Retorika dan puisi : nasib proyek bersama (Esai Ben Abel)

14 Apr

 

: Erwin & Qizink

Konon, manakala sajak itu sibuk berargumen melawan pembacanya, maka yang terkesan disana adalah retorika; tetapi manakala sajak tersebut malah berargumen pada dirinya sendiri, inilah sesuatu yang mungkin sekali puitika. setidaknya itu kesan bagi pembaca yang sangat tertarik pada ekspresifitas ungkapan. Tetapi apa salahnya jika ada pembaca yang malah suka membaca retorika yang puitik ? Eh, apa mungkin suatu retorika menjadi puisi ? Mengapa tidak ? Lihatlah nasib kata-kata mutiara bisa dianggap indah, menawan, berkesan, seolah memberi pencerahan teramat sungguh. Bahkan secara subjektif sajak Chairil Anwar “AKU” itu pun merupakan satu barisan

retorika. Apalagi sajak-sajak Taufik Ismail dalam “Benteng dan Tirani” – Bahkan penyair angkatan 2000 Wiji Thukul pun banyak nian. Coba ucapkan …. tinggal satu kata; Lawan !

Tetapi menurut impianku, itu semua sudah kuno. Tapi bukan berarti tak berarti lagi. Toh mereka semua telah mendapat tempat. Mungkin sahaja di semacam rak pajangan dalam museum peringatan kesastraan tentang puisi Indonesia. Nah, mengapa aku perlu menyatakannya sebagai adanya museum-peringatan ? Karena disamping sudah kuno dan mempunyai prestasi sastra, mereka juga mempunyai peranan membentuk sesuatu yang Indonesia ini.

Maka itu aku pun masih percaya, manalah mungkin bangsa ini mati. Sekarat atau jatuh, itu mungkin saja. Tetapi itu toh hanyalah proses jatuh bangun, jatuh, bangun lagi, semacam gemblengan atau cobaan ketangguhan sesuatu yang bersama-sama kita bayangkan sebagai bangsa Indonesia ini. Jika masing-masing kita tak lagi menggunakan bahasa indonesia, aku pun tak percaya bahwa nation [kebangsaan] Indonesia masih ada. Namun, sekalipun masih menggunakan bahasa Indonesia, kekayaan budaya, ya kekayaan budaya yang berhimpun atau terhimpun dalam wadah Indonesia ini, masih banyak mengalami proses penggemblengan lanjut. Tak cukup hanya menghawatirkan akan lenyap atau matinya kebudayaan lokal atau daerah. Itu toh sudah merupakan konsekwensi logis dari bersatunya beragam macam bangsa. Nah dalam prosesnya pasti terjadi berbagai gesekan, yang namanya saja menasional atau menjadi nasional [bukan nasionalisasi] toh pada akhirnya akan membunuh atau meninggalkan semua yang kita sebut sebagai kebudayaan lokal atau daerah itu. Namun demikian ini merupakan satu proses alami yang akan berjalan dan berlangsung alot [lebih alot dari sekedar tawar menawar harga di pasar].

Akan ada kontroversi, negatif positif bahkan reaksi balik yang mengancam seluruh eksistensi, bahkan mendominasi, pun yang mengenaskan sampai menghawatirkan matinya berbagai ragam yang sekarang [SEKARANG] kita anggap sebagai kekayaan budaya ini. Justru disinilah seni hidupnya kebangsaan sesuatu yang kita bayangkan sebagai Indonesia, yang toh nyata senyata-nyatanya merupakan satu proyek bersama sebagai sesuatu yang berbhineka. Puitisnya orang Indonesia, hendaknya bukan menengok kebelakang dan menangisi kejayaan masa silam seperti legenda tentang Majapahit dan betapa perkasanya si Gadjah Mada yang anak bali itu. Karena dengan sikap begitu kita bukan lagi mengenggap semua itu sebagai kekayaan, tetapi malah menjadikan sebagai beban yang menindasi keberadaan kita hari ini, dan meletakkan diri kita sebagai malah mundur tertinggal. Padahal faktanya tidaklah demikian.

Adalah nasionalisme Indonesia yang mestinya mempunyai legenda. Seperti bagaimana cikal bakal datangnya ide mengindonesiakan Hindia-Belanda dahulu.

Aku rasa tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer merupakan satu novel sejarah sebagai fiksi yang bisa merajut hal demikian. Tak cukup hanya menyatakan ia sebagai adikarya saja. Kita mesti membaca dan membuat kritik dan analisa yang lebih lagi. Toh betapa memalukan sampai sekarang kalau kita hendak membuat analisa mengenai novel-novel itu, maka yang menjadi acuan adalah karya-karya orang mancanegara. Ini satu ironi yang mestinya bikin isi perut tak tenang, novel yang ditulis satu anak Indonesia, dimaksudkannya untuk orang Indonesia, malah mendapat penghargaan yang lebih dari orang-orang asing. Salah satu kehebatan novel ini sekalipun arena pergulatan peristiwanya di pulau Jawa, tapi orang tidak merasakan demikian, karena semangatnya yang begitu bersimpati pada kebangkitan dan perjuangan sekelompok manusia untuk menjadi sama dan berakal-budi.

Aku sering heran membaca berita perfilman Indonesia. Sampai sekarang setelah 1908, Kartini, Tjut Njakdien Teguh Karya dan G30S/PKI Arifin Noor, koq muncul Jailangkung, ada apa dengan cinta, cul de sac, dsb … bagaimana jika bikin film tentang Tan Malaka, Mas Marco, Jah Endar, M. Hatta dstnya … kita cukup banyak melihat cerita perang, perkelahian, kesewenang-wenangan, tetapi cerita diplomasi, politik sipil, perubahan dan perkembangan satu komunitas atau pribadi seperti Soekarno yang beribu Bali dan berayah Jawa, lalu pergaulannya dengan para tokoh politisi seperti HOS Tjokroaminoto, dan diktator Soewardi Soerjodiningrat [diktator, sebelum PD II artinya tak lebih dari seorang manejer, dan dalam salah satu dokumen Taman Siswa Ki Hajar Dewantara pernah mencantumkan namanya sebagai diktator taman siswa]. Ah rinduku …. begini saja, kita mungkin masih asyik dengan “aku ini binatang jalang ….” yang masih sialan (BEN ABEL)

Satu Tanggapan to “Retorika dan puisi : nasib proyek bersama (Esai Ben Abel)”

  1. Anonim September 11, 2008 pada 9:50 am #

    hgggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggggg

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: