Arsip | Desember, 2008

Sajak Kenangan Akhir Tahun

29 Des

mari kita kenang kembali

saat kita menunggu matahari

pada senja di pantai itu

 

kaki kita bertelanjang diciumi lidah ombak

“jangan kau tuliskan namaku di pasir itu.”

katamu

 

lalu kita hanya mengeja kata-kata cinta

dikabarkan waktu yang berganti selalu

“jangan percaya pada angin.”

katamu

 

mari kita kenang kembali

 

Pantai Anyer, jelang 2009

 

# Jaga Kafka dan calon anak kita

Ke Bali Harus Berjinah

15 Des

 

Postingan ini sebenarnya sudah lama mengendap di otakku, tapi baru sempat aku ketikkan.

Postingan ini secuil tentang perjalananku ke Bali, akhir bulan lalu. Tak banyak lokasi yang kukunjungi dalam perjalanan selama dua hari ini, kecuali menyusuri sepanjang jalan Legian, Kuta, serta melancong sebentar ke Gianyar. Hujan yang selalu turun di Bali membuatku demam tubuhku. (Maaf kepada kawanku yang memesan arak Bali, karena aku hanya bisa membawakanmu Kacang Disco dari Kresna).

Dari Bali aku mendapatkan beberapa catatan kosa kata bahasa yang terdengar lucu. Wayan Menik, perempuan Bali banyak mengenalkan kosa kata yang cukup asing dan membuatku tersenyum, geleng-geleng kepala, bahkan tertawa ngakak.

Di mata orang Bali, kata (bahkan daerah) Banten merupakan sesuatu yang suci. Padahal salah satu pelaku BOm Bali yakni Imam Samudera adalah orang Banten. “Orang Bali terutama yang di daerah perkampungan penasaran ingin tahu Banten, karena Banten itu sesutu yang dijadikan alat persembahan atau sesajen yang dianggap suci,” terang Menik.

O…. githu!

Ah, jangan-jangan Banten dan Bali memang ada kaitannya. Bukankah dulu Banten juga merupakan daerah keraja Hindu. Bahkan kerajaan Salakanagara di Pandeglang yang hingga kini masih diperdebatkan termasuk kerjaan Hindu tertua. (Moga saja ahli sejarah segera menemukannya).

Lha terus apa hubungannya dengan judul tulisanku ini. Nah Menik juga ngasih tahu kalo orang Bali menyebut uang dengan kata  pipis. Kata yang lebih halus adalah jinah (ingat bukan zinah). “Ke Bali memang harus berjinah (memiliki uang) supaya bisa beli banyak oleh-ole,” kelakar Menik yang membuatku tertawa.

Ah, lain ladang memang lain belalang. Lain daerah tentu lain pula budaya dan bahasanya. Kata pipis dan jinah di daerah lain mungkin terdengar sangat saru. Tapi di Bali itu kata biasa yang sering diucapkan.

Apakah di daerah kalian ada kalimat yang di daerah lain artinya berbeda?

Tadarus Nafas

14 Des

maka berhembuslah dari setiap nafasku

menjadi rindumu

mengeja cuaca yang selalu sulit kuterka

Banten

Ngecet bareng Bunda

14 Des

pagi ini di sela ngedit berita di kantor, aku disapa seseorang lewat YM dengan id bunda_*******. Dia menudingku sombong. Aha, terus terang aku memang lom mengenalnya, karena idnya aja lom aku add. Usut punya usut ternyata ia adala Bunda Menik pemilih Saung Bunda yang udah kesohor itu. Ngecet pun hanya sebatas kabar, musim, dan kabar keluarga. Sumpeh, bunda ternyata gokil di blog dan saat ngecet.

Asyik juga ngecet dengan bunda. Bunda sampe ngakak gagulingan waktu kubilang tentang karakter lelaki itu kurang ajar dan mau enaknya sendiri. Makanya saya memilih tak menikah dengan lelaki.

Oya, sampe sekarang aktif di blog, saya baru ngecet dengan dua orang bloger. Selain dengan Bunda Menik, bloger yang pernah ngecet denganku adalah langitjiwa yang kejadiannya dah beberapa bulan silam.

Maklumlah, walau YM ku online dengan status “i’m on sms”, aku sebenarnya jarang ngecet.   (*)

Pesan Politikus Pada Anaknya

10 Des

anakku,

menjadi politisi tak perlu sekolah

pendidikan cukup jadi wacana di meja rapat

atau obrolan ringan di meja makan

ijazah?

aha, mudahlah itu dibuatnya

 

anakku,

menjadi politisi ulung itu gampang

asal bisa bersilat lidah

 

anakku,

untuk menjadi pengusaha tak perlu kerja keras

kerja keras hanya ada pada dongeng

dari orang tua

 

anakku,

menjadi pengusaha sukses itu gampang

asal bisa membangun koneksi

dan rajin bagi-bagi komisi

Dikutuk Judul…

8 Des

101_1323Sabtu (6/12) sekitar pukul 09.30 aku meluncur ke Rumah Dunia . Badan sebetulnya masih capek karena sehari sebelumnya aku lelah liputan pelantikan Walikota/Wakil Serang dan juga nunggu kabar tentang wafatnya manta Gubernur Banten pertama HD Munandar.

Sudah sebulan aku tak bertandang ke komunitas yang diasuh Gola Gong dan Tias Tatanka ini. Terakhir aku datang sekitar sebulan lalu saat memberi testimoni sebelum Gong dinobatkan meraih Indonesia Berprestasi Award dari XL.

Jadi kelelahan itu aku singkirkan. Aku rindu Rumah Dunia. Setelah mengantarkan isteri dan si Kafka, aku meluncur ke Rumah Dunia untuk mengikuti Ode Kampung #3 yang mengsung Temu Komunitas Literasi se-Kampung Nusantara. Sesampainya di lokasi, diskusi sedang  berlangsung. Tapi aku tak langsung mengikutinya, aku memilih keliling stand buku dan souvenir terlebih dahulu.

Di stand FLP Serang, aku duduk sambil menghisap rokok cowboy. Tak  lama berselang dari dalam sebuah ruang kecil muncul Ali Muakhir, mantan editor Dar! Mizan yang kini jadi Managing Editor Penerbit Salamadani.

Selain Gong, Ali Muakhir adalah provokator ulung yang telah berhasil memotivasi diriku untuk melahirkan novel Gerimis Terakhir. “Bisa tidak sebulan selesai…” begitu kalimat yang dilontarkan Ali Muakhir di awal Ramadhan 2003  silam. 

Syukurlah walau lebih dari waktu yang ditentukan novel itu lahir juga. Seperti yang tercatat dalam bukuku, royalti buku itu modal untuk walimahku (lumayan buat beli mas kawin). Jadi aku sangat bersyukur bisa ketemu kembali dengan Ali Muakhir.

Setelah berjumpa dengan Ali Muakhir, aku juga berjumpa dengan Daniel Mahendra, jagoan penganyam kata yang kalimatnyanya selalu renyah dibaca. Aha, awalnya kupikir Daniel ini sangat serius banget karena kepalanya dipenuhi Pramoedya, ternyata daniel guyuib juga. “Foto dulu ya, buat blog,” begitu pinta Daniel.

Sebagai alumnus relawan Rumah Dunia, aku dengan soknya bercerita tentang Rumah Dunia dan beberapa kegiatannya. Tapi ternyata walau baru pertama kali datang ke Rumah Dunia, Daniel banyak mengikuti tentang Rumah Dunia, lewat dunia maya. Hmmm… Dunia tampaknya memang sudah selebar kotak monitor. Sehingga aktivats Rumah Dunia di kampung terpencil pun sudah banyak diketahui.

Beberapa jenak kemudian, Gola Gong muncul di hadapan Ali Muakhir, Daniel Mahendra, Bambang Trim, sambil memprovokasi kemandulan diriku. Gong mengatakan, bahwa aku terkutuk oleh judul novelku sendiri. “Kamu salah bikin judul novel. Gara-gara judulnya Gerimis Terakhir, itu jadi novelmu yang terakhir. Ayo mana novelmu yang laen.”

Duh…! Aku nyesek! Draft bukuku di komputer banyak yang belum terselesaikan. Apakah aku memang sudah kena kutukan. (qizink)

Foto-foto dapat diintip di situsnya kang Daniel saja , di sini.

Melahirkan Jelang Ikut Tes CPNS

1 Des

9-tan-malaka

 

 

 Niat Dewi Yuliani (24) dan Neli Apriani (26) untuk menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) luar biasa besarnya. Kedua ibu rumah tangga itu mengikuti tes CPNS di lingkungan Pemkab Pandeglang dengan nasib berbeda meski dengan niat yang sama-sama kuat.

Dewi Yuliani mengikuti tes dalam kondisi hamil tua sehingga akhirnya gagal untuk mengisi soal-soal tes karena keburu melahirkan. Padahal kemarin Dewi sudah datang ke lokasi tes di SDN Pandeglang 4 bersama dengan suaminya. Namun sebelum tes dimulai sekira pukul 08.30 WIB, tiba-tiba Dewi merasakan perutnya mules seperti akan melahirkan. Beruntung, suaminya, cepat tanggap dan buru-buru membawa Dewi ke sebuah klinik. Namun tidak diketahui, di klinik mana Dewi melahirkan.

Lain lagi cerita yang dialami Neli Apriani. Ibu rumah tangga muda ini lebih beruntung karena berhasil mengikuti tes lantaran sudah melahirkan pada Sabtu (29/11) lewat operasi caesar. Meski baru satu hari melahirkan, namun semangat Neli untuk menjalani tes CPNS kemarin tidak kendor.

Neli -yang mengambil formasi guru, mengisi soal-soal tes di SDN Saruni 2, Pandeglang. Dengan tangan masih diinfus, warga Kampung Karya Mukti, Desa Bama, Kecamatan Pagelaran, itu mengerjakan soal di sebuah ruangan khusus. Saat mengerjakan soal, Neli sendiri saja tetapi diawasi oleh pengawas. Bahkan ia tidak mempedulikan jepretan kamera wartawan yang terus membidiknya. Sementara di luar ruangan, sang suami bernama Sertu Solihul Huda menunggu dengan setia. (*)

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.