Balada Watini

8 Nov

I

begitu jauh kau kepak sayap menuju harap.

meninggal ladang dan bau asin tanah leluhur.

dari kampung kecil itu, jejak kaki dimulai.

“ladang di rumah telah kerontang. ubi tak bisa lagi di tanam.”

begitu ucapmu dengan segepok mimpi di bandara.

lalu kau bercerita

tentang lelahnya menyapa angin di udara

“langit telah kotor. Bandara begitu kejam.”

sejenak lalu

kau pun menghitung, berapa lembar rupiah di tangan

“aku ingin beli gelang buat emak.”

II

rumah ini begitu lengang

tak ada gending iringi bapak selepas dari ladang

hanya ada perempuan tua yang ditinggal kedua anaknya

rumah ini begitu purba

saling sapa dengan bahasa entah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: