka sudah berani cuek dengan hukum, apa jadinya bila kelak mereka terpilih menjadi pemimpin.
Dalam salah satu obrolan ringan dengan relawan Rumah Dunia, saya menegaskan, penertiban spanduk hanya masalah kecil dari fenomena perang spanduk yang kini sedang terjadi. Tapi masalah kecil ini harus segera diantisipasi agar tidak menjadi bola salju yang menggelinding tanpa bisa dikendalikan.
Hal terpenting dari fenomena perang spanduk ini adalah bahwa perang spanduk itu menunjukan telah matinya calon pemimpin di ranah Banten ini. Maksudnya, para penggede yang hendak memimpin tanah warisan para sultan ini baru muncul ke tengah rakyat ketika mereka memang membutuhkan rakyat. Para tokoh mempercantik diri, mensosialisasikan jati dirinya kepada rakyat. Mereka berupaya mendekati rakyat untuk meraup suara sebanyak-banyaknya dari rakyat, pada pilgub mendatang. Sementara sebelum aroma pilgub santer tercium, para tokoh ini seakan sungkan untuk mendekati rakyat.
Di republik funki (meminjam istilah Kang Harry Roesli), rakyat hanya masih menjadi objek politik. Saat dibutuhkan, para tokoh berlomba menarik simpati rakyat agar rakyat rela menyerahkan suaranya untuk mereka. Para tokoh seperti hendak menjadi jagoan yang akan memerjuangkan nasib rakyat yang melarat. Tapi setelah suara itu diberikan, rakyat kembali ditinggalkan. Nasib mereka pun tetap merana, agar pada masa mendatang bisa menjadi objek ocehan para tokoh dalam merangkul kembali simpati rakyat. Sementara sang tokoh yang terpilih menjadi pemimpin hanya asik bermain-main kursi kekuasaan, menyusun strategi untuk kembali merayu rakyat di pemilihan mendatang. Hal ini seperti yang diungkapkan Toto ST Radik, sang ‘Pangeran Sastra Banten’ dalam salah satu puisinya dalam antologi puisi Jus Tomat  Rasa Pedas, menjelang pemilu/rakyat dilamar dinikahi/dengan mahar seribu janji//setelah pemilu/rakyat dicerai diludahi/dijadikan ganjal kursi.*** (qizink)
 

Satu Tanggapan to “Perang Spanduk Pilgub (Matinya Sang Calon Pemimpin)”

  1. bumisegoro Mei 14, 2008 pada 2:20 am #

    pemasangan spanduk-spanduk semacam ini bikin semrawut aja. merusak pemandangan dan tidak rapih. apalagi kalau mereka lupa atau pura-pura lupa untuk mencopotnya saat udah usai. hal yg sama juga berlaku untuk penempelan stiker atau pamflet sak enak udele dewe.

    @ bumisegoro
    Kayaknya yang masang sepanduk nggak punya udel… liat aja fotonya cuma setengah badan😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: