Arsip | Catatan Kawan RSS feed for this section

Baliho

6 Feb

Oleh : Qizink La Aziva

Ini cerita dari kawanku tentang baliho para calon anggota legislatif (caleg) yang bercakap-cakap di malam hari.

***
Malam telah larut. Langit makin pekat dengan bulan sealis. Angin berhembus perlahan menerobos gerbang komplek perumahan yang dipenuhi baliho.
Wajah Yosi di baliho 2×3 meter makin kusut. Mata Komar menatap tajam wajah Yosi, menantu tersayangnya.
“Kuperhatikan dari siang wajahmu kusut terus. Kalau wajahmu kecut begitu, mana ada warga yang akan simpati untuk memilihmu,” ungkap Komar.
Yosi tak segera menyahut. Perempuan dengan rambut sebahu tersebut malah makin kecut wajahnya.
“Ada apa sayang. Bilang sama Om, kenapa cemberut begitu. Saat kampanye, perbanyaklah senyum,” suara Komar lembut. Namun karena malam itu hening, suara pria yang rambutnya telah beruban itu terdengar nyaring di telinga Yosi.
“Yosi lagi jengkel Om,” ujar Yosi. Tubuhnya bergoyang ditiup angin. “Coba Om perhatikan baliho yang ada di bawah kita!”
Di bawah baliho Yosi yang tertancap pada batang bambu itu terdapat sebuah poster caleg muda. Caleg dari Partai Kuning Langsat (PKL) itu memakai kaca mata hitam. Tak diketahui, apakah dia tertidur atau mendengarkan percakapan Yosi dan mertuanya.
“Ah, dia itu kan baru politisi ingusan. Anak kemaren sore. Apa yang kamu takutkan. Dia bukan tandinganmu dalam meraih suara. Tenanglah,” ungkap Komar.
“Bukan masalah perolehan suara Om. Kalau masalah suara, saya sudah yakin bakal mendapatkannya. Om sudah mengajarkan bagaimana cara membeli suara.”
“Terus apa yang kamu risaukan,” potong Komar.
“Yosi kesal karena baliho itu berada di bawah baliho kita Om. Aku kan malu. Apa Om nggak perhatikan kalau foto Yosi ini sedang pakai rok dan Yosi lupa pakai daleman saat dulu difoto.”
Wajah Yosi memerah.
Om Komar terdiam. Ia tak tahu harus berbuat apa. Angin mulai berhembus kencang. Hujan mulai merintik.
Tanpa disadari, percakapan Yosi dan Om Komar itu tengah didengar Maksuni, caleg dari Partai Kuda Lumping Juragan Gabah (PKL Juga). Baliho Maksuni yang jaraknya setombak dari Baliho Yosi itu bergoyang-goyang. Wajah maksuni berubah tersenyum.
“Hei, ngapain kamu senyum-senyum!” teriak Komar pada Maksuni.
“Emang saya nggak boleh tersenyum. Hak saya dong mau senyum atau cemberut.”
“Ngeledek ya!” balas Yosi.
“Nggak… aku cuma ngebayangin….”
“Kurang ajar… pasti kamu juga ngebayangin yang nggak-nggak tentang aku ya…!” potong Yosi cepat.
Maksuni tertawa terbahak-bahak.
Dulunya Maksuni separtai dengan Yosi. Ia juga pernah menjalin asmara dengan Yosi. Tapi sejak Yosi menikah dengan anak Om Komar yang merupakan petinggi partai, Maksuni langsung pilih pindah partai.
“Alah…. aku sudah tahu koq.”
“Dasar politisi bejat!” teriak Yosi.
“Bejatnya kan bareng kamu! hahahaha…” tawa Maksuni makin nyaring.
Wajah Komar makin merah padam. Amarahnya memuncak. Angin malam makin tak karuan.
Komar ingin juga ikut mendamprat Maksuni. Tapi itu diurungkannya. Sebagai mantan anak buahnya, Maksuni mengantongi rahasia pribadinya. Saat masih di partai, Maksuni pernah memergoki Om Komar bercumbu dengan ibunda Yosi yang merupakan artis dangdut. Komar akhirnya memilih diam. Sementara pertengkaran mulut antara Yosi dan Maksuni makin seru.
Keduanya saling hina.
Keduanya saling ledek.
Keduanya saling damprat.
Keduanya saling hujat.
Keduanya membuka aibnya masing-masing.
Pertengkaran kedua caleg ini mendapat perhatian dari para caleg yang sedang nampang di gerbang perumahan ini.
Ada yang balihonya bergoyang-goyang ditiup angin seakan mengompori Yosi dan Maksuni agar terus ribut.
Ada yang balihonya nyungsep diterjang angin seakan meledek kedua calon senator yang sedang adu mulut.
“Kalau cintamu aku tolak, tak usahlah kau cari perhatian begitu!” teriak Yosi.
“Cinta…. hahaha… aku tak pernah menaruh cinta padamu Yosi. Mana ada cinta di tangan seorang politisi seperti aku. Di mata politisi hanya ada hasrat dan perselingkuhan… hahaha…” tubuh Maksuni yang tambun berguncang.
Wajah Yosi merah padam.
Wajah Komar pasi.
Wajah Maksuni ceria di atas angin.
Wajah caleg muda yang ada di bawah baliho Yosi tetap dingin.
Angin makin kencang memompa pertarungan antara Yosi dan Maksuni. Pertarungan tak lagi hanya adu mulut. Baliho keduanya semakin bergoyang ke kiri dan kanan.
Baliho Yosi mendamprat Baliho Maksuni.
Baliho Maksuni mendamprat baliho Yosi.
Baliho caleg lainnya ikut bergoyang kencang.
Hingga menjelang subuh, pertarungan baliho berlangsung. Pertarungan itu baru bisa terhenti, saat angin puting menghantam seluruh baliho. Dalam beberapa jenak, seluruh baliho ambruk di atas tanah.
Pagi harinya, warga komplek bersikap tak peduli saat menyaksikan baliho para caleg itu ambruk dan saling tumpuk.

****

Begitulah cerita dari kawanku tentang baliho para caleg yang bercakap-cakap di malam hari. Percayakah Anda? (*)

Banten, Februari 2009.

Gaya Kampanye Caleg Banten melalui Internet

21 Jan

 

Banyak cara dilakukan calon legislatif di Banten untuk mensosialisasikan diri kepada pemilih. Salah satunya melalui internet. 

Keberhasilan calon presiden Amerika terpilih Barack Obama memanfaatkan teknologi untuk meraih simpati dan penggalangan dana dengan menggunakan situs internet facebook, tampaknya menginspirasi sejumlah calon anggota legislatif (caleg) di Banten untuk mensosialisasikan dirinya lewat internet.

Sebuah pesan singkat diterima Radar Banten dari Hafazhah, caleg PPP untuk DPRD Banten hari Minggu (18/1) lalu. Pesan singkat itu mengabarkan bahwa dirinya telah memiliki sebuah situs internet pribadi dengan alamat http://ppp-hafazhah.co.nr. “Silakan kunjungi untuk menghubungkan titik-titik komunikasi sesama,” tulis Hafazhah dalam pesan singkatnya.

Radar Banten mencoba menengok blog pribadi tersebut. Ternyata blog itu baru beberapa hari dibuat dan content atau isinya masih berupa nukilan yang disalin ulang (copy paste) dari berbagai media online. Sejumlah link seperti data pribadi serta visi dan misi, belum terisi.

Dalam situs ini juga terdapat link jejaring (blogroll) yang salah satunya adalah milik Ali Faozin, caleg PPP  dari Banten untuk DPR RI. Saat dikunjungi, situs milik Ali Faozin ternyata mirip sekali tampilannya (template) dengan milik Hafazhah.

Andika Hazrumy, caleg DPD Banten juga ikut mempromosikan dirinya lewat blog gratisan dengan alamat http://andika-hazrumy.blogspot.com. Content dan template blog ini lebih atraktif dibandingkan dengan dua blog milik Hafazhah atau Ali Faozin. Blog putra Gubernur ini banyak dihiasi foto kegiatan si caleg. Sementara isi tulisan, lebih banyak merupakan salinan berita dari berbagai media massa, baik lokal maupun online.

