Seandainya saya menjadi Anggota DPD RI saya bertekad bisa menjadi Duta Pembangunan Daerah. Saya akan memanfaatkan kedudukan saya untuk mempromosikan potensi daerah pemilihan (dapil) saya ke pemerintah pusat atau swasta agar bisa dikelola demi kesejahteraan rakyat.
Saya juga akan memperjuangkan agar permasalahan di dapil saya bisa terselesaikan, terutama masalah kebutuhan dasar rakyat, misalnya tentang pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. Untuk memperjuangkan hal ini, saya akan duduk bersama dengan anggota DPR yang memiliki hak budgeting, terutama anggota DPR dari dapil yang sama dengan saya agar bisa bergandeng tangan memperjuangkan aspirasi masyarakat di daerah.
Keberadaan rumah aspirasi akan saya optimalkan untuk benar-benar menjadi sumber inspirasi dan informasi bagi saya untuk memperjuangkan harapan masyarakat. Rumah aspirasi bagi Anggota DPD RI bisa menjadi ‘halte’ bagi rakyat untuk menghantarkan suaranya agar didengar pemerintah pusat. Dengan demikian, rakyat di daerah tak perlu semakin bersusah payah datang ke pusat berunjukrasa ke pusat karena suara mereka sudah didengar dan akan diperjuangkan oleh orang-orang yang telah diberinya kepercayaan.
Tekad ini saya lakukan karena Anggota DPD RI adalah pemegang amanat rakyat untuk mewakili daerahnya agar bisa lebih baik. Saya duduk atas nama pribadi yang diberi kepercayaan oleh rakyat untuk menyuarakan aspirasi mereka. Dan saya berkeyakinan, kebahagian saya terletak pada kebahagian orang lain dan bukankah sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Sebagai anggota DPD RI tentu saya akan berbahagia bila rakyat yang telah memberi saya kepercayaan juga bisa berbahagia. Dan saya akan berjuang untuk mendapatkan kebahagiaan saya itu dengan cara menjadi Duta Pembangunan Daerah – yang disingkat juga menjadi DPD-.

Setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan bahwa calon anggota legislatif (caleg) terpilih berdasarkan suara terbanyak, seluruh caleg berlomba-lomba menarik simpati masyarakat, baik yang bernomor urut kecil maupun besar. Beragam media dimanfaatkan untuk mensosialisasikan dirinya, yang terbanyak adalah spanduk, baliho, banner, dan stiker.
Damai bagi warga di Palestina adalah harapan. Berharap tak ada lagi invasi dari zionis Israel. Berharap bisa mimpi indah saat tidur malam. Berharap, tak ada lagi anak-anak kecil meregang nyawa atau menangis histeris dengan wajah berdarah. Berharap perang tak lagi datang. Untuk kedamaian warga Palestina ini, saya hanya turut berdoa semoga harapan itu terwujudkan.
Damai bagi warga Israel adalah tipu daya. Sebuah tipuan menawarkan kedamaian dengan roket ditangan. Sebuah tipuan menyuguhkan persahabatan dengan wajah permusuhan. Menghadapi tipuan kedamaian dari kebengisan Israel ini, saya hanya teringat sebuah kalimat indah dari Yusuf Qardhawi, “berdamai dengan perampok yang hanya mau mengembalikan secuil hasil rampokannya adalah bodoh. Di dalamnya terkandung ketidakadilan . Yahudi seharusnya hengkang dulu baru bicara perdamaian.“
Sabtu (6/12) sekitar pukul 09.30 aku meluncur ke 
