[Cerita Rakyat] Pejabat = Babu

Negeri kita sudah lama menghambur-hamburkan eufimisme agar dinilai sebagai negeri yang beradab. Pelacur kita sebut sebagai pekerja seks komersial (PSK), ‘penahanan’ disebut ‘diamankan’, pedagang yang melanggar ketertiban disebut Pedagang Kaki Lima (PKL), de el el.

Eufimisme emang sah-sah saja. Tapi kadang-kadang eufimisme ini membuat orang yang dijulukinya ngelunjak atau kurang ajar. Seorang pelacur misalnya ngotot mempertahankan statusnya dengan dalih sebagai pekerja. Begitu juga PKL, atas nama HAM untuk mencari nafkah mereka ngotot walaupun itu melanggar ketertiban…..

Lha… ini apa dengan judul tulisan ini…?

Begini, pejabat kita selama ini sudah lama mendapatkan eufimisme untuk menghormati status sosial mereka, dengan sebutan pamong praja, wakil rakyat, abdi negara (emangnya yang mengabdi buat negara itu cuma pejabat) de el el. Akibatnya posisi mereka sangat terhormat sekali. Saking terhormatnya, posisi pejabat ini melebihi posisi rakyat. Padahal mereka itu hakikatnya adalah pelayan buat masyarakat.

Anggota legislatif itu wakil rakyat. Artinya yang punya posisi utama adalah rakyat. Jadi anggota dewan jangan sok deh di depan rakyat. Apalagi sampai bikin kebijakan yang nyakitin rakyat.

Eksekutif itu abdi masyarakat, abdi rakyat yang bertugas memberikan pelayanan prima buat masyarakat. Makanya pejabat di dinas-dinas jangan suka cemberut dong kalau tuannya (rakyat) datang untuk minta dilayani.

Yudikatif juga sama. Mereka itu kudu memberikan perlindungan buat masyrakat. Masak sih aparat penegak hukum malah mentungin jidat rakyat.

Para pejabat itu kan digaji tuannya (rakyat), melalui pajak, retribusi, de el el. Sungguh sangat kurang ajar sekali kalau para pejabat itu bersikap berlebihan di depan rakyat. Kalau pejabat terus-terusan kurang ajar pada tuannya, kita sebagai tuan juga bisa aja kurang ajar sama mereka. Kalau perlu supaya pejabat ini tidak kurang ajar, kita sebut saja pejabat ini sebagai Babu Rakyat. Kan babu juga sama artinya dengan pelayan atau abdi. Tapi dengan menyandang sebagai babu, saya yakin mereka nggak bakalan betingkah.

Sekali lagi, buat para pejabat… anggap saja ini cerita rakyat saya selanjutnya. Sebagai tuan saya amat gerah melihat tingkah anda. Kalau babu kayak inem yang ngepel sambil goyang bokong sih masih mending, tapi kalian…. aduh… nggak deh!! (qizink)

 

3 Komentar

  1. barangkali perlu digalakkan kembali sanksi sosial bagi penjahat sosial. ada ide untuk membuatnya berjalan kembali?

  2. wiih..kang kok nyolot amat tulisannya..ada pengalaman burukkah dengan pejabat?

  3. @ bumisegoro
    Sanksi moral aja buat penjahat sosial seperti itu… :D

    @ ikaikaika
    wihh… ada ‘ibu pejabat’ nih! Sering banget ngadepin pejabat yang suka bikin saya nyolot teh! Tapi kalau ke ‘ibu pejabat’ yang satu ini saya nggak nyolot koq!!! Peace deh… ini juga kan cuma cerita rakyat….


Komentar RSS Lacak Balik URI Pengenal

Tinggalkan komentar