Blog caleg yang cukup menarik adalah milik Mohamad Arif Widarto, caleg Partai Gerindra dari daerah pemilihan Banten untuk DPR RI. Blog dengan alamat www.moharifwidarto.com ini berisi ragam tulisan pribadi, visi misi, kegiatan caleg, maupun tulisan lainnya. Blog alumnus Universitas Pelita Harapan ini juga sangat serius dalam mengelola situsnya karena si pemiliknya adalah seorang blogger, sehingga dalam situs ini juga ditampilkan jargon ‘Blogger Juga Bisa Nyaleg’ yang terpampang dalam sebuah gambar kaos.

Arif tak hanya membangun komunikasi politik melalui situs pribadinya tapi juga melalui berbagai situs jejaring seperti plurk, facebook, friendster,  dan sebagainya.

Bila caleg secara konvensional berkampanye dengan bagi-bagi kaos secara gratis, Arif melakukan hal berbeda melalui situsnya. Dalam salah satu link-nya, secara terang-terangan Arif melakukan penggalangan dana untuk kampanye dirinya dengan mencantumkan rekening pribadinya dan hadiah kaos untuk penyumbang dana dalam nominal tertentu. “Bagi penyumbang minimal Rp 150 ribu akan mendapatkan kaos.” Begitu kalimat yang ditulis dalam situsnya.

Efektifkah cara kampanye lewat internet ini seperti yang dialami Barack Obama yang terpilih menjadi Presiden Amerika? Hasilnya tentu saja, baru bisa diketahui nanti setelah pencoblosan pada 9 April. Namun yang perlu jadi catatan, masyarakat kita belum sepenuhnya melek internet, sehingga tak semua pemilih bisa mengakses gaya kampanye caleg lewat dunia maya ini. (qizink)

Damai Itu Adalah…

5 Jan

MIDEAST-PALESTINIAN-ISRAEL-GAZA-CONFLICTDamai bagi warga di Palestina adalah harapan. Berharap tak ada lagi invasi dari zionis Israel. Berharap bisa mimpi indah saat tidur malam. Berharap, tak ada lagi anak-anak kecil meregang nyawa atau menangis histeris dengan wajah berdarah. Berharap perang tak lagi datang. Untuk kedamaian warga Palestina ini, saya hanya turut berdoa semoga harapan itu terwujudkan.

MIDEAST-ISRAEL-GAZA-CONFLICTDamai bagi warga Israel adalah tipu daya. Sebuah tipuan menawarkan kedamaian dengan roket ditangan. Sebuah tipuan menyuguhkan persahabatan dengan wajah permusuhan. Menghadapi tipuan kedamaian dari kebengisan Israel ini, saya hanya teringat sebuah kalimat indah dari Yusuf Qardhawi, “berdamai dengan perampok yang hanya mau mengembalikan secuil hasil rampokannya adalah bodoh. Di dalamnya terkandung ketidakadilan . Yahudi seharusnya hengkang dulu baru bicara perdamaian.

Damai bagi warga Bandung adalah kreatifitas. Sebuah kreatifitas dengan mewujudkan jargon damai dalam stiker atau kaos-kaos bertuliskan ABCD ‘Anak Bandung Cinta Damai’. Untuk kalimat damai ini, saya mengacungkan jempol bagi warga Bandung yang telah kreatif.

Damai bagi warga yang hendak ditilang polisi lalu lintas adalah cara pintas. Cara pintas agar tidak menghadapi sidang tilang yang sangat merepotkan. Dengan kalimat, “Damai saja, Pak.” sambil menyodorkan selembar uang 20 ribuan atau 50 ribuan, maka warga yang hendak ditilang bisa melenggang aman. Terhadap cara damai seperti ini, saya hanya bisa mengelus dada, yang menyuap dan yang disuap sama saja nilainya.

Damai bagi anak kecil adalah makanan murah meriah seharga lima ratus perak atau gope. Makanan bermerk ‘Damai’ ini lezat dengan isi kacang hijau. Mengenai ‘Damai’ ini saya hanya tersenyum terkenang dengan masa kecilku yang juga turut menikmati kue ini.

Lha terus apa sebenarnya makna Damai bagiku.

Damai bagiku adalah agama. Islam sebagai agama yang kuanut berarti adalah keselamatan dan kedamaian.

Sekarang apa arti Damai bagi kalian ?

Sajak Kenangan Akhir Tahun

29 Des

mari kita kenang kembali

saat kita menunggu matahari

pada senja di pantai itu

 

kaki kita bertelanjang diciumi lidah ombak

“jangan kau tuliskan namaku di pasir itu.”

katamu

 

lalu kita hanya mengeja kata-kata cinta

dikabarkan waktu yang berganti selalu

“jangan percaya pada angin.”

katamu

 

mari kita kenang kembali

 

Pantai Anyer, jelang 2009

 

# Jaga Kafka dan calon anak kita

Ke Bali Harus Berjinah

15 Des

 

Postingan ini sebenarnya sudah lama mengendap di otakku, tapi baru sempat aku ketikkan.

Postingan ini secuil tentang perjalananku ke Bali, akhir bulan lalu. Tak banyak lokasi yang kukunjungi dalam perjalanan selama dua hari ini, kecuali menyusuri sepanjang jalan Legian, Kuta, serta melancong sebentar ke Gianyar. Hujan yang selalu turun di Bali membuatku demam tubuhku. (Maaf kepada kawanku yang memesan arak Bali, karena aku hanya bisa membawakanmu Kacang Disco dari Kresna).

Dari Bali aku mendapatkan beberapa catatan kosa kata bahasa yang terdengar lucu. Wayan Menik, perempuan Bali banyak mengenalkan kosa kata yang cukup asing dan membuatku tersenyum, geleng-geleng kepala, bahkan tertawa ngakak.

Di mata orang Bali, kata (bahkan daerah) Banten merupakan sesuatu yang suci. Padahal salah satu pelaku BOm Bali yakni Imam Samudera adalah orang Banten. “Orang Bali terutama yang di daerah perkampungan penasaran ingin tahu Banten, karena Banten itu sesutu yang dijadikan alat persembahan atau sesajen yang dianggap suci,” terang Menik.

O…. githu!

Ah, jangan-jangan Banten dan Bali memang ada kaitannya. Bukankah dulu Banten juga merupakan daerah keraja Hindu. Bahkan kerajaan Salakanagara di Pandeglang yang hingga kini masih diperdebatkan termasuk kerjaan Hindu tertua. (Moga saja ahli sejarah segera menemukannya).

Lha terus apa hubungannya dengan judul tulisanku ini. Nah Menik juga ngasih tahu kalo orang Bali menyebut uang dengan kata  pipis. Kata yang lebih halus adalah jinah (ingat bukan zinah). “Ke Bali memang harus berjinah (memiliki uang) supaya bisa beli banyak oleh-ole,” kelakar Menik yang membuatku tertawa.

Ah, lain ladang memang lain belalang. Lain daerah tentu lain pula budaya dan bahasanya. Kata pipis dan jinah di daerah lain mungkin terdengar sangat saru. Tapi di Bali itu kata biasa yang sering diucapkan.

Apakah di daerah kalian ada kalimat yang di daerah lain artinya berbeda?

Ngecet bareng Bunda

14 Des

pagi ini di sela ngedit berita di kantor, aku disapa seseorang lewat YM dengan id bunda_*******. Dia menudingku sombong. Aha, terus terang aku memang lom mengenalnya, karena idnya aja lom aku add. Usut punya usut ternyata ia adala Bunda Menik pemilih Saung Bunda yang udah kesohor itu. Ngecet pun hanya sebatas kabar, musim, dan kabar keluarga. Sumpeh, bunda ternyata gokil di blog dan saat ngecet.

Asyik juga ngecet dengan bunda. Bunda sampe ngakak gagulingan waktu kubilang tentang karakter lelaki itu kurang ajar dan mau enaknya sendiri. Makanya saya memilih tak menikah dengan lelaki.

Oya, sampe sekarang aktif di blog, saya baru ngecet dengan dua orang bloger. Selain dengan Bunda Menik, bloger yang pernah ngecet denganku adalah langitjiwa yang kejadiannya dah beberapa bulan silam.

Maklumlah, walau YM ku online dengan status “i’m on sms”, aku sebenarnya jarang ngecet.   (*)

Rencana ke Bandung

22 Okt

Sabtu (25/10) esok, saya dan bareng teman-teman wartawan rencananya akan berangkat ke Bandung. Tak ada agenda khusus untuk datang ke Kota Kembang ini. Hanya sekadar jalan-jalan.

Sudah lama juga saya tak ke Bandung. Terakhir saya ke Bandung saat launching peluncuran kumpulan cerpen Harga Sebuah Hati di Braga sekitar 2006 lalu. Terus terang saya kangen dengan Bandung. Saya pengen liat bangunan tempat saya dulu selama tiga tahu kursus komputer yang kini sudah jadi Pom Bensin di sekitar Dipatiukur, makan jagung bakar di Dago, atau nongkrong di sudut-sudut Kota Bandung yang selalu menarik.

Saya juga kangen pengen maen ke Selasar Sunaryo di Dago Atas, maen ke Pentagon di UPI, atau sekedar cuci mata di BIP.

Namun rencana keberangkatan ke Bandung ini masih aku pertimbangkan. Karena dalam dua hari ini, aku sedang sering sakit-sakitan. Maklum sedang masa pancaroba.

Semoga saja, pada saat berangkat, badan ini bisa bugar hingga bisa menikmati lagi Bandung.

Mengerjakan PR dari Pak Guru

24 Sep

Beberapa hari lalu saya mendapatkan pe er dari Pak Guru Sawali. Sebetulnya menjelang lebaran ini saya lagi males buat posting, apalagi untuk mengerjakan pe er (di sini sudah libur sekolah Pak Guru). Untungnya Pak Guru sangat baik hati tak memberikan batas waktu buat saya untuk membalas tugas ini. Sehingga saya bisa santai saja dalam mengerjakannya.

  Dan pada hari ini saya baru berkesempatan untuk mengerjakan pe er ini. Pengerjaan pe er ini dengan beberapa pertimbangan, yakni menuruti perintah Pak Guru (konon mengabdi pada guru sama dengan mengabdi pada orangtua), jam deadline masih lama, dan komputer kantor lagi mlompong… hahaha..

Tugas dari Pak Guru sebenarnya sederhana. Saya diminta untuk menjelaskan lima hal yang disukai, lima hal yang tak disukai, serta melemparkan kembali tugas ini kepada 10 blogger lainnya. 

Lima Hal Yang Aku Sukai

1. Pulang Kerja

Hal yang paling saya sukai adalah saat pulang kerja, karea saya terbebas dengan beban kerja yang sangat menjemukan. Apalagi saat pulang ke rumah anak belum tidur sehingga masih berkesempatan becanda.

2. Membaca

Sehari nggak baca kayaknya kurang afdhol buat saya. Pagi-pagi minimal harus baca 5 macem koran, karena untuk bahan proyeksi. Malam sebelum tidur juga minimal baca dua halaman buku untuk mengantarkan saya agar lekas tidur.

3. Menulis

Menulis bukan saja menjadi kesukaan tapi bagi saya sudah menjadi modal penghidupan.

4. Malam Hari

Saya paling suka dengan suasana malam, karena terasa lebih tenang dan santai.

5. Rabeg dan Sate Bebek

Dua jenis makanan khas daerah Banten ini merupakan dua jenis makanan yang paling saya sukai, karena rasanya yang guru dan maknyos.

 

Lima Hal Yang Kubenci

1. KERAMAIAN

Saya paling nggak suka dengan suasana ramai, macam di pasar, konser, dsb. Sepulang dari keramaian, dipastikan saya akan sakit kepala hingga harus minum obat dan tidur!

2. Potong Rambut

Sejak masih duduk di SD sampe sekarang saya paling malas datang ke salon, tukang cukur, pemangkas rambut, dsb. Saya inget betul sepanjang hidup saya hanya lima kali datang ke tempat pangkas rambut resmi, yakni saat hendak sunat, mau OSPEK kuliah, mau kuliah, mau lamaran nikah, dan bareng cukuran dengan anak.

Selebihnya saya memasrahkan rambut saya dipotong guru (dulu istilahnya dicoak) karena sebel liat muridnya gondrong, dipotong ortu saat lagi tidur.

3. Tak Disiplin Waktu

Saya paling bete dengan orang yang gak disiplin dengan waktu, karena itu membuat saya suka mangkel menunggu!

4. Sarapan

Saya paling males jika disuruh makan antara pukul 06.00-08.00, karena biasanya saya akan muntah. pada jam segitu saya hanya memilih air putih atau teh manis dengan rokok.

5. Diajak Belanja

Saya paling males diajak keliling mal, supermarket untuk berbelanja. Apalagi jika dengan proses tawar menawar dan memilih barang yang memakan waktu lama.

 

Setelah mengungkapkan 5 aib saya tersebut, maka izinkan saya melempar tag ini kepada 10 bloger lainnya. Saya mohon maaf kepada para kawan yang tersebut dalam daftar pewaris tugas ini, karena akan direpoti tugas. Tapi saya tegaskan, tugas ini hukumnya tak wajib. Jadi kalo memang tak mau mengerjakannya, ya abaikan saja. Saya juga mohon maaf kepada para rekan yang tak disebut dalam daftar, bukan berarti karena saya tak percaya anda akan sanggup mengerjakannya. Ini karea lebih aturannya yang membolehkan saya melemparnya kepada 10 blogger. Inilah nama pewaris tag dari saya :

  1. AngelNdutz
  2. achoey sang khilaf
  3.  wi3nd
  4. yessymuchtar
  5. langitjiwa
  6. Donny Verdian
  7. suhadinet
  8. Rindu
  9. aRuL
  10. kucingkeren

      

 

 

Ramadhan : Bulan Penuh Razia

14 Sep

Sepanjang puasa ini, aku banyak dicekoki oleh aktvitas yang membosankan yakni RAZIA di mana-mana. Saking banyaknya razia, maka saya kadang becanda dengan teman-teman bahwa Ramadhan buka saja bulan yang penuh berkah tapi juga bulan penuh razia. Razia ini sudah berlangsung sejak awal-awal puasa. Di Banten misalnya, Rumah makan disatroni anggota Satpol PP dan menangkap dua PNS yang sedang asyik santap siang. Tak hanya rumah makan, polisi juga ikutan merazia pedagang petasan (walaupun kembang api juga ikut diamankan). Untuk menjaga ketertiban, PKL juga ikut dirazia. Bahkan sebuah papan iklan untuk memperpanjang alat vital juga ikut diturunkan. Pedagang kaki lima (PKL) juga harus was-was hampir setiap hari petugas tampak siaga merazia, apalagi yang jual VCD porno!

Petugas dinas kesehatan (Dinkes) merazia mall untuk memastikan parcel atau produk yang dijual tak kedaluwarsa. Dinas Pertanian dan Peternakan ikutan razia pasar untuk memastikan daging yang dijual bukan daging glonggongan atau ayam tiren. Dinas Perindustrian juga makin rajin datang ke pasar untuk memastikan harga stabil.

Polres juga ikut merazia sejumlah penari erotis dari beberapa tempat hiburan malam. Warung penjual miras juga ikut kena razia. Para penjudi juga nggak berkutik, tempatnya bermain judi banyak yang digerebek polisi saat puasa.

Razia ini tak hanya dilakukan oleh aparat berwenang. Organisasi massa juga ikutan melakukan sweeping rumah makan yang buka pada siang hari pada bulan Ramadhan dan tempat hiburan malam. Semua berbondong-bondong untuk melakukan razia!

Satu sisi, banyaknya razia itu perlu mendapat respon positif. Aparat keamanan ternyata cukup tegas dalam memberantas penyakit masyarakat. Namun pertanyaannya, mengapa razia itu hanya gencar dilakukan pada saat Ramadhan. Apakah razia semacam ini semacam rutinitas untuk menunjukan bahwa Ramadhan adalah bulan suci, sementara 11 bulan lainnya adalah bulan biasa. Sehingga penyakit mayarakat masih ditolerir.

