Arsip | Mei, 2008

Penjabat Walikota Tak Punya Hak Pilih

30 Mei

Penjabat Walikota Serang Asmudji HW dipastikan tak akan mencoblos pada pilkada Kota Serang, Agustus mendatang. Asmudji tak akan memilih calon walikota/wakil walikota Serang bukan karena tak punya pilihan, tapi karena tak punya hak pilih. “Supaya masyarakat tak bertanya-tanya kenapa saya tak memilih, saya harus informasikan bahwa saya tak punya hak pilih karena bukan warga Kota Serang. Di KTP saya masih tercatat sebagai warga Kabupaten Pandeglang,” terang Asmudji, di Pemkot Serang, Kamis (28/5).

Pria yang sementara tinggal di rumah dinas di kawasan Ciceri, Kota Serang ini mengaku, dirinya memang sempat didatangi petugas pendataan pemilih. Pada saat itu, dirinya langsung menolak untuk didata dengan menyebutkan dirinya tak tercatat sebagai warga Kota Serang. “Kalau sampai tercatat, ini akan melanggar aturan. Karena yang berhak menggunakan hak pilih, harus warga Kota Serang,” ujarnya.

Walau tak memiliki hak pilih, sebagai kepala daerah pemekaran, Asmudji menegaskan, agar masyarakat bisa menggunakan hak pilihnya. Dikatakan, Pemkot Serang telah berupaya melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk menyukseskan pilkada Kota Serang dengan cara berpartisipasi dalam menggunakan hak pilihnya. “Rata-rata pelaksanaan pilkada di daerah-daerah hanya berkisar 65 persen dari total pemilih. Saya berharap, pada pilkada Kota Serang minimal bisa mencapai 90 persen,” ujarnya.

Pada sisi lain, Asmudji menegaskan, pelaksanaan pilkada Kota Serang yang jatuh pada Sabtu (30 Agustus) nanti akan ditetapkan sebagai hari yang diliburkan. “Karena dalam aturan, pelaksanaan pilkada memang harus pada hari libur atau yang diliburkan,” ujarnya.

Diinformasikan, jumlah pemilih tetap pada pilkada Kota Serang tercatat sebanyak 338.998 orang.

Para pemilih tetap itu berasal dari Kecamatan Serang sebanyak 123.844, Kasemen 52.198, Walantaka 45.384, Curug 30.207, Cipocok Jaya 42.974, dan Taktakan 44.391. Sementara pemilih berjenis kelamin laki-laki sebanyak 172.192 dan perempuan 166.806. (qizink/ila)

 

[Cerita Rakyat] Baru Calon Koq Bikin Repot

29 Mei

Selama enam bulan ini, saya kerap memerhatikan kinerja Penjabat Walikota Serang Asmudji HW. Dengan dikasih waktu jabatan cuma setahun, saya melihat pejabat yang satu ini nggak neko-neko banget. Untuk kendaraan dinas, ia cuma dapet pinjaman mobil Altis. Padahal untuk pejabat setingkat kepala daerah, biasanya jenis Camry.

Pergi kemana-mana, ia tak pernah dikawal ajudan atau petugas protokoler. Bahkan kalau punya waktu luang, ia memilih membawa sendiri kendaraan dinasnya. Apalagi untuk mopbil pengawal, ia paling ogah. “Saya sering dengar masyarakat suka ngedumel, kalau ada iring-iringan pejabat. Karena jalanan biasanya jadi tambah macet,” ungkap Asmudji beralasan.

Saya pernah melihat Asmudji dengan santai melenggang sendirian dari kantornya ke masjid di belakang kanwil Pelayanan Pajak Banten untuk melaksanakan shalat Jum’at. Padahal saat itu, sopirnya sudah dalam posisi siap untuk mengantarkannya ke masjid. tapi Asmudji malah memilih jalan kaki ke masjid yang jaraknya hanya sekitar 500 meter tersebut.

Pemandangan Asmudji yang serba bersahaja ternyata berbanding terbalik dengan sejumlah calon walikota Serang yang akan bertarung pada pilkada mendatang. Saya beberapa kali menyaksikan, para calon ini diiringi para pendukungnya untuk unjuk kekuatan hingga menimbulkan kemacetan lalu lintas. Bahkan pada saat baru mendaftar ke KPU Serang pun, para bakal calon ini udah pamer kekuasaan dengan dikawal aparat kepolisian dan arak-arakan massa hingga menutupi ruas jalan hingga  mengganggu arus lalu lintas.

Dengan kondisi ini saya sering ngedumel, mereka itu baru calon walikota saja koq sudah bikin repot masyarakat. Apalagi kalau nanti sudah terpilih… :D

sekali lagi, ini hanya cerita rakyat yang sangat berharap calon pemimpinnya punya sedikit nurani dan kepekaan… (qizink)

 

 

 

 

Gaji Guru Relawan Rp 50 Ribu

29 Mei

Gaji untuk seorang guru berstatus tenaga relawan memprihatinkan. Sejumlah guru relawan di Kota Serang mengaku mendapatkan penghasilan Rp 50 ribu- Rp 150 ribu per bulan. “Uang itu tidak dari anggaran APBD atau APBN tapi dari sekolah karena SK kita juga hanya berasal dari kepala sekolah” terang Ujang Arifin, Ketua Forum Komunikasi Guru Honorer (FKGH) saat beraudiensi dengan Pemkot Serang, di Aula Sekretaris Kota Serang, Rabu (28/5).

Dengan gaji yang minim, terang Ujang, sebagian besar guru tenaga honorer harus mengajar di berbagai sekolah untuk mendapatkan tambahan penghasilan.

Ahmad Benbela, Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Serang, menegaskan, saat ini Pemkot Serang belum bisa memberikan perhatian lebih untuk meningkatkan penghasilan mereka karena keterbatasan anggaran yang dimiliki. “Kalau anggaran sudah mencukupi, tentu Pemkot Serang akan memberikan perhatian,” ujarnya.

Tentang masalah status mereka, Benbela menegaskan, terhitung sejak 1 Januari 2006 hingga 2009, pemerintah daerah tidak lagi diperkenankan untuk mengangkat tenaga kerja kontrak (TKK) agar bisa diangkat menjadi CPNS. (qizink)

 

 

Di Rumah Ini

28 Mei

: Untuk Kafka Vidar Islamy

 

di rumah ini

kita menuliskan nama anak kita

di depan gerbang

 

di rumah ini

kita dongengkan anak kita

tentang orang utan di gunung sana

 

di rumah ini

kita menatapi sepiring rembulan

sambil melafalkan harap

esok matahari masih setia menyinari

 

di rumah ini

kita mencatatkan arah mata angin

menggambar segala rupa

dalam buku bersama

 

di rumah ini

kita membangun kata

dengan cinta

 

Banten, 28 Mei 2008

Salam Buatmu

28 Mei

salam buatmu wahai kekasih

rindu ini telah teramat dalam

berharap peluk wangi kasturi tubuhmu

 

salam buatmu wahai kekasih

betapa resah hamba ini mendamba

kasihmu tak terhingga

 

salam buatmu wahai kekasih

dari maha cinta di jiwa 

 

Banten, 28 Mei 2008

[Cerita Rakyat] Pejabat = Babu

27 Mei

Negeri kita sudah lama menghambur-hamburkan eufimisme agar dinilai sebagai negeri yang beradab. Pelacur kita sebut sebagai pekerja seks komersial (PSK), ‘penahanan’ disebut ‘diamankan’, pedagang yang melanggar ketertiban disebut Pedagang Kaki Lima (PKL), de el el.

Eufimisme emang sah-sah saja. Tapi kadang-kadang eufimisme ini membuat orang yang dijulukinya ngelunjak atau kurang ajar. Seorang pelacur misalnya ngotot mempertahankan statusnya dengan dalih sebagai pekerja. Begitu juga PKL, atas nama HAM untuk mencari nafkah mereka ngotot walaupun itu melanggar ketertiban…..

Lha… ini apa dengan judul tulisan ini…?

Begini, pejabat kita selama ini sudah lama mendapatkan eufimisme untuk menghormati status sosial mereka, dengan sebutan pamong praja, wakil rakyat, abdi negara (emangnya yang mengabdi buat negara itu cuma pejabat) de el el. Akibatnya posisi mereka sangat terhormat sekali. Saking terhormatnya, posisi pejabat ini melebihi posisi rakyat. Padahal mereka itu hakikatnya adalah pelayan buat masyarakat.

Anggota legislatif itu wakil rakyat. Artinya yang punya posisi utama adalah rakyat. Jadi anggota dewan jangan sok deh di depan rakyat. Apalagi sampai bikin kebijakan yang nyakitin rakyat.

Eksekutif itu abdi masyarakat, abdi rakyat yang bertugas memberikan pelayanan prima buat masyarakat. Makanya pejabat di dinas-dinas jangan suka cemberut dong kalau tuannya (rakyat) datang untuk minta dilayani.

Yudikatif juga sama. Mereka itu kudu memberikan perlindungan buat masyrakat. Masak sih aparat penegak hukum malah mentungin jidat rakyat.

Para pejabat itu kan digaji tuannya (rakyat), melalui pajak, retribusi, de el el. Sungguh sangat kurang ajar sekali kalau para pejabat itu bersikap berlebihan di depan rakyat. Kalau pejabat terus-terusan kurang ajar pada tuannya, kita sebagai tuan juga bisa aja kurang ajar sama mereka. Kalau perlu supaya pejabat ini tidak kurang ajar, kita sebut saja pejabat ini sebagai Babu Rakyat. Kan babu juga sama artinya dengan pelayan atau abdi. Tapi dengan menyandang sebagai babu, saya yakin mereka nggak bakalan betingkah.

Sekali lagi, buat para pejabat… anggap saja ini cerita rakyat saya selanjutnya. Sebagai tuan saya amat gerah melihat tingkah anda. Kalau babu kayak inem yang ngepel sambil goyang bokong sih masih mending, tapi kalian…. aduh… nggak deh!! (qizink)

 

[Cerita Rakyat] Leher Paling Seksi

26 Mei

Tahukah Anda, siapakah yang punya leher paling seksi? Apakah Julia Robert, Tamara, Krisdayanti, atau artis lainnya…. ? hmmm… :)

Kalau aku sih punya penilaian sendiri, yang punya leher seksi adalah RAKYAT… ya R-A-K-Y-A-T… Ah, pasti Anda kira saya sedang becanda… Tidak, saya sedang tidak bercanda…. saya bersungguh-sungguh (walau tak bersumpah) bahwa leher rakyat itu seksi… buktinya leher rakyat selalu dianggap memikat oleh penguasa kita untuk dicekik, atau dihisap darahnya oleh ‘drakula’ penguasa… kapan saja, di mana saja, leher rakyat selalu nikmat untuk disantap sang penguasa….

Siapa sih RAKYAT?

Rakyat itu orang biasa. TITIK! Pekerjaannya aja cuma sederhana yaitu BERKORBAN. Dari jaman baheula hingga jaman ayeuna , rakyat hanya bertugas untuk berkorban. Di jaman penjajahan, rakyat berkorban mati-matian (hingga mati beneran) untuk mendapatkan kemerdekaan. Setelah merdeka, rakyat juga berkorban untuk pembangunan. Harta dan harga diri mereka sampai rela dikorbankan oleh pemerintah untuk pembangunan. saat ini, saat negara bangkrut karena APBN nggak empot-empotan menghadapi serangan tingginya harga minyak mentah, rela juga berkorban. Mereka rela subsidi BBM dikurangi, hingga harga BBM melambung tinggi. Mereka rela buat menyelamatkan kebangkrutan negara dengan pasrah membeli sembako yang semakin mahal.

Koq rakyat sih yang berkorban, kenapa tidak para pejabat yang sudah kaya raya??? Anak yang nggak lulus SD saja tahu kalau pejabat kita emang mau enaknya doang! Rakyat diminta berkorban untuk berhemat, sementara mereka menghambur-hamburkan uang. Mana mau mereka berkorban, misalnya tak lagi beli bahan bakar dengan dibiayai negara, tak lagi menjamu tamu berlebihan di hotel mewah, tak lagi dijamin dana tunjangan komunikasinya, tak lagi dijamin rumah dinasnya…..

mereka sudah sangat kelewatan, jadi jangan berharap pejabat kita itu akan berkorban… mereka itu sudah lupa diri, karena tak tahu bahwa status mereka itu adalah wakil RAKYAT atau abdi masyarakat yang seharusnya melayni masyarakat…. bukannya malah memaksa rakyat untuk terus berkorban….

Maaf, kepada para pejabat… ini hanya igauan saya! Anggap saja ini hanya cerita rakyat atau dongeng sebelum tidur saja… maklum saja leher saya tidak terlalu seksi dan kuat buat menahan pegal-pegal ini… sekarang saya mau tidur dulu peace deh ah! :D (qizink)

sumber gambar : http://www.ovationtv.com

 

Waspadai Praktik Curang Sertifikasi Guru

26 Mei

Praktik curang proses sertifikasi tenaga pendidik patut diwaspadai. Sebab ini dapat merontokkan wibawa dunia pendidikan.

Asmuni Mth, MA, guru besar Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, tidak menampik sempat mengendus praktik curang guru dalam uji sertifikasi. “Sempat pula terendus praktik culas oknum guru dalam uji sertifikasi yang melakukan pemalsuan sertifikat agar bisa lolos sertifikasi. Mereka mencari celah agar memenuhi syarat undang-undang,” ungkap Asmuni, pada seminar pendidikan yang diselenggarakan UII Cabang Serang, di gedung Korpri Serang, Minggu (25/5).

Ia mencontohkan, sertifikasi yang mengharuskan menyandang gelar sarjana atau diploma IV, diakali dengan cara kuliah di perguruan tinggi yang tak jelas, baik status dan kualitasnya. “Yang penting ijazah ada di tangan. Bahkan mereka juga kerap mendatangi ‘pabrik’ gelar pascasarjana untuk mendapatkan gelar S2 karena penyandang S2 dapat poin tinggi,” ungkapnya.

Di hadapan ratusan mahasiswa pascasarjana UII Cabang Serang yang mengikuti seminar ini, Asmuni menegaskan, praktik curang dalam sertifikasi guru harus dihentikan. Menurutnya, praktik curang tersebut akan menciderai wibawa guru serta semakin menjauhkan guru dari standar mutu dan kualitas yang diharapkan. “Ngeri kita membayangkan, bagaimana output pendidikan yang dihasilkan oleh okunum guru bermental culas tersebut,” jelasnya.

Untuk mewaspadai praktik curang ini, Asmuni mengingatkan, perguruan tinggi sebagai wahana pendidikan harus menyiapkan aturan, metode, dan strategi pendidikan untuk meningkatkan mutu dan kualitas guru. “Dalam UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional ditegaskan perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Sehingga perguruan tinggi memiliki tanggung jawab dalam menghasilkan guru berkualitas,” ujarnya.

Di tempat terpisah, menanggapi dugaan kecurangan yang dilakukan guru-guru peserta ujian sertifikasi, Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Provinsi Banten Eko E Koswara menyatakan, jika hal itu terjadi dan ditemukan maka kewenangan memberikan sanksi ada pada Dinas Pendidikan kabupaten/kota. Sebab, yang memiliki guru adalah kabupaten/kota. “Tapi sebelum diungkap dicari dulu kebenarannya,” tegas Eko, tadi malam. Ditambahkan, sejauh ini Dindik Provinsi belum pernah menerima laporan terkait kecurangan yang dilakukan guru di Banten dalam mengikuti ujian sertifikasi guru. (qizink/ila)

 

 

Didin Bagito Mundur Jadi Calon Wakil Walikota

26 Mei

SERANG-Berakhirnya masa penyerahan syarat dukungan pada Minggu (25/4) pukul 24.00 WIB, sejumlah calon perseorangan yang telah mengambil formulir di KPU Serang akhirnya mengundurkan diri.  Mereka tidak sanggup untuk mendapatkan dukungan masyarakat sebanyak 20.140 yang dibuktikan dengan tanda tangan warga dan kartu tanda penduduk (KTP) sebagai syarat pencalonan dalam Pilkada dari jalur perseorangan.

Bakal calon wakil walikota dari perseorangan Tb Zainal Abidin yang akrab dipanggil Didin Bagito, secara tegas menyatakan pengunduran dirinya. “Saya minta maaf karena tidak bisa memenuhi harapan masyarakat,” terang Didin, saat dihubungi lewat telepon genggam, Minggu (25/5).

Saat mengambil formulir pendaftaran di KPU Serang, Didin berpasangan dengan Didi Sunardi. Saat itu, Didin mengaku semangat karena proses calon perseorangan merupakan yang pertama kali di Indonesia. Sehingga dirinya ingin ikut berperan dalam pembelajaran politik melalui perseorangan. “Saat awal mencalonkan masyarakat cukup antusias, sudah hampir 10 ribu dukungan datang dari masyarakat,” jelasnya.

Namun seiring perjalanan waktu, kata Didin, proses pencarian dukungan ternyata membutuhkan energi yang sangat besar. “Untuk satu KTP saja sampai ada yang menawarkan dari Rp 20 ribu sampai Rp 50 ribu. Saya pikir, awalnya tim yang mengajak saya sudah siap, ternyata tidak. Maka saya putuskan untuk mengundurkan diri,” ungkapnya.

Hal serupa juga dikatakan Isbandi, bakal calon wakil walikota dari jalur perseorangan. Isbandi juga mengaku, kesulitan untuk mendapatkan dukungan warga karena waktunya yang mepet. “Ternyata butuh proses dan waktu panjang,” ujarnya.

Isbandi mengatakan, ketidaksanggupan timnya juga karena calon perseorangan dalam Pilkada baru kali pertama dilaksanakan sehingga butuh persiapan matang dan terencana. Menurutnya, calon perseorangan tidak dapat dilakukan dengan setengah hati. “Harus dilakukan dengan total karena mencari dukungan calon perseorangan punya efek hukum. Yaitu bila memberikan keterangan palsu akan dipidana,” tandasnya.

Selain Didin dan Isbandi, kemungkinan calon perseorangan yang mengundurkan diri adalah pasangan Hamdan-Anizir Ali Murad. Isbandi mengaku, juga mendapat informasi pasangan Hamdan-Anizir mundur. “Saya dengar seperti itu,” ujarnya.

Sementara Anizir saat dikonfirmasi tidak menjawab. Beberapa kali dihubungi lewat telepon genggam tidak menjawab meski nada masuk. Sementara Hamdan tidak dapat dihubungi karena telepon genggamnya dalam keadaan mailboks. (alt/qizink)

Kapan Nulis Lagi?

25 Mei

“kapan nulis lagi?”

kalimat ini seringkali aku dengar dari teman-teman di Rumah Dunia, termasuk juga dari teman-teman wartawan, dan ‘alumnus’ cybersastra.

Apakakah aku memang sudah tidak menulis? kegiatan menulis secara umum masih tetap aku lakukan. Bahkan tiada hari tanpa menulis… wong kerjaku aja nulis berita hampir setiap hari. ditambah dengan nulis di blog. terus apa maksud teman-temanku yang menanyakan kapan aku menulis lagi?

Memang, sejak melahirkan novel ‘Gerimis terakhir’ di Dar! Mizan, aku tak lagi melahirkan buku. Sementara teman-temanku yang lain seperti Endang Rukmana, hampir setiap tahun melahirkan buku. Sementara aku, sudah lima tahun ini tak lagi mengandung untuk melahirkan sebuah buku. Paling terakhir aku nulis untuk kumpulan cerpen bersama berjudul ‘Harga Sebuah Hati’. Aku memang sudah rindu, untuk bercumbu dengan kata-kata dan kemudian melahirkannya. Gola Gong, suka menyindir tentang kemandulanku ini sebagai sebuah kutukan atas judul bukuku. “Kamu pake judul Gerimis Terakhir sih, makanya itu jadi novel terakhirmu.”

Ah… tentu saja, aku tak percaya dengan kutukan itu… aku akan nulis lagi…. nulis lagi….!!! Aku tak ingin punya anak cuma satu, aku ingin rumahku ramai dengan anak-anak hasil percumbuanku!!!!

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.