Blacklist Buat Anggota Dewan

11 Agu

“Zink, saya mau ngomong sama kamu!” begitu kalimat yang dilontarkan salah seorang anggota dewan, dua hari lalu.
Aku diajak olehnya ke sebuah bangku panjang di sudut rumah makan sederhana yang ada di sudut Kota Serang.
“Saya ingin tanya tentang sikap kamu kepada saya selama ini. Saya merasakan ada sesuatu yang aneh tentang kamu pada saya,” anggota dewan itu kembali membuka percakapan.
“Apanya yang aneh?” tanyaku.
“Kenapa kamu sekarang nggak pernah minta komentar kepada saya. Apakah ada yang salah dengan saya.”
Ups! ternyata hal itu yang ingin dia bicarakan. Memang selama hampir 8 bulan ini saya sudah memasukkan anggota dewan yang satu ini pada daftar ‘black list’. Saya tak pernah lagi meminta tanggapan atau komentarnya.
Tentu saja aku punya alasan kenapa saya enggan lagi meminta komentarnya.
“Apakah kamu curiga komentar saya sarat kepentingan. Kepentingan saya hanya ingin publik tahu tanggapan saya atas setiap permasalahan yang terjadi di daerah. Saya tak ingin popularitas.”
Ya… kepentingan itu salah satu yang aku curigai sehingga saya memilih enggan untuk meminta komentarnya. Saya pernah mendapat telepon dari seorang pengusaha yang dimintai uang oleh anggota dewan ini setelah dirinya berkomentar tentang masalah dugaan pencemaran limbah yang dilakukan si pengusaha.
Saya merasa diperalat oleh anggota dewan ini. Komentar-komentarnya di media ternyata dimanfaatkan untuk meminta uang. Huhhhh!!!
Alasan lainnya adalah kebijakannya yang melarang anggota komisi yang dipimpinnya untuk memberikan statemen kepada media. Bagiku kebijakan dia sudah keterlaluan. Masak anggota dewan lainnya tak boleh memberi komentar ke media selain dirinya. Huh, dipikirnya media hanya punya dirinya!
Masih banyak alasan yang sebagian saya utarakan kepadanya. Aku tak sendirian tentang ini. teman-teman wartawan lainnya juga ada yang ngambil sikap seperti saya. Beberapa teman wartawan bahkan banyak yang mengatakan agar anggota dewan yang satu ini ‘harus diberi pelajaran agar tak selalu sesumbar di media massa’.
“Terus kelanjutannya gimana?” tanyanya di penghujung percakapan.
“Saya tak bisa ambil sikap cepat. Bisa saja saya besok berubah meminta komentar dari bapak, bulan depan, tahun depan, atau tidak sama sekali,” sahutku.
Ya, aku tak tahu sampai kapan sikapku ini akan bertahan. Tapi di hati ini muncul, anggota dewan itu jangan lagi diberi tempat. Apakah Anda setuju?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: