Dalam beberapa pelatihan kepenulisan, seringkali saya mendapat pertanyaan bagaiamana sih agar tulisan bisa diterima media massa (koran atau majalah). Tips yang saya berikan ini mungkin tak ilmiah. Saya menulisnya hanya berdasarkan pengalaman saya baik saat saya mengirimkan karya saya ke media atau ketika saya masih memegang rubrik Budaya dan rubrik Wacana Publik di Radar Banten.
Begini tips nya….. eng… ing… eng
1. Ikutin Aturan Kepenulisan di Media Massa
Sejumlah media massa kerap membuat aturan bagi sebuah karya (cerpen atau opini) yang hendak dimuatnya, misalnya tentang banyaknya karakter. Kalau di media itu menyaratkan tulisan maksimal 5.000 karakter, maka jangan mengirimkan naskah yang punya karakter sampai di atas 10 ribu karakter. Penanggung jawab halam media massa masih bisa memaklumi kalau kelebihannya hanya sekitar 10 persen dari ketentuan. Media (khususnya) biasa sudah punya space (kolom) yang sudah ada ukurannya masing-masing. Dan ini harus disadari penulis.
2. Tulisan Harus Rapi
Buatlah tulisan serapi mungkin. Tulisan yang acak-acakan, akan membuat redaktur halaman malas membaca tulisan tersebut. Sayangkan kalau ide kamu yang bagus, tak sempat dibaca gara-gara tulisannya acak-acakan. Bila mengirimkan naskah ke media yang saklek menggunakan EYD, ya bikin tulisan dengan mematuhi EYD. Kalau buat majalah yang menggunakan EYDA (Ejaan Yang Diacak-acak alias pake bahasa gaul), ya gunakan bahasa media tersebut.
3. Sadar Media
Mengirimkan naskah harus sadar alias tahu betul tentang bagaimana media tersebut. Kalau kita mengirimkan naskah yang penuh adegan percintaan ke majalah religius, tentu bakal ditolaknya. Begitu juga ketika kita mengirimkan karya kita yang serius banget ke majalah anak-anak. Jadi lihat pangsa pasar media, bahasa media, gaya penulisan di media tersebut, de el el. Untuk sadar media ini, maka kita kudu rajin-rajin baca media.
4. Jangan Menyerah
Jangan patah semangat ketika tulisan kita nggak dimuat. Bersabarlah. Banyak cerita penulis-penulis yang harus menunggu bertahun-tahun sampai tulisannya diterima media massa. Kalau satu tulisan kita tak dimuat, kirimkan lagi tulisan lainnya. Percayalah, suatu saat akan ada karya kita yang akhirnya muncul. Adakalanya redaktur tak menurunkan karya yang sebetulnya bagus hanya karena alasan-alasan yang sebenarnya unik. Saya pernah tak menurunkan naskah cerpen milik pelajar SMA yang sebetulnya menurut penilaian subjektif saya sudah bagus. Saya tak menurunkannya karena selama satu bulan, pelajar itu baru mengirimkan satu naskah. Saya khawatir, itu hanya satu-satunya naskah yang ia miliki. Saya ingin dia kreatif dan terus berkarya dengan mengirimkan naskahnya. Jangan baru cuma punya satu naskah langsung sesumbar sebagai cerpenis!
5. Silaturahmi Media
Naskah yang telah dikirimkan ke media, jangan didiamkan. Harus dipantau. Bila udah satu bulan lebih tak ada kepastian apakah karya bakal diturunkan atau tidak, tanyalah ke redaksinya, baik lewat telepon atau faksimile. Syukur-syukur kalau mau juga minta penjelasan di mana kekurangannya kalau tulisan kita tak layak muat. Silaturahmi sambil belajar.
6. Pilih Tema yang HOT!
Redaksi suka karya yang mengangkat tema-tema yang lagi tren di masyarakat. Kalau saat ini lagi tren Olimpiade Beijing jangan malah nulis tentang MTQ yang sudah jauh berlalu. Bisa saja sih kita menulis dengan membuat tema baru, tapi itu butuh pendalaman agar tema yang kita angkat bisa diterima!
Untuk sementara ini saja tips dari saya. Sorry kalau tulisan saya ini tak terstruktur. Ini hanya pengalaman saya saja! Buat temen-temen yang punya pengalaman lain, silahkan tambahkan! (qizink)
Sumber gambar : www.write-art.org
24 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar









apakah saya pertamaXXX?
tips yang menarik.
Paling enak menulis dalam blog sendiri ya…. yang dipakai aturan sendiri… huehehehe……. (paling2 hanya dibatasi etika publik).
hi hi hi… saya suka menulis juga, tapi meski pake aturan sendiri, saya juga kudu mempertimbangkan baik-buruknya tulisan saya sendiri di mata orang lain… why? soalnya saya nulis biar dibaca sama orang lain…
apakah tulisan yg bersifat pro dan kontra bisa diterima juga?
Makasih tipsnya Mas, sangat bermanfaat buat saya yang mau nyoba kirim-kirim karya cerpen ke media.
Sering-sering nulis tips buat saya yang masih belajar ini ya.
Nomer 5 pak, paling penting. Nah kalau ingin tulisan ilmiah, mudah pak Qizink, karena mahasiswa S3 kalau akan nyusun disertasi syaratnya mengirim 5 tulisan ilmiah di media massa atau menerbitkan buku. Mereka kadang2 tidak punya koneksi atau tata cara untuk masuk ke media.
pengen juga sih jadi penulis, tapi gak sanggup
makasih tipsnya:)
tapi sayah hanya menulis di blog sajah,smo9a bermanfaat:)
Ah saya ingin sekali menjadi penulis … mulai dari mana yah?
@ alabahy
silahkan nikmati pertamaxnya…
@ Yari NK
betu mas Yari.. blog memberikan kita kebebasan untuk membuat karya!
@ khofia
tentu sebuah tulisan harus dipertimbangkan baik buruknya…!
@ Manik
Tentu saja bisa diterima!
@ Suhadinet
Saya juga sedang belajar mas… Oh ya.. selamat cerpennya udah dimuat!!
@ Laporan
Nomor 5 itu yang sering dilupakan. Karya yang dikirimkan tak pernah dipantaunya… penulis kadang egois dengan karya yang sudah dihasilkannya…
Setelah ditulis kadang dilupakannya!
@ Blog Bisnis
Udah bikin blog dan penuh dengan tulisan, berarti udah jadi penulis juga dong!
@ wi3nd
blog juga salah satu media untuk publikasi karya! Itu tinggal pilihan saja. mau pilih blog, koran, majalah, atau cuma di dindin. Orang2 jaman dulu malah nulisnya di daun lontar. Karya yang berkualitas tentu akan tetap dinilai baik, apa pun medianya!
@ Rindu
Kalau ingin menjadi penulis, mulailah dengan menulis. Seperti juga orang yang ingin menjadi perenang, mulailah dengan berenang!
cocok neh… tak save dulu ah..
Apa tulisan saya sudah layak terbit dimedia ? ah…di blog aja kali.
wahhhh untung saya enggak terlalu bisa nulis jadi enggak ngarep banget tulisan jelek dari saya bisa dimuat dimedia
tips-nya keren… makasih udah berbagi
Masih punya tips lagi?
Saya tungguin deh.
Kang Qizink saya nanya ya?
untuk mengetahui panjang tulisan 5.000 atau 10.000 karakter itu patokannya apa ya?ga mungkin kan kita ngitungin karakter satu-satu, hehe
thx infonya
sering-sering aja ngasih tips nya mas, biar kita juga bisa nulis untuk koran atau majalah bukan hanya di blog
Bang, saya sedang mencari kursus penulisan skenario … dimana yah? bisa bantu saya? Please!!
Tipsnya bagus. Sy dulu ngirim2 artikel jg sering ditolak. Hanya 1x diterima di koran daerah, & 2x di majalah utk cerpen. Sedih… tp gpp..namanya jg mencoba.
Sangan bermanfaat, Kang Qizink…
@ thegands
Terima kasih, kalau memang dianggap bermanfaat
@ Gelandangan
Semua orang berpotensi menulis, termasuk mas! Masalah ngarep atau tidak, tinggal kemauan aja!
@ ubadbmarko
tulisan yang mana mas… nulis di mana saja sama aja mas… media hanya sebuah pilihan
@ artja
makasih… kita saling berbagi
@ Suhadinet
Nanti saya bagi lagi pengalamannya… moga aja itu bisa jadi tips!
@ yella
Untuk mengitung jumlah karakter kan bisa menghitung di MS-Word lewat Tool-Word Count atau tekan Alt-TW
@ Achmad Sholeh
Insya Allah, pengalamanku bisa dibagi terus!
@ Rindu
Dulu saya sempat belajar 3 bulan untuk penulisan skenario di program Kelas Menulis di Rumah Dunia asuhan Gola Gong. Informasinya di http://www.rumahdunia.net
Belajar di sana per tiga bulan, dengan materi jurnalistik, fiksi, dan skenarion. Tak ada biaya sama sekali alias gratis….!
Alhamdulillah, beberapa jebolan dari Kelas Menulis ini sudah ada yang menghasilkan skenario untuk TV, termasuk untuk tayangan FTV Sinema Romantis di RCTI.
@ Zee
Biasa mas kalau ditolak naskahnya… saya pertama kirim naskah waktu kelas 3 SMA. Tapi baru diterima di majalah remaja, setelah lulus kuliah… Saya harus nunggu hampir lima tahun!
Sampai sekarang, tulisan saya juga masih banyak ditolaknya hehehe…
@ Daniel Mahendra
Terima kasih, kang Daniel. Akang pasti punya banyak pengalaman yang bisa dibagi-bagikan buat saya juga!
yupz…. tipsna aku suka…mudah dimengerti.,, hwe..jd mau nyoba…:)
yahks… makasih atas informasinya
“Sadar media”, wah istilah yang bagus banget, mas! saya paling sulit memahami “selera” redaktur Kompas. berkali-kali cerpenku ditolaknya, bahkans ekalipun belum pernah dimuat, haks…. agaknya selama ini saya tidak “sadar media”, yak?