Arsip | Juli, 2007

Orkes Sakit Hati Di Pentas Pilgub

25 Jul

Kawanku yang awam dunia politik selalu enggan jika diajak untuk menghadiri kampanye, baik untuk kampanye pemilihan anggota legislatif, pemilihan kepala daerah (pilkada), pemilihan kepala desa (pilkades), bahkan pemilihan RT sekalipun. Begitupun ketika saya memintanya untuk meluangkan waktunya untuk menghadiri kampanye pemilihan gubernur (pilgub) Banten mendatang. Ia akan dengan tegas menolak setiap ajakan menyaksikan kampanye, baik kampanye terbuka maupun tertutup.
Kawanku beralasan, tanpa menghadiri pun dirinya bisa mengetahui isi materi yang dikampanyekan. Menurutnya, materi kampanye tak pernah berubah dari masa ke masa. Kampanye di pentas pilgub ibarat sebuah orkes yang nadanya selalu sama, misalnya mensejahterakan rakyat, pendidikan murah, menciptakan lapangan kerja, atau jaminan investasi. Kalau materinya selalu sama lantas untuk apa berpanas-panasan menghadiri kampanye, begitu temanku selalu beralasan.
Kawanku ini hanya sebagian kecil dari sekian banyak masyarakat yang sakit hati dengan orkes yang dimainkan para calon di pentas pemilihan. Mereka tentu saja sakit hati, karena pentas pemilihan yang semestinya bisa membawa perubahan ternyata hanya ajang pemutaran lagu-lagu lama. Bagaimana mungkin ada perubahan, kalau janji yang disampaikan dalam kampanye tetap sama. Kawanku berkelakar, kampanye tak ubahnya pedagang yang menjual kecap. Mereka berlomba-lomba menawarkan produknya dengan mencap bahwa kecap mereka sebagai kecap nomor satu. Biar beda gayanya, tetap saja produknya sama, yakni hitam dan cair.
Analisa kawanku yang awam ini memang tak salah. Kita kerap menyaksikan para tokoh dalam pemilihan selalu mengkampanyekan isu yang sama. Sehingga walaupun bendera partai pengusung mereka berbeda, janji-janji politik yang mereka utarakan dalam pentas kampanye akan selalu sama. Calon dari partai nasionalis atau demokrat akan mengangkat isu pendidikan, kesejahteraan, lapangan pekerjaan, dan peningkatan investasi, dengan semangat nasionalisme atau demokrasi. Begitupun dengan partai berlandaskan agama, akan mengangkat isu serupa. Agar lebih menarik, materi kampanye itu dibumbui dengan dalil-dalil agama yang sudah dihapalnya di luar kepala.
Para calon dalam setiap pemilihan seperti kurang kreatif untuk mengangkat isu-isu menarik dalam setiap kampanyenya. Mereka hanya mengangkat janji-janji kampanye yang melambung. Tak ada misalnya, seorang calon yang dalam kampanyenya mengangkat isu akan membuat sebuah gedung perpustakaan representatif untuk menarik para pemilih dari kalangan pecinta buku, berjanji membuat gedung pertunjukkan seni untuk menarik hati para pemilih dari kalangan seniman.
Nada kampanye yang serupa itu tentu saja akan sangat membosankan bagi para pendengarnya. Apalagi jika nada kampanye itu hanya berupa suara yang tak jelas juntrungannya, karena janji yang dilontarkan dalam kampanye tak pernah ditepati.
Menurut kamus Webster yang saya peroleh, kampanye atau campaign adalah a connected series of operations designed to bring about a particular result (maafkan saya dengan kutipan bahasa asing ini), yaitu serangkaian operasi yang didisain untuk memunculkan hasil tertentu. Kampanye ini biasanya timbul berkaitan dengan masih adanya bias, permasalahan, atau penyimpangan yang terjadi di lapangan di mana berbagai fenomena belum berjalan sesuai dengan harapan. Dalam konteks berpartai politik berkampanye berarti masih adanya peluang untuk meningkatkan lagi potensi suara. Untuk meningkatkan jumlah suara ini, para calon yang berkampanye dipastikan akan mengobral janji untuk menarik hati para pemilih. Tapi janji-janji manis itu tentu saja akan pahit dan membuat sakit hati, bila janji itu tak ditepati.
Hingga saat ini memang belum ada aturan yang melarang seseorang berkampanye atau berjanji di pentas pemilihan. Bahkan kampanye merupakan bagian tahapan dari sebuah proses pemilihan. Tapi berdasarkan ajaran agama yang saya yakini, janji merupakan utang. Dan utang wajib hukumnya dibayar. Kalau tak dibayar, maka sanksinya adalah hukum yang maha berat di akhirat. Pada sebuah sinetron di televisi swasta yang pernah saya tonton, ada seseorang yang meninggal dunia dengan lidah yang selalu menjulur dan mata melotot gara-gara sering mengingkari janji. Maka saya ingin sekedar mengingatkan (bukan menakut-nakuti) kepada para calon gubernur atau wakil gubernur yang hendak berkampanye tidak usah muluk-muluk mengumbar janji kalau memang tak bisa ditepati, karena bisa saja nasib yang menimpa tokoh dalam sinetron itu menimpa kalian.
Pengingkaran terhadap janji kampanye di pentas pemilihan juga bisa menimbulkan kekecewaan bagi para pemilih. Para pemilih akan bersikap apatis terhadap pemerintah. Olehkarenanya sebelum janji-janji kampanye dipentaskan, saya ingin mendendangkan sebuah lagu dari Slank yang berjudul Orkes Sakit Hati. Harapan saya, lagu ini bisa mengingatkan kita semua, untuk tidak ingkar terhadap janji.

Jangan kau kecewakan aku lagi
Aku enggak mau menderita lagi
Kalau ingkari janji

Aku nggak mau kebawa emosi
Jangan biarkan aku sakit hati
Karena ingkari janji

Cinta dan kepercayaan yang ku berikan
Jangan sampai kamu sia-siakan
Dengan ingkari janji

Jangan-jangan kau bohongi aku lagi
Banyak bicara cuma basa-basi
Coba ingkari janji

Semua yang kau inginkan s’lalu ku beri
Kulakukan semua walau sampai mati
Jangan ingkari janji

Kebebasan yang kamu dapatkan
Bukan jadi kamu boleh sembarangan
Kamu sudah berjanji
Jangan ingkari janji

Mending jangan berjanji. (***)

Ubrug, Dari Hiburan Hingga Penyampai Pesan

25 Jul

Hingga kini belum ada catatan resmi tentang pencipta dan tahun awal kemunculan kesenian ubrug di Banten. Namun menurut Tisna Sopandi (bulletin Kebudayaan Jawa Barat ‘Kawit’ No 22 tahun 1980) , kesenian rakyat ini sudah ada di Banten sebelum tahun 1918. Hal ini dibuktikan adanya pengakuan pimpinan Topeng Banjet (Bang Jiun) yang menyatakan, sebelum 1918 kesenian yang dipimpinnya berasal dari ubrug.
Sedangkan istilah ubrug berasal dari bahasa Sunda ‘sagebrugan’ yang berarti campur aduk dalam satu lokasi. Ini memang menggambarkan unsur-unsur kesenian ubrug, seperti pemain, nayaga, dan penonton yang tumplek dalam satu lokasi. Pertunjukan ubrug memang cukup sederhana dan bisa dilakukan di mana saja. Bahkan tak jarang seniman ubrug bisa pentas tanpa dekorasi dan panggung sekalipun. Mereka bisa pentas di tanah lapang dengan arena pertunjukan berbentuk tapal kuda, penonton mengelilingi tempat permainan. sehingga penonton bisa menyaksikannya dari berbagi sudut. Kedekatan antara pemain dengan penonton ini memungkinkan pertunjukkan menjadi semakin menarik.
Kesenian ubrug termasuk teater rakyat yang memadukan unsure lakon, musik, tari, dan pencak silat. Semua unsur itu dipentaskan secara komedi. Di masa lalu, ubrug biasanya pentas pada acara hajatan. Mereka dipanggil oleh orang yang punya hajat dan dibayar untuk pertunjukkan yang dilakukan. Sedangkan para penonton tidak dipungut bayaran. Sudah menjadi kelaziman, kelompok kesenian ubruf di Banten menggunakan nama pimpinan atau tokoh ternama dari kelompoknya sebagai nama kelompok ubruk, misalnya ubrug Baskom, Tolay, Kobet, Nyi Ponah, Mang Cantel, Si Jari, Rasim, Kasnadi, dan sebagainya. Bahasa yang digunakan dalam pementasan, terkadang penggabungan dari bahasa Sunda, Jawa, dan Melayu (Betawi). Alat musik yang biasa dimainkan dalam pemenetasan adalah gendang, kulanter, kempul, gong angkeb, rebab, kenong, kecrek, dan ketuk.
Seperti umumnya bentuk kesenian, ubrug juga memiliki fungsi estetik dan sosial. Kesenian yang hingga kini masih ada di sejumlah daerah di Banten ini, masih tetap menjadi sarana hiburan bagi sebagian masyarakat. Dengan gaya komedinya, baik pada dialog dan akting, para seniman ubrug bersaing menghibur masyarakat di tengah gempuran segala seni modern. Sementara secara sosial, ubrug merupakan potret pemersatu masyarakat. Selain itu, lakon-lakon yang dipertunjukkan dalam ubrug juga bisa menjadi sara penyampai pesan-pesan bijak sesuai dengan kejadian yang ada di masyarakat. (qizink la aziva)

Speelwijk, Sisa Kejayaan Belanda Di Ranah Sultan

25 Jul

Senja belum habis, ketika saya tiba di Benteng Speelwijk, di Kampung Pamarican, Desa Banten, Kecamatan Kasemen, akhir pekan silam. Tak sulit untuk sampai ke Speelwijk. Dari pusat Kota Serang, wisatawan yang hendak berwisata ke Benteng Speelwijk dapat menempuhnya dengan angkutan kota dengan jurusan Karangantu-Banten. Dari pasar Karangantu, wisatawan bisa melanjutkan perjalananya dengan menaiki ojek atau becak. Bagi pemilik kendaraan pribadi, selain melalui jalur Kota Serang, lokasi ini bisa ditempuh lewat jalur Kramatwatu. Sayangnya, jalan di jalur ini kurang mulus. Tapi wisatwan yang melewati jalur ini, bisa dihibur dengan beragam pemandangan yang cukup indah untuk berekreasi serta melintasi beberapa situs peninggalan Kesultanan Banten, seperti Danau Tasikardi atau tempat pengolahan air yang disebut pangindelan.
Suasana di benteng peninggalan kejayaan penjajah Belanda itu tampak sepi. Hanya ada beberapa anak kecil warga kampung setempat yang sedang asik bermain sepeda di sekitar bangunan yang berada di sebelah utara Masjid Agung Banten ini dengan jarak sekitar 500 meter. Tanah luas berumput di tengah benteng, dijadikan warga setempat sebagai lapangan bola dengan gawang dari bambu. Lapangan itu tampak lengang. Tak ada warga yang beraktifitas di sana. Di sekeliling benteng ini terdapat sejumlah makam orang-orang Eropa, terutama bangsawan dan prajurit penjajah yang tewas melawan laskar Kesultanan Banten. Sebagian makam ini tampak sudah rusak. Makam-makam dengan arsitektur Eropa, mempertegas benteng ini sebagai sisa kejayaan penjajah Belanda di ranah Banten. Yang menarik, ada sebuah makam dengan nisan bertuliskan angka 1769. Jika angka itu menunjukan usia kematian jenazah di dalam makam, maka usia makam itu sudah mendekati 3 abad!
Memasuki areal benteng, saya melewati terlebih dahulu sebuah jembatan yang melintasi sungai Cibanten. Dari jembatan ini, terlihat jelas rumah-rumah warga berdinding papan berjejer di bantaran sungai. Rumah-rumah itu terlihat kumuh, sangat kontras dengan kejayaan yang tersisa dari reruntungan benteng. Setelah melewati jembatan, saya tiba di pintu gerbang utama benteng yang dulunya sebagai bangunan pertahanan dan pemukiman penjajah ini. Di depan gerbang, tampak sebuah papan peringatan pemerintah yang menyebutkan bangunan tersebut sebagai benda cagar budaya yang dilindungi. Namun sayangnya, papan peringatan merusak banguan bersejarah itu tidak diindahkan pengunjung. Sejumlah coretan tangan jahil, terlihat menghiasi di beberapa sudut benteng.

Dalam catatan sejarah, benteng ini mulanya bekas benteng milik Kesultanan Banten yang dibuat pada masa pemerintahan Sultan Banten Abu Nasr Abdul Qohhar (1672 – 1687). Pada 1685, Kesultanan Banten diserbu penjajah Belanda dan menguasa Banten. Benteng itu kemudian direnovasi di atas reruntuhan sisi sebelah utara tembok keliling kota Banten. Benteng ini dirancang arsitektur yang sudah masuk Islam dan menjadi anggota kesultanan yang bernama Hendrick Lucaszoon Cardeel. Nama Speelwijk yang melekat pada benteng itu untuk menghormati Gubernur Jenderal Speelma. Di dalam benteng ini dahulu terdapat rumah komandan, gereja, kamar senjata, kantor administrasi, toko-toko kompeni, dan kamar dagang. Sebagian tembok yang masih tampak utuh merupakan bastion (ruang pengintai) yang terletak di atas tembok sebelah utara dengan kondisi yang mengkhawatirkan. Meskipun sudah tak utuh lagi, di sejumlah sudut benteng yang berada tak jauh dari bangunan vihara tua ini masih meninggalkan bentuk bangunan yang masih bisa dinikmati. Pada bagian utara, terdapat ruang bawah tanah yang diduga sebagai kamar tahanan khusus dan tahanan biasa. Tembok benteng, diduga mempunyai dua fungsi, yakni sebagai pertahanan dan pemukiman. Dulunya, di sekitar benteng yang melintasi sungai Cibanten ini terdapat tempat penarikan pajak bagi kapal yang singgah di pelabuhan Banten. Namun saat ini, kapal dan tempat penarikan pajak itu sudah tak ada. Yang tersisa saat ini dari Benteng Speelwijk adalah sebuah reruntuhan sisa kejayaan penjajah Belanda dalam menancapkan kekuasaanya di Banten. Sebagian bangunan benteng ini sudah rusak, tanpa ada perhatian dari pihak berwenang. Tapi bagaimanapun kondisinya, bertandang ke peninggalan sejarah ini bisa menambah wawasan pengunjung terhadap sejarah bangsa ini. Lebih enak lagi, bila menikmati reruntahan kejayaan Belanda ini sambil meneguk es kelapa muda atau kopi, yang disajikan dari warung-warung yang ada di pinggir benteng. Selamat berwisata!

Tasikardi, Tempat Rekreasi Keluarga Sultan

25 Jul

Perjalanan wisata kali ini menuju ke Tasikardi. Objek wisata yang masuk ke wilayah Kecamatan Kramatwatu ini merupakan bagian dari rangkaian kunjungan wisata ke situs-situs bersejarah Banten lama. Jika wisatawan hendak Masjid Agung Banten melalui Pasar Lama Serang, maka Tasikardi yg berada di tengah-tengah areal persawahan ini adalah lokasi terakhir yg dilewati, yang kemudian bisa pulang atau keluar dari area wisata lewat Kramatwatu. Tapi jika ingin mampir ke Tasikardi terlebih dahulu dari rangkaian perjalanan wisata sejarah di Banten ini, maka bisa langsung melalui jalur Kramatwatu dan berkeliling hingga pulang ke arah Pasar Lama Serang.
Objek wisata yang berjarak sekitar 6 KM sebelah Barat Kota Serang ini adalah nama sebuah tempat berupa danau atau waduk yg dibuat pada masa Kesultanan Banten, yakni pada masa Sultan Maulana Yusuf. Kawasan wisata berupa danau buatan (tasik=danau kardi=buatan) ini berbentuk melingkar dan di tengahnya terdapat tempat peristirahatan Sultan Banten. Saat ini Tasikardi dijadikan obyek wisata dan termasuk salah satu tempat bersejarah Kawasan Wisata Banten Lama yang cukup ramai dikunjungi wisatawan, terutama pada hari libur. Sejumlah hotel telah memasukan kawasan wisata ini dalam paket wisatanya. Danau dengan luas sekitar 5 hektar yang seluruh dasar alasnya dilapisi dengan ubin bata ini di tengahnya terdapat sebuah “pulau” berbentuk segi empat, yang pada masa kejayaanya dulu digunakan sebagai tempat rekreasi keluarga sultan.
Wisatawan yang hendak menginjakan kaki di pulau buatan ini bisa menempuhnya dengan perahu atau bebek-bebekan yang disewakan pengelola objek wisata ini. Dalam catatan sejarah, pada masa kesultanan air Tasikardi memiliki fungsi ganda. Selain untuk mengairi areal pesawahan yang ada di sekitarnya, air ini juga dimanfaatkan untuk keperluan seisi keraton Surosowon. Air yang dialirkan melalui pipa dari tanah liat ke istana kesultanan di sebelumnya disaring di tempat penyaringan khusus yang dikenal dengan sebutan pengindelan Abang (penyaringan Merah) dan Pengindelan Putih (penyaringan Putih) Untuk bisa masuk Tasikardi, pengunjung perlu merogoh kocek Rp 2.500 per orang. Keunggulan objek wisata ini terletak pada keteduhan lokasinya.
Pohon-pohon rindang di sekeliling danau bisa menjadi pilihan wisatawan untuk tempat berteduh sambil menikmati keindahan danau. Air danaunya juga tidak pernah kering ataupun meluap, sehingga terlihat tenang demgan alur mengikuti arah angin. Untuk tempat duduk, wisatawan bisa memilihnya dengan duduk di bangku-bangku yang ada di beberapa sudut pinggir danau atau menyewa tikar. Lokasi ini cocok untuk tempat wisata keluarga sambil makan bersama, atau untuk kawula muda yang hendak mencari tempat yang romantis.
Namun sayangnya, keindahan objek wisata ini belum ditunjang dengan sarana jalan yang memadai. Sehingga kerusakan jalan menuju ke objek wisata ini bisa mengganggu kenyamanan wisatawan.(*)

Mencari Rhino Di Ujung Kulon

25 Jul

Tawaran untuk mengikuti lokakarya tentang pengelolaan pariwisata berbasis masyarakat dari WWF Indonesia, di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK) Pandeglang, beberapa waktu silam, langsung saya terima. Perjalanan ke TNUK ini dimulai dari Sekretariat WWF Indonesia untuk kawasan Ujung Kulon yang berada di Kecamatan Labuan, Pandeglang. Kami tak perlu lagi izin ke Balai TNUK di Labuan, karena untuk urusan administrasi memasuki kawasan yang dikenal dengan satwa langka badak bercula satu (Rhinoceros Sondaicus) ini sudah diurus WWF, jauh-jauh hari sebelumnya.

Dengan menggunakan mobil operasional WWF, kami menuju Tanjung Lesung, Pandeglang, untuk melanjutkan perjalanan dengan kapal ke TNUK. Sebelum berangkat, kami harus menunggu rombongan dari luar kota yang sama-sama akan mengikuti lokakarya.

Dengan menggunakan perahu wisata berukuran sedang, perjalanan ke kawasan yang sudah menjadi warisan dunia (world heritage) itu dimulai. Perjalanan laut sekitar 3 jam ini menjadi perjalanan wisata yang cukup memesona. Di tengah lautan, kami kerap berpapasan dan saling bertegur sapa dengan para nelayan yang sedang mencari ikan dengan ditingkahi burung-burung yang menukik memangsa ikan-ikan. Sejumlah bagan apung yang menghiasi tengah lautan juga menjadi pemandangan yang cukup menarik. Belum lagi dengan sejumlah pulau-pulau kecil tak berpenghuni yang kerap kami lewat selama perjalanan.

Perahu merapat di dermaga Tamanjaya, Kecamatan Sumur, dengan disambut tarian lesung dari warga setempat. Kelapa muda yang disuguhkan warga untuk rombongan menjadi penghapus dahaga selama perjalanan.

Di perkampungan ini, kami mendapatkan banyak cerita tentang badak bercula satu. Rasa penasaran untuk bertemu dengan ‘Si Rhino’ pun menjadi semakin menggebu. “Ketemua badak itu untung-untungan. Ada wisatawan dari Jepang yang cuma satu hari, bisa bertemy. Tapi ada juga wisatawan yang sudah berbulan-bulan, tapi belum juga bisa bertemu,” ungkap seorang warga.

Kesulitan bertemu dengan binatang berkulit tebal ini memang cukup beralasan. Karena berdasarkan data jejak kaki badak pada 2003, binatang ini hanya berjumlah sekitar 56-60 ekor. Sementara lahan yang konservasi TNUK yang mesti dijelajahi seluas 120.551 Ha. Itu sama saja mencari jarum ditumpukan jerami. Belum lagi dengan sifat badak yang begitu peka dengan bau manusia.

Kesempatan untuk bertemu badak yang sangat kecil, tak memupuskan rombongan untuk menjelajahi kawasan ini. Di Kampung Kiaragondok, Desa Ujung Jaya, rombongan dapat menyaksikan para perajin patung. Di lokasi ini, rombongan terkesima dengan kelihaian warga setempat yang mengukir batangan kayu untuk menjadi souvenir berbentuk badak. Ukurannya pun bermacam-macam, mulai dari sebesar ibu jari untuk gantungan guci hingga seukur tubuh anak kecil untuk hiasan rumah. “Ingin bertemu badak asli, malah cuma ketemu patungnya,” ungkap salah seorang anggota rombongan.

Setelah puas berkeliling di sekitar Desa Ujung Jaya dan Desa Taman Jaya, perjalanan dilanjutkan ke Pulau Peucang. Dengan menggunakan tiga perahu nelayan, rombongan berlayar ke pulau yang termasuk dalam kawasan TNUK ini. Di pulau ini wisatawan disambut sejumlah petugas TNUK yang berjaga di sebuah bangunan tua peninggalan Belanda. Di pulau dengan pasir putih ini, rombongan terkagum-kagum dengan keindahan alamnya. Pasirnya putih dan air laut yang jernih menjadikan kawasan ini seakan sebuah akuarium besar dengan aneka ikannya. Kekaguman rombongan semakin bertambah, ketika memasuki pulau ini. Di sekitar pos penjagaan, tampak beberapa ekor kijang bermain bebas. Bahkan ada beberapa di antaranya yang bermain di pinggir pantai.

Setelah puas menjelajahi Pulau Peucang dan membeli cinderamata, perjalanan dilanjutkan menuju Pulau Handeuleum. Di pulau ini, rombongan menyusuri sungai yang membelah pulau dengan perahu dayung. Warga setempat dan penjaga TNUK yang memandu perjalanan menceritakan, badak bercula satu kerap terlihat di sekitar sungai itu untuk mencari minum. Keterangan ini menambah semangat rombongan untuk menjelajahi sungai ini. Namun sayang, selama perjalanan tak tampak seekor pun badak yang mencari minum di pinggir sungai. Di sepanjang sungai ini hanya ditemukan monyet, beragam jenis burung, dan sejumlah binatang melata yang bergelantungan di dahan-dahan pohon. Bahkan untuk buaya pun hanya tinggal jejaknya saja. (*)

Gedung Tua Sebagai Objek Wisata

25 Jul

Pusat kota di Kabupaten Serang merupakan kota tua yang dibangun kolonial Belanda. Nina Lubis dalam bukunya berjudul Banten dalam Pergumulan Sejarah menyebutkan, pusat kota Serang dibangun setelah Kesultanan Banten dibumihanguskan penjajah Belanda dengan dibakarnya Keraton Surosowan oleh Gubernur Jendral Daendels pada 1808. Serang ditetapkan menjadi kawasan landrosambt (semacam pengawas) yang mencakup tiga daerah setingkat Kabupaten, yakni Banten Hulu, Banten Hilir, dan Anyer. Konon, dalam pembangunan kota ini, para penjajah memanfaatkan sisa bahan bangunan kesultanan Banten, seperti dari sisa-sisa Keraton Surosowan dan Kaibon. Para penjajah ini mengangkuti sisa bahan bangunan untuk kantor pemerintahan mereka.

Penataan kota dan pembangunan gedung kolonial dimulau sejak Belanda menempatkan residen pertama J De Bruijn WD pada 1817. Hingga kini sisa-sia bangunan kolonial itu masih ada yang tersisa di sejumlah titik di Serang. Walaupun tak sedikit yang sudah diratakan dan berganti dengan bangunan baru. Salah satu bangunan yang sudah hancur adalah bangunan milik Smitt Voss yang dijadikan mes tentara Jepang yang kini berganti menjadi pusat perbelanjaan. Bangunan itu direbut pejuang dan menjadi markas Tentara Pelajar, Tentara Putri, dan Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai cikal bakal TNI. Bangunan tersebut juga menjadi saksi gugurnya pahlawan-pahlawan Serang, seperti Zamachsyari, Kadir, pada pertempuran 19 Desember 1948. Sedangkan bangunan yang tersisa kini sebagian besar dimanfaatkan untuk kantor-kantor pemerintahan. Bangunan tua itu didominasi di sekitar alun-alun Serang, seperti kantor Pemprov Banten, pendopo Pemkab Serang, dan Gedung Joeang 45 yang dulunya merupakan markas kempetai.

Selain gedung-gedung megah berarsitek indis, gedung tua peninggalan Belanda di sekitar alun-alun juga bertebaran di kawasan kota lama Kaujon. Gedung tua juga tampak di sejumlah titik kota Serang lainnya, seperti Markas Korem Maulana Yusuf Banten (bangunan ini dulunya adalah Noormale School), dan Mapolres Serang (dulu Gedung Osvia).

Bangunan peninggalan penjajah tersebut memiliki ciri khas berdinding tebal. Jendela dan pintu bangunan itu juga berukuran lebih lebar dan banyak dibandingkan rumah pribumi. Hal ini dibuat untuk memperlancar ventilasi dan sirkulasi udara ke dalam gedung. Gedung-gedung tua itu sangat disayangkan kalau hanya menjadi materi mati. Bangunan bersejarah yang dilindungi undang-undang sebagai benda cagar budaya itu sebenarnya bisa juga dimanfaatkan masyarakat luas menjadi salah satu objek wisata. Sehingga wisatawan yang dating ke Kabupaten Serang tak hanya disuguhi keindahan alam pantainya, tapi juga diberi alternatif pilihan berwisata.

Dari gedung-gedung tua itu, wisatawan tak hanya dibuat kagum dengan arsitektur bangunan tua peninggalan kolonial yang tampak gagah, yapi juga bisa mendapatkan nukilan sejarah masa lalu kota Serang. Namun tentu saja, tak mudah untuk mewujudkan bangunan tua itu sebagai salah satu tujuan (destination) wisata kota Serang. Perlu ada sinergi dari semua pihak untuk memanfaatkan banguan tua itu bagi perkembangan wisata perkotaan. Pemerintah harus gencar mempromosikannya kepada wisatawan dan melakukan pendataan bangunan tua berikut sejarah-sejarahnya. Dengan demikian, diharapkan semua pihak bisa terlibat untuk menjaga dan melestarikan bangunan bersejarah. Dan generasi kita mendatang tak kehilangan sejarah kotanya sendiri. (*)

Sajadah

25 Jul

ada sajadah yang tiba-tiba basah

pada subuh yang resah

Seperti juga pagi ini

burung-burung mesti pergi lebih dini

dan tak pasti kapan kembali

pun demikian dengan mu

yang menjadi embun di pucuk rindu

hanya bisa menghamba saja.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.