Mencari Rhino Di Ujung Kulon

25 Jul

Tawaran untuk mengikuti lokakarya tentang pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat dari WWF Indonesia, di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, beberapa waktu silam, langsung saya terima. Perjalanan ke TNUK ini dimulai dari Sekretariat WWF Indonesia untuk kawasan Ujung Kulon yang berada di Kecamatan Labuan, Pandeglang. Kami tak perlu lagi izin ke Balai TNUK di Labuan, karena untuk urusan administrasi memasuki kawasan yang dikenal dengan satwa langka badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) ini sudah diurus WWF, jauh-jauh hari sebelumnya.

Dengan menggunakan mobil operasional WWF, kami menuju Tanjung Lesung, Pandeglang, untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal ke TNUK. Sebelum berangkat, kami harus menunggu rombongan dari luar kota yang sama-sama akan mengikuti lokakarya.

Dengan menggunakan perahu wisata berukuran sedang, perjalanan ke kawasan yang sudah menjadi warisan dunia (world heritage) itu dimulai. Perjalanan laut sekitar 3 jam ini menjadi perjalanan wisata yang cukup memesona. Di tengah lautan, kami kerap berpapasan dan saling bertegur sapa dengan para nelayan yang sedang mencari ikan dengan ditingkahi burung-burung yang menukik memangsa ikan-ikan. Sejumlah bagan apung yang menghiasi tengah lautan juga menjadi pemandangan yang cukup menarik. Belum lagi dengan sejumlah pulau-pulau kecil tak berpenghuni yang kerap kami lewat selama perjalanan.

Perahu merapat di dermaga Tamanjaya, Kecamatan Sumur, dengan disambut tarian lesung dari warga setempat. Kelapa muda yang disuguhkan warga untuk rombongan menjadi penghapus dahaga selama perjalanan.

Di perkampungan ini, kami mendapatkan banyak cerita tentang badak bercula satu. Rasa penasaran untuk bertemu dengan ‘Si Rhino’ pun menjadi semakin menggebu. “Ketemua badak itu untung-untungan. Ada wisatawan dari Jepang yang cuma satu hari, bisa bertemy. Tapi ada juga wisatawan yang sudah berbulan-bulan, tapi belum juga bisa bertemu,” ungkap seorang warga.

Kesulitan bertemu dengan binatang berkulit tebal ini memang cukup beralasan. Karena berdasarkan data jejak kaki badak pada 2003, binatang ini hanya berjumlah sekitar 56-60 ekor. Sementara lahan yang konservasi TNUK yang mesti dijelajahi seluas 120.551 Ha. Itu sama saja mencari jarum ditumpukan jerami. Belum lagi dengan sifat badak yang begitu peka dengan bau manusia.

Kesempatan untuk bertemu badak yang sangat kecil, tak memupuskan rombongan untuk menjelajahi kawasan ini. Di Kampung Kiaragondok, Desa Ujung Jaya, rombongan dapat menyaksikan para perajin patung. Di lokasi ini, rombongan terkesima dengan kelihaian warga setempat yang mengukir batangan kayu untuk menjadi souvenir berbentuk badak. Ukurannya pun bermacam-macam, mulai dari sebesar ibu jari untuk gantungan guci hingga seukur tubuh anak kecil untuk hiasan rumah. “Ingin bertemu badak asli, malah cuma ketemu patungnya,” ungkap salah seorang anggota rombongan.

Setelah puas berkeliling di sekitar Desa Ujung Jaya dan Desa Taman Jaya, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Peucang. Dengan menggunakan tiga perahu nelayan, rombongan berlayar ke pulau yang termasuk dalam kawasan TNUK ini. Di pulau ini wisatawan disambut sejumlah petugas TNUK yang berjaga di sebuah bangunan tua peninggalan Belanda. Di pulau dengan pasir putih ini, rombongan terkagum-kagum dengan keindahan alamnya. Pasirnya putih dan air laut yang jernih menjadikan kawasan ini seakan sebuah akuarium besar dengan aneka ikannya. Kekaguman rombongan semakin bertambah, ketika memasuki pulau ini. Di sekitar pos penjagaan, tampak beberapa ekor kijang bermain bebas. Bahkan ada beberapa di antaranya yang bermain di pinggir pantai.

Setelah puas menjelajahi Pulau Peucang dan membeli cinderamata, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Handeuleum. Di pulau ini, rombongan menyusuri sungai yang membelah pulau dengan perahu dayung. Warga setempat dan penjaga TNUK yang memandu perjalanan menceritakan, badak bercula satu kerap terlihat di sekitar sungai itu untuk mencari minum. Keterangan ini menambah semangat rombongan untuk menjelajahi sungai ini. Namun sayang, selama perjalanan tak tampak seekor pun badak yang mencari minum di pinggir sungai. Di sepanjang sungai ini hanya ditemukan monyet, beragam jenis burung, dan sejumlah binatang melata yang bergelantungan di dahan-dahan pohon. Bahkan untuk buaya pun hanya tinggal jejaknya saja. (*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: