Sejumlah petani melakukan sweeping ke dalam gudang pupuk urea bersubsidi di PT Pupuk Sriwijaya Pemasaran Daerah Banten-DKI, Penancangan, Kota Serang, Senin (30/6).
Mereka ingin memastikan ketersediaan pupuk urea di gudang tersebut. Hal ini, dikarenakan hampir dalam sebulan terakhir ini para petani kesulitan mendapatkan pupuk urea.
Dalam sweeping, para petani merasa kesal dengan pihak PT Pusri karena di dalam gudang ternyata banyak pupuk. “Di kios-kios kosong, di gudang ternyata numpuk. Buat apa ditimbun di gudang, petani sekarang sedang butuh,” teriak Satibi, petani asal Kampung Dangdeur, Kelurahan Penancangan, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, di atas tumpukan pupuk.
Pria yang menggarap tiga hektar lahan pertanian ini mengungkapkan, sudah sebulan mencari pupuk urea bahkan hingga ke Cilegon. Namun pupuk yang dibutuhkan saat musim tanam seperti sekarang ini, sulit didapat di kios-kios pengecer. “Kalau begini terus, tanaman saya bakal tidak bagus hasilnya,” ungkapnya.
Bani, petani asal Kampung Suci, Desa terumbu, Kecamatan Kasemen, Kota Serang, juga mengungkapkan kekesalan. Dirinya kecewa karena ternyata pupuk menumpuk di dalam gudang PT Pusri sementara di pasaran sulit didapat. Ketua kelompok tani yang menggarap dua hektar lahan ini mengaku, petani membutuhkan pupuk karena sedang musim tanam. “Kita tidak minta gratis. Kita siap beli, tapi kenapa pupuk nggak ada di kios-kios. Saya sudah sebulan lebih cari di kios,” ujarnya seraya menyebutkan pada awal tanam ini dirinya membutuhkan sedikitnya 1 ton pupuk urea.
Sebelum melakukan sweeping, para petani melakukan unjukrasa di gerbang PT Pusri dengan didampingi para mahasiswa dari FAM dan Front Kebangkitan Petani Nelayan. Dalam aksi ini, mereka mempertanyakan kinerja PT Pusri dalam menyalurkan pupuk. Mereka menyebutkan, pada tahun 2007 Banten mendapatkan alokasi pupuk urea bersubsidi sebanyak 85 ribu ton. Namun oleh PT Pusri hanya disalurkan 64 ribu ton. Akibat tidak tersalurkannya alokasi pupuk tersebut alokasi pupuk Banten turun menjadi 74 ribu ton. Padahal kebutuhan pupuk di Banten mencapai 110 ribu ton. Thoyib Fanani, Ketua Asosiasi Pedagang Pupuk dan Pestisida Banten (AP3B) juga mengaku kesal dengan masalah pupuk. Dikatakan, dalam sebulan ini merasa kewalahan menghadapi keluhan petani. “Meraka harus menunggu dua sampai tiga minggu untuk mendapatkan pupuk. Pada Januari-Mei, Pusri belum sanggup menyalurkan 10 ribu ton pupuk,” ungkapnya.
Sementara itu, Iwan Rustandi, Bagian Pemasaran PT Pusri wilayah Provinsi Banten mengakui tentang tak tersalurkannya alokasi pupuk pada 2007 sebesar 21 ribu ton. “Itu karena PT Kujang di Karawang yang memproduksi pupuk mengalami kerusakan,” ujarnya.
Tentang persediaan pupuk saat ini, Iwan mengatakan, di gudang ada pupuk sebanyak 2 ribu ton yang segera disalurkan. “Besok (hari ini, red) akan kita salurkan,” janji Iwan. (qizink)

semoga tidak berkelanjutan. yang penting tidak anarkis. Hidup petani Indonesia
ini gara2 pupuk langka, harus ada solusinya agar tidak terulang kembali..
agaknya kegeraman petani sudah mencapai puncaknya, mas qizink, sehingga mereka terpaksa melakukan sweeping. saya juga ndak habis mengerti, kenapa para petani kita selalu saja tersandung masalah dan bernasib kurang beruntung, yak?
memang soal pupuk ternyata kompleks juga ya mas,,,dari ketersediaannya sampai pada distribusinya,,tapi bisa ga ya pemerintah daerah memberikan solusi jitu untuk masalah ini,,aku berharap sih bisa,…