Pesantren di Banten Dibakar

15 Des

 

#6 Motor, Kitab Kuning, & Peralatan Rumah Tangga Hangus

 

SERANG – Pondok Pesantren (Ponpes) Miftahul Huda pimpinan Nursahidin di Kampung Jaha, Desa/Kecamatan Baros, Kabupaten Serang, diamuk warga, Kamis (13/12), sekira pukul 11.30 WIB. Warga menuding Nursahidin mengajarkan ajaran menyimpang kepada para santri.

 Warga membakar ruang utama ponpes di lantai 1, kamar santri, dan enam sepeda motor yang tengah diparkir di halaman ponpes. Bahkan beberapa kitab kuning juga ikut terbakar. Selain itu, berbagai peralatan rumah tangga seperti lemari, kulkas, pakaian, rak piring juga hangus dilalap si jago merah. Untuk memadamkan kobaran api, dua unit mobil pemadam kebakaran milik Pemkab Serang dikerahkan ke lokasi kejadian.

Saat aksi anarkis berlangsung, pemilik ponpes yang merupakan alumni Ponpes Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat, Nursahidin, sudah terlebih dulu diamankan ke Polres Serang. Sementara istri, anak, dan puluhan santri diamankan di Polsek Baros yang berjarak sekira 500 meter dari lokasi ponpes.

Menurut kesaksian salah seorang warga Kampung Jaha, bernama Adah (35), aksi anarkis dilakukan oleh ratusan orang yang datang ke lokasi menggunakan empat truk. Kata Adah, semula ada sekira 20 truk yang datang tapi hanya empat truk yang masuk di lokasi.

Kata Adah, saat membakar dan merusak ponpes, massa yang terlihat marah juga meneriakkan takbir. Polisi yang saat itu sudah ada di lokasi kejadian, tidak bisa berbuat apa-apa sebab kalah jumlah dengan warga. Polisi akhirnya tidak bisa mencegah massa merusak Ponpes Miftahul Huda yang berdiri di Baros sejak 1994. “Soalnya, polisi sedikit sementara massa yang datang banyak sambil membawa batu,” ujarnya. Kata dia, saat itu situasi sekitar ponpes mencekam karena warga sekitar ponpes hanya bisa menonton.

Aksi baru berhenti saat puluhan anggota Dalmas dari Polda Banten tiba di lokasi. Pasukan Dalmas bersenjata pentungan dan tameng ini tiba setelah massa perusak ponpes secara bergelombang meninggalkan lokasi.

Saat ditanya nasib penghuni ponpes, beberapa warga mengaku masih melihat istri Nursahidin yang kerap disapa Umi sekira pukul 11.00. Saat itu, Umi terlihat tergesa-gesa menjemput salah satu anaknya di SDN Baros I dan anak sulungnya Apep di SMPN 1 Baros. Sementara santri-santri yang semula berjumlah ratusan orang dan berasal dari Lampung, Jawa Tengan, dan Jakarta mulai berkurang hingga akhirnya hanya berjumlah puluhan saja.

Akibat aksi massa itu, bangunan ponpes berlantai dua bercat warna krem itu, lantai dasarnya yang terdiri atas 4 ruangan berikut perabotan yang ada di dalamnya hangus. Empat  sepeda motor yang diparkir di halaman ponpes ikut  dibakar. Motor itu tiga di antaranya berjenis bebek dan Honda Win yang merupakan milik warga sekitar ponpes. Sementara dua motor bebek lainnya yang diparkir di halaman belakang ponpes juga dibakar. Sedangkan bagian atas ponpes yang terdiri 8 ruangan luput dari api, namun perabotannya dalam kondisi berantakan.

Selain bangunan utama yang terbuat dari material permanen sebuah bedengan yang terletak di sebelah kiri bangunan utama ponpes juga diamuk massa. Bangunan berdinding bilik bambu itu juga hancur dirusak massa. Bedengan itu menurut keterangan warga merupakan asrama bagi para santri.  

Sesaat setelah api berhasil dipadamkan, Wakapolda Banten Kombes Pol Pudji Hartanto mendatangi lokasi. Di tengah puing-puing kitab serta perabotan rumah tangga terbakar yang masih menyisakan hawa panas, Wakapolda yang didampingi Karo Bina Mitra Polda Banten Kombes Pol Sutarno, Kapolres Serang AKBP Lilik Heri Setiadi, Dandim 0602 Serang Letkol Inf Malwi Sulardi, Kabag Ops Polres Serang Kompol Ade Ibrahim, Kasat Reskrim Polres Serang AKP M Nazly Harahap serta Kapolsek Baros AKP Gunarto berjalan memasuki ruang demi ruang ponpes. Sesekali Wakapolda tampak bertanya pada Kapolres dan berdiskusi dengan Dandim.

Tak ada sepatah kata yang keluar dari bibir pejabat Banten tersebut terdengar telinga wartawan. Yang terdengar hanya suara memanggil Kasat Reskrim Polres Serang. Wakapolda kemudian meninggalkan lokasi sementara Kapolres sempat menggelar konferensi pers.

Menurut keterangan Kapolres, untuk membuat situasi kondusif, pihaknya dibantu Polda Banten menyiagakan dua pleton pasukan Dalmas di sekitar lokasi. Selain itu ada juga water canon yang didatangkan ke lokasi. “Saya imbau massa jangan bersikap anarkis karena negara ini negara hukum. Segala sesuatunya bisa dibuktikan kebenarannya dengan hukum,” pesannya.

Sementara Ketua MUI Banten Prof KH Wahab Afif yang didampingi Ketua MUI Serang KH Syafei AN di ruangan Kapolres Serang beberapa jam usai amuk massa, menyayangkan kejadian tersebut. Apalagi kejadian ini dilakukan sesama muslim. “Muslim dengan muslim mestinya bersaudara sehingga peristiwa seperti ini harusnya tak terjadi. Soal tuduhan terhadap pimpinan Ponpes Miftahul Huda saat ini kami sedang melakukan penyelidikan,” ujar Wahab Afif.

Wahab berjanji akan kembali memanggil beberapa saksi. “Besok (hari ini, red) kami akan menanyakan si tertuduh yaitu ustadz Nursahidin karena kami tak bisa memproses laporan hanya dari sebelah pihak saja,” tukasnya.

Kata dia, pelabelan sesat terhadap seseorang, lembaga atau organisasi tidak bisa dilakukan tergesa-gesa. “Ini masalah aqidah yang sangat sensitif sehingga kita tak bisa semena-mena menunjuk orang sesat. Kan harus kita sesuaikan dengan 10 kriteria kesesatan yang sudah ditetapkan oleh MUI pusat,” katanya.

Saat ditanya apakah pembakaran dan dugaan penyimpangan di Ponpes Miftahul Huda terkait dengan persaingan antarpesantren,  Wahab Afif membantah. “Saya belum lihat indikasi ke arah itu,” ujarnya. (kar/dew) Radar Banten : 14 Desember 2007

2 Tanggapan to “Pesantren di Banten Dibakar”

  1. pondokpesantrendarunnajahcipining Maret 29, 2008 pada 2:13 am #

    Wah tulisan kakak menggugah sekali! Insya Allah banyak manfaatnya buat kita umat Islam. Oya kak minta tolong nampil di ‘Blogroll’ kakak boleh ya? Ini alamat pesantren kami kak http://www.darunnajah-cipining.com/ Mampir ya kak? Silaturahmi gitu.. Sekaligus nostalgia hehe.. Syukran kaa!

  2. Anonim Oktober 31, 2012 pada 4:45 pm #

    Saya menyayangkan sikap anarkis warga dengan membakar ponpes miftahul huda di banten yang mana pondok tsb,tempat mencari ilmu agama,kenapa bs orang menyebut sesat tanpa di kaji terlebih dahulu padahal sesama muslim?terlebih lagi pimpinan tsb,alumni dari ponpes miftahul huda tasikmalaya,pimpinan dari almrhum kH.khoer affandi.Yang sekarang telah memiliki -+1000 cabang pesantren yg tersebar di seluruh indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: