Geger Cilegon

22 Sep

Peristiwa perlawanan yang mengesankan pada awal abad 19 adalah peristiwa Geger Cilegon, yang terjadi pada tanggal 9 Juli 1888. Peristiwa tersebut dipimpin oleh para alim ulama. Diantaranya adalah : Haji Abdul karim, Haji Tubagus Ismail, Haji Marjuki, dan Haji Wasid. Sepulangnya Haji Abdul Karim dari Makkah, beliau banyak mengajarkan tarekat di kampungnya, Lempuyang. Selain itu beliau juga menanamkan nasionalisme kepada para pemuda untuk melawan para penjajah yang kafir.
Sementara itu KH. Wasid yang pernah belajar pada Syekh Nawawi Al Bantani mengajarkan ilmunya di pesantrenya di Beji-Bojonegara. Bersama teman seperjuangannya yakni : Haji Abdurrahman, Haji Akib, Haji Haris, Haji Arsyad Thawil, Haji Arsyad Qashir dan Haji Ismail, mereka menyebarkan pokok-pokok ajaran Islam ke masyarakat. Pada saat itu Banten sedang dihadapi bencana besar. Setelah meletusnya Gunung Karakatau pada tahun 1883 yang merenggut 20.000 jiwa lebih, disusul dengan berjangkitnya wabah penyakit hewan (1885) pada saat itu masyarakat banyak yang percaya pada tahayul dan perdukunan. Di desa Lebak Kelapa terdapat satu pohon besar yang sangat dipercaya oleh masyarakat memiliki keramat. Berkali-kali H. Wasid memperingati masyarakat. Namun bagi masyarakat yang tidak mengerti agama, fatwanya itu tidak diindahkan. H. Wasid tidak dapat membiarkan kemusrikan berada didepan matanya. Bersama beberapa muridnya, beliau menebang pohon besar tersebut. Kejadian inilah yang menyebabkan beliau dibawa ke pengadilan (18 Nopember 1887), belaiu didenda 7,50 gulden. Hukuman tersebut menyinggung rasa keagamaan dan harga diri murid-murid dan para pendukungnya. Selain itu, penyebab terjadinya persitiwa berdarah, Geger Cilegon adalah dihancurkannya menara langgar di desa Jombang Wetan atas perintah Asisten Residen Goebel. Goebel menganggap menara tersebut mengganggu ketenangan masyarakat, karena kerasnya suara. Selain itu Goebel juga melarangang Shalawat, Tarhim dan Adzan dilakukan dengan suara yang keras. Kelakuan kompeni yang keterlaluan membuat rakyat melakukan pemberontakan.
Pada tanggal 7 Juli 1888, diadakan pertemuan di rumahnya Haji Akhia di Jombang Wetan. Pertemuan tersebut untuk mematangkan rencana pemberontakan. Pada pertemuan tersebut hadir beberapa ulama dari berbagai daerah. Diantaranya adalah : Haji Said (Jaha), Haji Sapiudin (Leuwibeureum), Haji Madani (Ciora), Haji Halim (Cibeber), Haji Mahmud (Terate Udik), Haji Iskak (Saneja), Haji Muhammad Arsad (Penghulu Kepala di Serang) dan Haji Tb Kusen (Penghulu Cilegon). Pada hari Senin tanggal 9 Juli 1888 diadakan serangan umum. Dengan memekikan Takbir para ulama dan murid-muridnya menyerbu beberapa tempat yang ada di Cilegon. Pada peristiwa tersebut Henri Francois Dumas – juru tulis Kantor Asisten residen – dibunuh oleh Haji Tubagus Ismail. Demikian pula Raden Purwadiningrat, Johan Hendrik Hubert Gubbels, Mas Kramadireja dan Ulrich Bachet, mereka adalah orang-orang yang tidak disenangi oleh masyarakat.Cilegon dapat dikuasio oleh para pejuang “Geger Cilegon”. Tak lama kemudian datang 40 orang serdadu kompeni yang dipimpin oleh Bartlemy. Terjadi pertempuran habet antara para pejuang dengan serdadu kompeni. hingga akhirnya pemberontakan tersebut dapat dipatahkan. Haji Wasid dihukum gantung. Sedangkan yang lainnya dihukum buang. Diantaranya adalah Haji Abdurrahman dan Haji Akib dibuang ke Banda. Haji Haris ke Bukittinggi Haji Arsyad thawil ke Gorontalo, Haji Arsyad Qashir ke Buton, Haji Ismail ke flores, selainnya dibuang ke Tondano, Ternate, Kupang, Manado, Ambon dan lain-lain. (Semua pemimpin yang dibuang berjumlah 94 orang).
Walaupun pemberontakkan itu dapat dimentahkan oleh Belanda, namun yang terpenting bahwa saat itu membuktikan bahwa “RAKYAT BANTEN ANTI PENJAJAHAN”.

5 Tanggapan to “Geger Cilegon”

  1. qizinklaziva September 22, 2007 pada 5:17 am #

    Aku selalu ngebayangin betapa dahsyatnya perjuangan itu.

  2. abah Mei 5, 2010 pada 3:24 pm #

    Salut buat anda yang sangat peduli sejarah
    btw ijin bwt Copas..
    Thanks..

  3. Hibiki Emre Juni 1, 2010 pada 10:21 am #

    Bangsa yang besar, adalah bangsa yang ingat akan Sejarah dan Agamanya.
    Hal seperti ini harus kita perhatikan lebih, mengingat maju’y perkembangan zaman yang menggeser nilai-nilai moral sejarah & kebudayaan… Mengapa, tidak pernah ada peringatan untuk hari bersejarah di kota cilegon??? Kalaupun ada, kami mengharapkan bukan hanya sekedar peringatan yang sifatnya komersil ataupun hal lainnya, tapi kami harapkan lebih kepada nilai-nilai yang telah di perjuangkan oleh para pahlawan kita dan pastinya perlu kita rawat dan kita jaga… Allahu Akbar…

  4. Erni Kendarsihkarnasoedirdja Juli 29, 2011 pada 4:40 am #

    Bismillaahirrohmaanirrohim……kukenang kembaqli kissah perjuangan ibuku…Hj.Nyi Ratu Oentari bt.K.H.Tb.Mardjuki. (Al-Fatihah………)Alhamdulillah….terimakasih ya Allah aku diperkenankan membaca kissah perjuangan kakek dan uyut2ku di Banten (geger cilegon)
    .Aku, KENDARSIH KARNASOEDIRDJA, putri Hj.Nyi Ratu Oentari dan H.Ining Karnasoedirdja, cucu K.H.Tb.Marjuki, cicit K.H.Tb.Isma’il mencoba mengenang kembali kisah lanjutan ibuku saat revolusi phisik yg terjadi di BOGOR pada th.l945 s/d.th l954.Th.l945 usiaqku baru 3 tahun saat terjadi pendudukan tentara jepang di Bogor.Ayahku mennggal tgl.28 juni 1945.rumahku dijadikan )markqs besar PMI dan markas besar TNI.(di Jl.Mantarena 7, Bogor, kemudian menjadi gedung SMAN 2 Bogor)Ibuku menyingsingkan lengan baju bersama ibu2 lainnya waktu itu, yg aku masih ingat dan masih hidup sampai sekarang ibu Panduwinata, ibunda Vina Panduwinata.Memang tidak terlalu banyak yg kuingat disini, karena, setiap subuh kalau keadaan darurat, aku digendong nenekku, istri K.H.TB.MARJUKI dan saudara2ku yg lain “meuntas” mau “nyilib” kerumah uyutku di peuntas.Istilah nyilib adalah lebih tepat evakuasi, mungkin, kerumah uyut dipeuntas, artinya kamiharus nyebrang sungai cisadane, ringgal dirumah kakek ditengah sawah didekat SPMA Cibalagung.Aman rasanya,kalau hiruk pikuk kapal terbang terjadi, kami nyumput didalam lombang.ALLAHU AKBAR.masih ingat makanan kami waktu itu selalu menu yang saqma, nasiwadang dan goreng teri kacang.(nasi wadang adalah nasi dingin) kalausudah aman kami kebbali kerumah ibuku,terlihat banyak tentara2 yg. berdarah2 habis perang melawan penjajah (didepan rumahku, hotel Pasu ndan sekarang, markas GURKHA, tentara ket.india berub el2).Salah satu pejuang kemerdekaan tokoh Bogor adalah Kapten Muslihat yang gugur tertembak peluru belanda,meninggal dirumah kami Jl.Mantarena 7.Perjuangan terus berlaqnjut, ayahku meninggal 28 Juni l945 dan pada th.1949 ibukumenikah lqagi dg. Bp.R.Soeherman Danoekoesoemah.Perjuangan terus berlanjut.Th.950 kami pindah ke Soekabumi, ayahku jadi Instruktur di Sekolah PolisiNegara, Jl.Gunung Puyuh, sekarang SECAPA POLRI, Jl.Bayangkara .masa kecilku yg teramat indah kulaui di Sukabumi….namun tidak lama….th 1954 ibuku meninggalkan kami untuk selama2nya….innalillahi wa inna ilaihi rojiun…itulah sekelumit kissah sbg
    tanggapan dan balasan atastulisan GEGER CILEGON, dari saya, cucu K.H.TB.MARZUKI,putri ke 8.akan kutulis lebih lengkap dalam kesempatan lain,insya Allah

  5. Anonim November 8, 2015 pada 5:57 am #

    yah pokok nya salut dah sama pahlawan-pahlawan banten

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: