Beberapa hari ini aku teramat melankolis. Aku tiba-tiba terkenang saat-saat aku masih berkutat dengan buku duduk manis di ‘Kelas Menulis’ Rumah Dunia untuk belajar jurnalistik, sastra, dan skenario film. Itu sudah terjadi sejak enam tahun silam, tepatnya sejak awal 2001. Saya masuk dalam angkatan bersenjata pertama. Saat ini Kelas Menulis sudah memasuki angkatan ke-12.
Saya teringat materi pertama di kelas ini.
Saat itu suhu menulis di Rumah Dunia yaitu Gola Gong, langsung memberi titah agar seluruh peserta kelas menulis membuat nama pena alias nama samaran. Ups, saya nggak nyangka dengan materi pertama ini. Awalnya saya kira di kelas menulis ini akan diajari dasar-dasar jurnalistik macem 5W+1H atawa bagaimana cara membuat alur, plot, karakter untuk cerpen. Ternyata materinya hanya diminta membuat nama pena!
Gong sih menyarankan agar nama pena itu UNIK, BERMAKNA, dan MUDAH DIINGET. Setelah beberapa menit, peserta langsung punya nama pena sendiri, Ibnu Adam Aviciena (aslinya Ade Jaya), ada Najwa Fadia (saya lupa nama aslinya, Korie Lawa (nama aslinya Endang Rukmana, penulis buku ML dan peraih Youth Writers Unicef Award), Muhzen Den (nama aslinya Deden), Rimba Alang-Alang (nama asli dari Rizal). Ada juga sih yang bikin nama pena hanya dengan menyingkat namanya, misalnya si Adkhilni Mudkhola Sidqi yang kemudian bikin nama pena menjadi Adkhilni MS.
Sementara aku sendiri memilih nama Qizink La Aziva. Aku sih ngerasa nama ini cukup unik, buktinya RITA nyangka nama ini adalah perpaduan antara Jepang dan Spanyol, padahal itu adalah perpaduan antara Jawa dan Arab, seperti yang saya jelaskan di sini. Uniknya lagi, saat melacak nama Qizink lewat om Google, maka yang muncul semunya masih terkait dengan diriku sendiri. Coba bandingkan kalo namanya misalnya nama penaku Soeharto, waduh… yang muncul pasti perihal orang klain juga.
Emang apa sih makna nama Qizink La Aziva itu? 
Begini, Qizink itu kalo dalam bahasa jawa (Kijing) artinya batu nisan sedangkan La Aziva aku ambil dari bahasa Arab yang artinya La Asyifa yang artinya bukan obat. Makna nama samaranku ini sebenarnya sebuah sindiran terhadap kondisi masyarakat, terutama di Banten yang masih memercayai takhayul dan gaib dengan menaruh banyak harapan pada kuburan-kuburan. Begitulah maknanya…
Apakah nama ini mudah diinget? saya tak tahu pasti jawabannya. Mungkin pembaca yang bisa menjawabnya?
Ini adalah pelajaran pertama ‘Kelas Menulis’. Saya usahakan pelajaran Kelas Menulis lainnya bisa terus dibagikan… CIAW (qizink)
10 Komentar
Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal
Tinggalkan komentar









Salam
Pertama ngeja aga belibet tapi its okay, really unique nick name
Waa..kupikir tadi dr bhs arab semua, ga nyangka ada hs jawanya. Nama yg bagus!
~salam kenal
Oh ya … bagus saja; Shakespiere berkata, apalah arti sebuah nama. Tap, jangan lupa nama adalah identitas.
nama qizink-nya itu yang bikin aku ndak bisa lupah, hehehe
tapi sempat juga terkecoh dengan qizink666 *kalau nggak salah* kalau saya sih hanya pakai nama tambahan tuhusetya aja, mas, hehehe
Qizink La Aziva memang unik sih, tetapi bermakna?? Sepertinya bagi yang tahu artinya Qizink dan Aziva aja hehehe….
Sedangkan mudah diingat?? Yah… sedang2 saja menurut saya, tidak terlalu mudah diingat walau tidak terlalu sukar diingat pula……
@ nenyok
yang penting kan gak salah eja
@ septy
tadinya sih mau pake bahasa jepang, tapi nggak mudheng
Ersis Warmansyah Abbas
Saya sih dipanggil apa saja gak masalah, yang penting gak dipanggil KEJAKSAAN
@ Sawali Tuhusetya
Saya sempat penasaran dengan qzink666 hehehe… soalnya hampir sama…
Nama sawali juga unik… saya cari di google cuma ada satu hehehe
@ Yari NK
moga2 aja sekarang jadi mudah diinget…
akhirnya terungkap juga arti dari namamu itu,kang.
dan jujur namamu mudah aku ingat.
salam
@ langitjiwa
Sengaja aku mengungkapkannya!
syukur kalau kamu bisa mengingatku,
sayang!salam
ahahahahahaha…..
wah ternyata nama samaran itu penting yah
ga pntng smuany,,
mndng pake nama asli,,
membawa barokah,,udah d fitrahin lg…