Belajar Pada Musim

5 Agu

Saat masih duduk di bangku SD, saya mendapat pengetahuan dari guru ilmu pengetahuan alam saya bahwa negeri kita tercinta memiliki dua musim, yakni musim kemarau dan musim hujan. Waktu itu, sambil menonton film Oshin dari Jepang di TVRI, saya membayangkan betapa indahnya kalau negeri ini punya musim salju atau musim semi. Saya bisa main-main butiran salju sepuasnya di negeri sendiri.
Saya yakin, hingga kini ilmu yang saya dapat itu belum berubah, negeri ini cuma punya musim hujan dan kemarau. Namun anehnya, pelajaran dasar itu belum dipahami betul oleh masyarakat. Sehingga kedua musim itu bukan menjadi potensi tapi menjadi ancaman yang menakutkan.
Saat ini kedua musim itu menjadi bayang-bayang yang mengerikan bagi siapa pun di negeri ini. Pada saat musim kemarau, masyarakat khawatir dengan ancaman kekeringan berkepanjangan sehingga berdampak pada kesulitan air bersih, gagal panen, hingga kekurangan pangan. Masih ingat di bayangan kita, pada musim kemarau lalu, sejumlah masyarakat di pelosok negeri ini harus menikmati nasi aking karena sawahnya gagal panen hingga tak punya pangan sama sekali.
Sementara pada musim hujan, seperti sekarang ini, masyarakat diteror banjir yang setia mengikutinya. Pada musim air turun dari langit, masyarakat dihantui air hujan memenuhi hingga langit-langit rumahnya. Begitupun dengan ancaman longsor dan banjir bandang, tampaknya tetap menjadi berita rutin ketika musim hujan tiba.
Mengapa kedua musim itu selalu menjadi ancaman bencana bagi kita?
Kita tampaknya belum sigap dalam mengantisipasi dampak dari dua musim yang ada. Kesigapan pemerintah dalam menangani bencana yang mungkin terjadi di negeri ini, tentu saja bukan hanya pada seberapa besar dana tak tersangka yang dialokasikan pada anggaran untuk menangani bencana. Karena seberapa pun besaran dana yang dianggarkan pemerintah untuk menangani bencana tersebut tak akan mampu untuk menutup kerugian yang dihasilkan.
Coba saja perhatikan, betapa besarnya kerugian yang dirasakan masyarakat akibat musibah banjir kali ini. Di Jakarta saja, ratusan ribu warga terpaksa harus mengungsi akibat banjir ini. Sarana transportasi dan komunikasi macet dan tak bisa dinikmati masyarakat karena banjir selama empat hari belakangan ini. Pergerakan ekonomi saja nyaris lumpuh total setelah sekitar 60 persen wilayah ibukota negara ini direndam air cokelat ini. Dan kerugian ini semakin tak terhitung bila ditambah dengan puluhan jiwa manusia yang meregang nyawa serta trauma akibat dihantam terjangan banjir.
Secara materi, kerugian ini sangat fantastis. PLN ditaksir mengalami kerugian sekitar Rp 51 miliar. Sebanyak 2.104 gardu dan 3 gardu induk padam hingga sejuta pelanggan tak menikmati listrik. BNI menaksir mengalami kerugian sekitar Rp 2,5 miliar dan kehilangan pendapatan akibat terrendamnya sejumlah ATM miliknya. PT Telkom kehilangan pendapatan sekitar Rp 1,5 miliar. Sementara perusahaan asuransi harus membayar klaim akibat banjir ini sekitar Rp 45 miliar. (Republika, 6 Februari).
Jumlah ini semakin bertambah, karena banjir tak hanya terjadi di ibukota saja. Bencana alam di musim kemarau dan hujan hampir mewarnai sejumlah wilayah di negeri yang berada di garis khatulistiwa ini.
Seperti yang diungkapkan guru SD saya, mencegah lebih baik daripada mengobati. Ungkapan itu pun sepatutnya dipahami dalam mengantisipasi dampak dua musim di negeri ini. Bencana kekeringan, banjir, longsor, pada musim kemarau dan penghujan harus dicegah seminimal mungkin.
Pencegahan ini bukan berarti kita melawan kehendak tuhan atas bencana ini. Menggunakan bahasa iklan tivi, anak kecil saja tahu, kalau hutan-hutan gundul, drainase mampet, hilangnya daerah resapan air, dan alur sungai yang semakin dangkal, maka musibah banjir pasti tak terelakkan. Begitupun dengan penggunaan rumah kaca serta bahan-bahan kimiawi yang mempercepat penipisan lapisan ozon akan semakin mempercepat pula pemanasan global di negeri ini.
Makanya pemerintah harus segera mengambil langkah cepat dan tegas dalam mengantisipasi bencana terulang kembali. Penghijauan hutan tak bisa lagi ditunda-tunda. Para pembalak liar jangan lagi diberi ruang gerak. Saluran-saluran harus segera dibenahi agar air tak mengalir ke rumah-rumah warga. Pemerintah juga mesti konsisten dalam menerapkan rencana tata ruang wilayahnya. Daerah-daerah yang sudah ditetapkan sebagai kawasan resapan air jangan dialihfungsikan menjadi kawasan industri atau perumahan hanya demi alasan percepatan pembangunan. Masih banyak lahan-lahan tak produktif yang bisa dimanfatkan untuk itu.
Tapi tentu saja, pencegahan bencana alam ini tak akan maksimal bila tanpa dukungan dari semua pihak. Masyarakat juga kudu milu menjaga kelestarian lingkungan sebagai modal utama pencegahan bencana. Masyarakat turut serta dalam pencegahan misalnya, dengan tidak membuang sampah sembarang hingga menyumbat aliran air, tidak menjadikan daerah bantaran sungai sebagai tempat tinggal, dan sebagainya.
Saat ini, saya tak lagi punya keinginan agar negeri ini punya musim salju atau musim lainnya. Negeri ini cukuplah sudah punya dua musim. Saya tak bisa membayangkan, bencana seperti apalagi yang bakal terjadi kalau negeri ini punya banyak musim. Karena bangsa ini tampaknya belum bisa belajar pada musim. (**)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: