Membaca Sajak Toto ST Radik : Lawan!

24 Apr

Oleh: Qizink La Aziva

Puluhan bahkan ribuan virus telah beredar, dan berkumpul menjadi satu koloni tiran. Virus tersebut bernama pelecehan hukum, pelanggaran HAM, keadilan yang tidak sosial, KKN, premanisasi kekuasaan, penyimpangan sistem ekonomi, sosial, dan politik, kesemrawutan dunia pendidikan, parade industri yang tak ramah lingkungan, dan lain sebagainya. Dan kini virus jahat itu sedang menyerang tubuh ibu pertiwi. Wajah ibu pertiwi menjadi babak belur, kepalanya penuh benjol, tangan kanannya hampir patah, tangan kirinya berlumuran darah, dan kedua kakinya akan diamputasi. Ibu pertiwi hampir mati!
Dalam kondisi seperti ini, apa yang mesti dilakukan oleh seorang anak bangsa yang bernama penyair? “Hanya ada satu kata, lawan!” demikianlah Wiji Thukul tegas menjawab.
Menurut ajaran Islam, perlawanan terhadap kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar) merupakan sebuah keniscayaan, karena mendiamkan sebuah kejahatan merajalela mengindikasikan lemahnya keimanan seseorang. Perlawanan terhadap kemungkaran bertujuan melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Dan penyair sebagai kolektor sabda mesti menyampaikan hasil kontemplasinya yang diyakininya sebagai kebenaran universal itu.
Perlawanan telah melahirkan “Aku” dari kejalangan Chairil Anwar, “Ballada Orang-orang Tercinta” dan “Potret Pembangunan dalam Puisi” puisi pamflet karya WS Rendra, dan “Ayat-ayat Api” mengantarkan perubahan pada diri Sapardi Djoko Damono dari seorang penyair lirik ke penyair yang bergaya protes, serta puluhan penyair dengan gaya puisinya masing-masing.
Gaya perlawanan ini pula yang sempat saya tangkap ketika saya membaca puisi-puisi Toto ST Radik (TSR), baik puisinya yang sudah dibukukan dalam Bebegig, Ode Kampung, dan Indonesia ½ Tiang, Jus Tomat Rasa Pedas, maupun pada puisi-puisi yang belum sempat ia bukukan.
Mulanya TSR lebih dikenal sebagai penyair yang memiliki kepedulian tinggi terhadap kondisi tanah kelahirannya (Desa Singarajan, Pontang). Pada puisi-puisinya, TSR banyak menyoroti keadaan lingkungan yang mulai berubah. Kicauan burung-burung yang mulai langka, hutan-hutan yang tak lagi rimba, hamparan sawah dan ladang yang sedikit demi sedikit mulai habis dan berganti dengan pabrik, udara yang sangat kotor seperti tertuang dalam puisinya yang berjudul “Burung-burung Telah Pergi”.

Pada puisi teranyarnya, penyair yang pernah mengikuti Pertemuan Sastrawan Nusantara X di Malaysia ini sangat tajam menyinggung para birokrat (terutama di Banten pascapropinsi). TSR adalah orang yang anti kekerasan. Baginya kekerasan cukup dilawan dengan olok-olok (puisi satire).

TSR sangat meyakini kekuatan pena lebih utama dibandingkan dengan ketajaman golok, seperti dalam slogan yang selalu ia dengungkan bersama rekan-rekannya di Sanggar Sastra Siswa Indonesia “Buang Golokmu Asah Penamu”. Bagi TSR, puisi tak sekadar kumpulan kata belaka, tetapi puisi juga merupakan salah satu alat yang memiliki kekuatan yang dapat digunakan untuk melakukan perlawanan terhadap kesewenang-wenangan. Dalam ajaran Islam, mungkin inilah yang disebut dengan da’wah bilqalam. Seperti yang tertuang dalam puisinya berikut ini.

JIKA MAKA

jika tuan punya golok
maka hamba punya olokolok maka hamba punya canda
jika tuan punya kursi
maka hamba punya puisi

Serang, 2002

Kekecewaan TSR pada elite kekuasaan (eksekutif dan legislatif) Banten terlihat pada puisi pantunnya berikut ini:

BADUTBADUT BANDITBANDIT

badutbadut berkawan banditbandit
pandai sekali main sulapan
ular dan tikus memburu duit
iman dan takwa cuma hiasan

Serang, 2002

Penggunaan kata-kata kasar (badut dan bandit) oleh TSR sebagai perlambang dalam puisi di atas sangat sesuai untuk sebuah puisi perlawanan (protes), untuk menguatkan perasaan (feeling) kesal, kecewa, geram, dan marah seorang sajakis (meminjam istilah Agustinus Wahyono) dalam nada pengungkapan, seperti kata-kata tabu (mengobel, borok, pelacur, dan sebagainya) yang digunakan oleh WS Rendra dalam puisi-puisi pamfletnya atau pada sajak-sajak mantra Sutardji Calzoum Bachri (pukimak, lonte, bir, dan sebaginya).

Pada puisi di atas, dapat kita lihat begitu piawainya TSR menganalogikan eksekutif dan legislatif dengan badut dan bandit, yang penuh kepura-puraan, kejam, pintar menipu, dan bekerja sama menguras uang rakyat. Sementara itu, nilai-nilai keagamaan yang mestinya dijunjung tinggi ternyata slogan belaka. Elite kekuasaan yang mestinya sebagai teladan dalam menjalankan nilai-nilai religi ternyata lebih memuja kekuasaan. “… tiada tuhan selain kursi…,” ungkap TSR dalam puisinya “Ayat Kursi” yang ditulis di Serang tahun 2002.

Masih banyak puisi Toto ST Radik yang menarik untuk dibaca. Namun yang pasti, saya hanya mendapatkan satu kalimat, bahwa dengan puisinya Toto ST Radik sedang melakukan perlawanan terhadap virus jahat yang sedang menyerang kemanusiaan. Selamat berjuang! (*)

Satu Tanggapan to “Membaca Sajak Toto ST Radik : Lawan!”

  1. rusdy September 18, 2009 pada 11:04 pm #

    setuju,……………… tp sylebih suka dgn karya beliu yg di “balada si roy” nya gola gong

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: