Pertemuan Dengan Ayam Kampus

24 Apr

Mohon maaf, karena dalam lima hari terakhir ini aku sama sekali nggak ngeblog. Sehingga kelanjutan tulisanku tentang ayam kampus sempat terputus. Dalam empat hari itu aku memang menghilang lagi mendalami ilmu pelet dan santet penjajakan untuk bertemu dengan ayam kampus.

Bertemu dengan ayam kampus lebih susah dibandingkan bertemu dengan penghubungnya. Soalnya ayam kampus nggak mau sembarangan ketemu dengan orang yang belum dikenalnya. Hampir empat ayam kampus yang aku kontak, selalu nolak untuk bertemu, dengan alasan hampir sama: BELUM KENAL.

Rabu (23/3) sore, aku mencoba lagi menghubungi perempuan yang disebut-sebut juga ayam kampus. Alin, begitu saja kita sebut namanya. Dia sebenarnya udah lepas kuliah. Tapi masih melakoni transaksi check in di hotel.

Kami (aku dan seorang kawan designer) menjemput Alin di sebuah salon yang berada di kawasan Royal, Kota Serang. Untuk mengorek keterangannya, aku sengaja membawa Alin ke daerah Cilegon. Ini sebenarnya siasatku agar aku bisa  lebih lama bersama gadis dengan tinggi 165 cm ini. Padahal sebelumnya dia hanya ngajak makan bakso yang juga berasal dari kawasan Royal juga. (Kalau dekat pasti ngobrol bentar… nanti malahan ngajak ngamar… wah data nggak dapet).

Alin sosok yang enak diajak ngobrol. Perempuan yang bercita-cita jadi pramugari ini secara blak-blakan menceritakan kehidupannya. Sejak SMP ‘tanda-tanda’ kenakalannya sudah muncul, dengan diawali dengan merokok. Pada saat SMA, cewek berkulit putih ini mulai kenal dengan dunia gemerlap, alkohol, dan obat-obatan terlarang.

Walau hidup di kota kecil semacam Kota Serang, Alin kerap ikut berbagai party di luar daerah. Dia juga sudah nggak asing lagi dengan tidur di hotel dengan bermacam pria. Bahkan cewek yang mahir berbahasa inggris ini pernah kencan dengan bule yang dikenalnya dari chatting. “Malam minggu kita check in di hotel yuk, ntar aku ajak temen cewek yang lain deh!” ajak Alin.

Anak pertama dari tiga bersaudara ini belum tahu sampai kapan berhenti melakoni kehidupan seperti ini. “Inginnya sih tahun depan menikah. Tapi saya belum puas,” ujarnya, tanpa merinci tentang kepuasan yang diinginkannya.

Selama hampir dua jam kami makan dan ngobrol dengan Alin di sebuah resto ternama yang ada di sebuah pusat belanjaan di Kota Cilegon. Pulang makan, kami jalan-jalan sebentar lirak-lirik pakaian dan aksesoris. Deg-degan juga liat mata Alin begitu semangat memerhatikan sebuah kacamata yang harganya dipatok Rp 350 ribu. Aku ngebayangin Alin minta dibeliin. Mampus dah gue….!

Untungnya aku dah dapat informasi daru ER, salah seorang penikmat ayam kampus, kalau ayam kampus suka celamitan minta jajan macem-macem. Dengan berbagai upaya dan trik, akhirnya aku bisa mengalihkan perhatian agar Alin tidak konsen dengan kacamata yang lagi ditaksirnya. Trikku berhasil, Alin mau aku ajak hanya jalan-jalan tanpa sempat memegang apalagi menawar barang yang ditaksirnya tersebut.

Setelah data untuk bahan tulisan dah cukup, aku ajak Alin pulang. Tapi saat hendak keluar pusat perbelanjaan, Alin kembali melirik kacamata. “Kacamataku rusak,” Alin beralasan.

Tapi kali ini aku tak mencegah Alin untuk mencoba kacamata tersebut. Karena harganya juga cuma Rp 15 ribu. hehehehehe…

Setelah membeli kacamat, Alin pun aku bawa kembali pulang dengan selamat!

Ok ini ceritaku yang pertama tentang pertemuan dengan ayam kampus. Nanti aku lanjutin lagi… sekarang aku mau ngetik berita dulu….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: