Sastra, begitulah perempuan tua yang dulu pernah tinggal di perkampungan kumuh Kali Code menyebut namanya. Perempuan berkulit jeruk purut itu yang telah mengasuh dan membesarkan dirinya. Ia tak tahu (dan tak mau tahu) mengapa perempuan yang seminggu lalu mati diserang diare itu memberinya nama Sastra.
Sastra tak peduli dengan sebuah nama!
Dari perempuan yang dipanggilnya ‘Mbok Tua’ itu pula, Sastra tahu tentang asal-usul dirinya. Semasa hidupnya Mbok Tua pernah bercerita, jika dirinya adalah hasil dari persetubuhan seorang penyair kere dengan pelacur kawakan di Pasar Kembang. Ibunya telah mati bunuh diri saat dirinya berumur tiga tahun. Setahun kemudian bapaknya menyusul ke liang kubur, karena siphilis yang dideritanya.
Sastra termasuk makhluk langka. Tulang-tulang wajahnya menampakkan keperkasaan seorang gladiator yang siap bertarung di medan laga, sementara dua payudara yang tumbuh di dadanya begitu besar dan seksi. Langkahnya gemulai bagai Putri Solo. Bulu-bulunya tumbuh tak beraturan di atas bibir dan janggutnya. Suaranya terkadang lembut dan renyah seperti suara sinden jaipongan, namun terkadang pula sekeras vokal demonstran yang sedang menuntut keadilan di gedung dewan.
Sastra waria? Sastra banci?
Sastra bukan waria atau banci. Waria atau banci masih memiliki kelamin. Sedangkan Sastra tak jelas kelaminnya, karena sejengkal di bawah pusar Sastra tak ada organ tubuh yang dapat memastikan jenis kelamin dirinya.
Sastra tak berkelamin!
“Sastra adalah ciptaan Tuhan yang paling sempurna. Komposisi tubuhnya memadukan antara kelembutan wanita dan keperkasaan pria….” seorang yang dianggap sebagai pemerhati Sasta berucap dengan ludah membuncah.
”Ya… Sastra telah mengembalikkan kesadaran kita pada kebesaran Tuhan. … Sastra adalah Sang Ratu Adil!” seorang pria berwajah paranormal menimpali dengan lebih semangat. “Sastra adalah titisan pertapa yang bersemayam di puncak Merapi, ” lanjutnya paranormal yang memiliki khas batu kecubung besar di jari tengah tangan kirinya.
“Tapi sastra juga berbahaya bagi orang lain. Sastra sangat menakutkan!” sela pria bergaya pemuka agama.
****
Tek!
Sastra menekan tombol off pada remote control. TV 14″ di hadapannya mati.
Sastra muak dengan segala komentar tentang dirinya. Hampir saban hari dirinya dijadikan objek pembicaraan di televisi, radio, kampus, sekolah, ruang seminar, situs internet… Bahkan di warung angkringan pojok gang.
Keunikan Sastra telah menjadi perhatian banyak orang. Namanya dikenal hingga ke pelosok negeri.
Sastra ingin hidup apa adanya, hidup normal seperti makhluk Tuhan lainnya. Tapi keinginan itu hanya menjadi mimpi di siang bolong, karena pada kenyataannya orang lain tak bisa menerima kehadiran Sastra di tengah-tengah mereka. Orang-orang yang berpapasan dengannya selalu memandangi dirinya dengan sorot mata aneh. Bahkan tak sedikit anak-anak yang langsung lari terbirit-birit atau mentertawakan dirinya.
Menyakitkan!
“Puah!”
Sastra meludah. Matanya melotot. Otot-otot di pergelangan tangan dan lehernya menegang. Dilemparkannya remote control yang masih dipegangnya ke arah televisi.
Prang!
Kaca televisi berantakan.
“Aaaaggghhhh….” Sastra menjerit. Suaranya bergema di dalam kamar 3×3 meter miliknya. Beberapa jenak kemudian tubuhnya jatuh lunglai dengan air mata yang mengembang di ujung matanya yang bening.
Sastra menangis! Jiwanya teluka.
***
22. 45, burung gagak mengoak.
Di sebuah jembatan penyeberangan, Sastra memandangi beberapa kendaraan yang berlalu-lalang di bawahnya. Tekadnya sudah bulat. Malam ini ia akan melakukan apa yang telah dilakukan ibunya dua puluh tahun yang lalu. Sastra ingin bunuh diri! Sastra merasa telah lelah menjalani hidupnya.
“Tuhan…. Izinkan aku untuk menentukan cara kematianku….”
Sastra menaiki pagar pembatas jembatan. Matanya mulai dipejamkan ketika kabut mulai menyelimuti bulan yang pucat sendirian di langit. Sedetik kemudian tubuh Sastra meluncur….
Bruk!
Sastra membuka matanya. Sekelilingnya nampak begitu putih. Surgakah? Sastra sampai di surga? Tidak! Sastra belum sampai surga. Surga terlalu mahal bagi Sastra. Sastra terkapar di atas kasur sebuah rumah sakit. Semalam seorang juragan sayur yang membawanya ke rumah sakit.
Sastra tidak mati! Saat bunuh diri, tubuh Sastra jatuh di atas bak truk yang penuh sayur mayur. Sastra hanya pingsan selam lima jam.
“Tuhan… kenapa tak Kau ambil saja nyawa sialanku ini!”
Sastra mencabut slang infus yang menancap di lengan kanannya. Setelah melepas seluruh pakaiannya, Sastra berjalan meninggalkan ruang rawat.
Orang-orang yang bertemu dengannya terkejut, berteriak, menjerit… lalu lari ketakutan. Sastra tak peduli. Ia terus melangkah, meninggalkan rumah sakit. Sastra berkeliaran di jalanan tanpa sehelai benang. Sastra telanjang!
“Aku bebas… aku bebas….” ucap Sastra sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya.
Sastra merasakan sebuah kebahagian.
“Sastra gila…! gendeng…!” teriak seorang ibu sambil menarik lengan anaknya, menjauhi Sastra.
“Awas ada Sastra!” seorang satpam mengingatkan.
Sastra tertawa terbahak-bahak. Suasana makin kacau. Orang-orang berlarian, jalanan macet, toko-toko tutup, anak-anak menangis, polisi berusaha meringkus Sastra….
Sastra terus berkeliaran di jalanan, sampai sebuah radio milik pemerintah menyiarkan berita: “… demi stabilitas keamanan, Sastra dipenjara…!” (*)
Diinspirasi dari cerpen Firman ‘Balelol’ Venayaksa.
29 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar










Gila!
Cerpen bagus Mas qizinklavia. Idenya dari cerpen pula.
Saya belum berani segila ini mengambil ide tulisan. Sering-sering posting cerpen biar saya banyak bahan pembelajaran Mas.
Saya otodidak, tak punya teori dan dasar pengetahuan tentang sastsa. Tapi hasrat untuk menulis cerpen begitu menggebu.
@ suhadinet
Tinggal pilihan saja mas dalam mengambil ide dan gaya penulisan.
Saya juga otodidak mas, selepas SD saya tinggal di pesantren yang mata pelajarannya 90 persen kitab kuning. Pelajaran bahasa Indonesia saya dapet hanya dari buku SD, baca Wiro Sableng, Fredy S, si Petruk, de el el. Jadi saya juga masih belajar!
Haks, pasar kembang. Jadi ingat surabaya. Ha.ha…
Eit, tapi sumprit saya tak pernah main-main sama kembang-kembang yang bermekaran di bawah tiang listrik itu mas.
@ suhadinet
Hiks!
Pasar Kembang itu Surabaya apa Jogja Mas???
lah, ini cerpen toh?
kirain kisah nyata..
udah serius kali aq bacanya. haha
@ kniapril
Tag-nya sih cerpen…! yang pasti itu tulisan bukan bon utang!!!
hidup sastra!!
uhmmm…
@ nana
Hidupppppppp!!
Begitu banyak “sastra” ditanah ini yang kehilangan jati dirinya..adakah ini realitas akhir zaman. adakah penyimpangan alam sebuah karunia tuhan..atau kehendak manusia yang mengingkari kodratnya..???
@ fahrizalmochrin
Biarkan sastra menemukan jalan hidupnya sendiri. Toh manusia punya akal untuk menentukan sastra seperti apa yang bermanfaat untuk dirinya!
analogi yang mantab! sastra rupanya menimbulkan banyak tafsiran yang berbeda-beda. saya sih enjoy saja melihat sastra mau telanjang, waria, perempuan, bahkan mungkin ketika sastra sedang bersetubuh di atas jalan aspal yang panas, kekekeke
@ Sawali Tuhusetya
Sekarang sastra sudah banyak bajunya mas… ada sastrawangi, sastra religi, sastra anu, sastra ini, dsb! Biarkan saja sastra memakai baju-baju itu. Toh kita sebagai penikmat, tinggal menentukan pilihan.
Wah…. banyak sekali gaya2 bahasa yang ekspresif dan bombastis…..
Persoalan sosial semacam ini memang akan terus ada, yang penting adalah bagaimana kedua belah fihak saling mengerti…. Masyarakat harus mengerti bahwa waria juga ciptaan Allah…. sementara waria juga harus mengerti dan harus menghormati orang lain dengan tidak mengumbar nafsu, ngomong kotor dan tingkah polah-tingkah polah lainnya yang hanya berputar sekitar seks saja…..
@ Yari NK
Bombastis??? Awas meledak mas!
bener2 cerita sastra nih… maknanya sangat bersayap, tgt kita menilainya darimana…salut!
@ kucingkeren
Silahkan mengapresiasinya dari sayap sebelahmana yang kamu mau!
hmmm jadi sastra ini manusiakah??
@ fisha17
yang pasti sastra adalah ‘yang dicipta’
bagus mas..kagum saya..
@ marvel
makasih…!
Wow keren! Sastra tu nama orang ya?
@ didta
Makasih….
Sastra nama penjual obat kuat mas!!! hahaha
Wah, karyanya keren banget… salam kenal mas dari Banjarmasin…
@ Rizky
Makasih… salam kenal juga dari Banten
Cool!
Saya suka cara Anda melakukan penokohan terhadap Sastra dalam cerita ini.
Salam kenal, terimakasih untuk kunjungan dan komentar di blog saya.
@ Donny Verdian
Thanks! atas apresiasinya!
Salam kenal kembali!
Wowww…keren mas..sumpah keren…
btw, gmn bsa sekeren t sh mas? pngn jg euy..
lam kenal y..
@ bayusaja
Makasih.
Merdekakan saja imajinasi dalam karyamu.
lam kenal juga euy!
wagh..saya g begitu suka dengan sastra
@ okta sihotang
Kalau tak suka, jangan dipaksakan… nanti muntah!! hehehe
Jadi inget ama Novel Middle Sex………Hampir mirip…hem…
@ syelviapoe3
Aku malah belum baca tuh novelnya…. hehehe
sinetron itu sastra ngak
@ aRuL
Ada beberapa karya sastra yang kemudian disinetronkan, seperti Siti NUrbaya
awalna sulit mengerti tapi lama kelamaan baru “ngeh” ato memang daku yang dudulz..heheh..
so..sastraa..
@ wi3nd
Syukur deh kalo dah ‘ngeh’
kereen dan ekspresif..
@ emfajar
terima kasih
Lahir dari bapak penyair dan ibu pelacur… mmmm… melahirkan sesosok makhluk bernama SASTRA. Bisa se-lembut dan se-keras bapaknya, bisa se-liar dan se-binal ibunya. Bisa menjadi siapa saja, karena tidak berjenis kelamin!
@ laporan
Sastra tak berkelamin!
wah karya seni berseni ini
@ zoel
Tapi tak berair seni… maklum sastra gak punya kelamin! hahaha
suka nulis fiksi ya.
kapan novelnya terbit?
@ kw
aku lagi belajar menulis…
Novel pertamaku dah dicetak Dar! Mizan judulnya ‘Gerimis terakhir’. Baca di Penjaga Rumah
postingan pecinta sastra sepertinya
sahabat, aku pun sedang belajar mengenali dan mencintainya
@ achoey sang khilaf
Baru sekedar penikmat. Sama, aku juga sedang belajar
ceritanya segarrr… 2 gender dlm tubuh sang tokoh,
kerennn… bgt mas
slm knl, mampir yaa..
@ perempuan
Makasih atas kunjungannya..
saya sudah mampir ke rumahmu!
Masyarakat kita suka memperhatikan hal yang diluar keberagaman….padahal semuanya ciptaan Tuhan. Ini yang kadang membuat sekat-sekat di masyarakat.
@ edratna
Manusia membuat kotak-kotak untuk dirinya sendiri. Sehingga mereka kerap melihat sesuatu yang berbeda dari sekat-sekat itu!
keren bgt idenya…
tapi yah, meskipun menyukai cerita seperti ini, aku sering ga dong
@ septy
Makasih. Sering ga dong tuh apa maksudnya *Nggak Mudheng Mode on*
Salam
sastra yang sangat humanis, rapuh dan melakoni hidup seperti stereotip seorang manusia pada umumnya, nice story kang
Salam
apa sastra juga nasibnya sama dengan seni?? akhh entahlah
Cerpen yang bagus, dengan imajinsi liar.