Sangat disayangkan kalo razia ini hanya gencar dilakukan saat puasa, sementara pada 11 bulan lainnya nyaris tak tersentuh…. maka kepada aparat keamanan… rajin-rajinlah merazia yang memang patut dirazia tak hanya pada saat puasa! (*)

Di Balik ‘bulan sealis di matamu’

12 Sep

Sebenarnya sore ini aku lagi males buat ngepost. Niatnya cuma mau blogwalking sambil balesin komment. Tapi setelah liat komment di haiku berjudul ‘Awal Puasa’ yang kupost beberapa waktu lalu, aku jadi pengen nulis terutama buat nanggapi banyaknya komentar yang ‘nggak ngeh’, ‘nggak ngerti’, ‘nggak mudheng’ dengan haiku yang berisi sebaris kalimat berbunyi ‘bulan sealis di matamu’ itu.

Tentu saja, tulisan ini tak bermaksud mengajak pembaca untuk memahami apa yang aku tuliskan. Ketika karya itu sudah aku lahirkan, maka aku memberikan kebebasan kepada pembaca untuk mengapresiasinya. Bagiku ketidakmengertian pembaca akan karya yang aku lahirkan juga sebuah apresiasi. Aku tak punya hak untuk memonopoli pemahaman apresiator. Makanya tak aneh kemudian ada komentar dari Mas Daniel Mahendra yang dalam komentanya ingat dengan Penyair Besar (Maksudnya Sitor Situmorang yang menulis puisi berjudul Malam Lebaran dengan sebaris kalimat ‘bulan di atas kuburan’). Atau tafsir Wi3nd yang menganggap puisi ini sebuah harapan saya tentang puasa. Semua tafsir itu sah saja. Termasuk bagi yang punya tafsir nggak ngarti tadi.

Lha postingan ini terus untuk apa? Postingan ini hanya untuk menceritakan bagaimana haiku itu terlahirkan. Begini kisahnya (pake gaya pendongeng):

Pada malam awal puasa sepulang kerja, aku tiduran di bale-bale bambu depan rumah sambil ngisep rokok. Ngehayal sambli istirahat. Saat itulah, Kafka, anak semata wayangku yang baru berumur 2 tahun 3 bulan ngajak maen. Anakku ini seneng kalo maen di luar rumah pada malam hari. Apalagi kalao denger pesawat lewat. Dia suka nyeletuk, “Pilotnya koq nggak bobo.”

Bermain di luar rumah juga memberikan aku kesempatan kepada Kafka untuk memperkenalkan benda semesta, seperti bulan, bintang, awan, dsb. Kafka suka dengan bulan. Dianggapnya bulan adalah rumahnya pilot. :D

Pada saat maen dengan Kafka itu, tiba-tiba aku melihat sebuah bintang jatuh. Aku langsung teriak, agar Kafka juga melihatnya. Namun saat nengok, bintang jatuh sudah tak terlihat. Kafka malah melihat ke atas, ke bulan tanggal pertama ramadhan. “Pa, bulannya koq kecil”.

Pada awal puasa, tentu saja bulan sangat kecil (bulan sabit). Aku juga ikut memerhatikan bulan yang dikomentari kafka. Aku melihat bulan sabit pada saat itu sangat indah. Bulan sabit itu lalu aku banding-bandingkan bentuknya dengan alis. Aha… akhirnya aku mendapatkan sebuah diksi ‘bulan sealis di matamu’. Bulan yang mengagumkan di mata anakku Kafka.

Selama beberapa hari, kalimat itu mengendap dalam otakku. Aku juga sering menggumamkannya saat menaiki motor. Aku sudah bertekad kalo kalimat itu harus menjadi sebuah puisi. Namun apa daya, setelah berulangkali memeras otak, aku tak juga menemukan kalimat untuk melanjutkannya. Aku hanya mampu menuliskan sebaris kalimat itu.

Begitulah proses lahirnya ‘Awal Puasa’….. (qizink)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.