Catatan Puisi Masa Lalu

MERINDUKANMU

malam dengan hujan mendarat
pada lembar kertas beku
kulukis wajahmu pada sampul surat
dengan garis angin deru

senandung ricik tanah basah
aku resah
merindukanmu

Anyer, 21 01 03

PAYUNG HITAM
ada rimis di luar sana
mengiringi matahari ingsut
ke beranda senja

lalu,
dari balik kelambu
kita kembali mengenang
payung hitam dan tangisan

Anyer, 21 Nov 2002
MEMANDANG REMBULAN

waktu hujan mereda
ada wangi kemuning
bersama sisa angin mendera

lewat jeruji jendela
kita memandang rembulan
dengan kilau mata kucing

maka jadilah kita,
serangga yang bercinta!

Anyer, 21 Nov 2002

 

KERAGUAN

aku kembali ragu
merangkai putik melatimu
yang sempat luruh di jambang waktu

Anyer, 21 Nov 2002
SENANDUNG SUNYI

Demi kesempurnaanku
kembalikan sepotong rusukku
yang kau curi dari ruang sunyiku

Hawa,
Anyer, 21 November 2002

KETIGAPULUH SATU

inilah januari,
matahari sisip di balik bilik
pada senja ketigapuluh satu

air yang merembes di jingga pipimu
rasa asin musim penghujan

“aku rindu cahaya,”
katamu di tepi jendela

lalu kau buka tirai susumu yang mulai mendingin
angin mendesah, daun-daun bergoyang, burung kicauan
hujan tak juga mereda

gaun merah penutup wajah,
bau ketiak suara serak,
lembah basah, lembab, anyir, desir
berharap malam tak terlalu gelap

kau cari biji rembulan
di sela selangkangan.
Anyer,31 01 03

 

1 Komentar sejauh ini

  1. langitjiwa on Mei 18, 2008

    kang, ngelink hiji puisi nu diatas mau ditaruh diblog abdi. boleh?

    @ langitjiwa
    bolehhhh…..

Leave a reply